Suaka Margasatwa Ko’mara: Ada Monyet Dare hingga Hutan Penjaga Air yang Wajib Dijaga
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 54 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Suaka Margasatwa Ko’mara bukan saja rumah bagi monyet dare dan beragam flora khas Sulawesi, kawasan konservasi ini juga berperan menjaga fungsi tata air serta menjadi penyangga kehidupan masyarakat di sekitar Gowa-Takalar.
Di kawasan hutan seluas sekitar 2.972 hektare ini, berbagai kekayaan hayati masih menjadi bagian penting dari ekosistem Sulawesi. Keberadaan satwa endemik seperti monyet dare (Macaca maura), serta tumbuhan khas seperti eboni (Diospyros celebica), cenrana (Pterocarpus indicus), aren (Arenga pinnata), dan berbagai jenis bambu menunjukkan tingginya nilai konservasi Suaka Margasatwa Ko’mara.
Untuk mengetahui kondisi terkini kawasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan bersama petugas Resor Ko’mara, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, dan Masyarakat Mitra Polhut melakukan inventarisasi tumbuhan dan satwa liar pada 29 -31 Juli 2026.
Inventarisasi tersebut dilakukan untuk memperbarui data keanekaragaman hayati, melihat kondisi habitat, serta menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan kawasan konservasi yang lebih tepat. Data lapangan diperlukan agar upaya perlindungan, pemulihan ekosistem, dan pemantauan satwa dapat dilakukan sesuai kondisi sebenarnya.
Dalam kegiatan ini, tim menemukan sejumlah satwa yang menunjukkan keberagaman hayati kawasan, mulai dari monyet dare yang merupakan satwa endemik Sulawesi, jejak babi hutan, berbagai jenis burung, kupu-kupu, hingga satwa lainnya.
Kepala Bidang KSDA Wilayah II BBKSDA Sulawesi Selatan, Mustari Tepu, menjelaskan inventarisasi tumbuhan dan satwa liar menjadi langkah penting untuk memperoleh data dasar, memetakan kondisi habitat, serta mendukung penyusunan rencana pengelolaan kawasan yang efektif dan berkelanjutan.
Menurutnya, kerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya konservasi. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya membantu proses pengumpulan data, tetapi juga memberikan pengalaman lapangan bagi generasi muda dalam memahami pengelolaan hutan berbasis ilmu pengetahuan.
Selain kegiatan inventarisasi, upaya konservasi juga dikenalkan kepada masyarakat melalui sosialisasi di SDN Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. Para siswa diperkenalkan dengan peran Suaka Margasatwa Ko’mara sebagai habitat flora dan fauna, sumber plasma nutfah, daerah tangkapan air, serta kawasan yang membantu menjaga keseimbangan lingkungan.
Keberadaan Suaka Margasatwa Ko’mara bagi masyarakat setempat, memiliki manfaat yang lebih luas. Kawasan ini membantu menjaga tata air, mendukung kebutuhan masyarakat, serta menjadi pelindung alami dari risiko banjir, longsor, dan dampak perubahan iklim.
Anggota Masyarakat Mitra Polhut, Daeng Talli, berharap kelestarian Suaka Margasatwa Ko’mara dapat terus dipertahankan melalui kerja sama antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dan berbagai pihak lainnya.
Dengan pengelolaan berbasis data dan kolaborasi multipihak, Suaka Margasatwa Ko’mara diharapkan tetap menjadi kawasan yang mampu melindungi keanekaragaman hayati Sulawesi sekaligus menjaga manfaat ekologis bagi masyarakat Gowa-Takalar. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
