Merapi “Bicara”, Tapi Bukan Lewat Erupsi: Ada Ide Anak Muda DIY
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 49 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Merapi biasanya bicara lewat erupsi, guguran lava, dan ancaman lahar dingin. Kali ini berbeda. Gunung yang menjadi ikon Yogyakarta itu justru “bicara” lewat ide anak-anak muda yang ingin mengubah cara wisatawan mengenal Merapi.
Bukan hanya datang, mengambil foto, menikmati pemandangan, lalu pulang. Anak-anak muda di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggagas Merapi Smart Tourism Board, sebuah media informasi yang memadukan peta kawasan, sejarah, destinasi wisata, kebutuhan wisatawan, karakter animasi, video hingga QR code.
Konsepnya sederhana, tetapi membawa pesan yang lebih besar, wisatawan diajak mengenal Merapi sebelum ikut menjaganya.
Melalui media tersebut, informasi tentang lokasi wisata tidak berdiri sendiri. Sejarah kawasan dan pesan mengenai pentingnya menjaga ekosistem Merapi ikut ditempatkan dalam pengalaman wisata.
Gagasan ini lahir dalam rangkaian Forest Youthverse Resilience Summit Wilayah DIY yang digelar Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan P2SDM, bersama Balai Perhutanan Sosial Yogyakarta.
Kegiatan mengusung tema “Forest Guardians of Merapi: Youth in Action Against Cold Lava Floods” dan mengajak peserta memahami kondisi ekosistem lereng Merapi sekaligus ancaman bencana ekologis, terutama lahar dingin.
Namun, anak muda yang terlibat tidak berhenti pada pembahasan mengenai ancaman.
Pada hari kedua, mereka ditantang mengubah pengetahuan tentang Merapi menjadi gagasan yang bisa digunakan dan dirasakan masyarakat. Dari proses itulah Merapi Smart Tourism Board muncul sebagai salah satu inovasi.
Mengenal ekosistem disekitar Merapi
Menariknya, ide tersebut tidak dikerjakan dari satu sudut pandang.
Genries DIY, Gayatri, mengatakan pengembangannya melibatkan peserta dengan latar belakang berbeda, mulai dari pertanahan, pariwisata, psikologi, animasi hingga broadcasting.
“Keunggulan Merapi Smart Tourism Board ada pada kolaborasinya. Kami tidak hanya membuat peta atau media informasi, tetapi mencoba melihat kebutuhan wisatawan dari berbagai sisi, mulai dari informasi lokasi, sejarah, pengalaman berwisata, sampai bagaimana informasi tersebut dikemas agar menarik dan mudah diakses,” ujar Gayatri.
Menurutnya, wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk menikmati panorama Merapi.
Mereka juga bisa mengenal sejarah kawasan dan memahami alasan ekosistem di sekitar Merapi harus tetap dijaga.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo.
Ia menilai perpaduan informasi, teknologi, kreativitas, dan kebutuhan wisatawan menunjukkan perspektif baru generasi muda dalam memperkenalkan sekaligus mendukung pelestarian kawasan Merapi.
Kepala Pusgenri Luckmi Purwandari dalam keterangan rilis dilaman resmi kehutanan. juga menegaskan pentingnya memberi ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran nyata sebagai penjaga kawasan Merapi.
“Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi Forest Guardians of Merapi. Kita tidak hanya mendorong mereka untuk memahami ekosistem, tetapi juga membekali mereka untuk melahirkan solusi nyata dan aksi kolaboratif dalam menghadapi ancaman bencana lahar dingin,” ujar Luckmi.
Forest Youthverse Resilience Summit akhirnya bukan sekadar ruang untuk membicarakan ancaman lahar dingin.
Di tangan peserta, isu Merapi berkembang menjadi gagasan yang mempertemukan lingkungan, sejarah, wisata, teknologi, dan kreativitas.
Sebab, menjaga Merapi tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Kadang, langkah pertamanya justru membuat orang yang datang ke sana berhenti sejenak, mengenal ceritanya, memahami lingkungannya, lalu sadar Merapi itu bukan hanya pemandangan untuk di foto. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
