Hotspot Nasional Meledak 1.437 Titik, Sumsel Sumbang 116 Hotspot
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- visibility 29
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hotspot high confidence nasional naik dari 592 menjadi 1.437 titik dalam sehari, Sumatera Selatan menyumbang 116 hotspot, melonjak dari 49 titik pada pemantauan sebelumnya.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 itu tercatat hingga Senin (14/9/2026) pukul 21.05 WIB.
Lonjakan hotspot tersebut terjadi saat penanganan karhutla di Sumsel masih menyisakan 84,25 hektare area terbakar yang belum tuntas dipadamkan.
Dari total estimasi 404,22 hektare lahan terbakar, tim gabungan telah memadamkan 319,97 hektare. Rinciannya, pemadaman melalui Satgas Darat mencapai 289,97 hektare dan Satgas Udara melalui water bombing 30 hektare.
Sisa 84,25 hektare itu ditargetkan selesai dipadamkan pada Selasa (15/9/2026).
Kondisi tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Perkembangan Penanganan dan Penanggulangan Karhutla yang diikuti Sekretaris Daerah (Sekda) Sumatera Selatan, H. Edward Candra, secara virtual, Selasa (15/9/2026).
Rakor dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) RI, Djamari Chaniago. Ia meminta seluruh instansi memastikan data karhutla akurat dan konsisten agar perkembangan penanganan dapat diketahui publik.
Secara nasional, Kalimantan Tengah mencatat hotspot terbanyak dengan 689 titik. Berikutnya Kalimantan Barat 203 titik, Sumsel 116 titik, dan Kalimantan Selatan 112 titik.
Jambi mencatat sembilan hotspot, turun dari 17 titik. Sedangkan Riau masih nihil hotspot high confidence.
Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Titik tersebut tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran sehingga tetap harus diverifikasi melalui groundcheck.
Risiko karhutla masih tinggi karena kondisi Indonesia relatif kering. BMKG mencatat 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau pada periode 15-21 September.
Sebanyak 1.637 titik pengamatan juga mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut.
Citra Satelit Himawari-9 pada 14 September turut menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
Pemerintah tetap mengerahkan kekuatan darat dan udara. Sebanyak 53 armada udara disiagakan di enam provinsi prioritas, terdiri dari 34 armada water bombing dan 19 armada untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan unsur terkait terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan api, pembasahan hingga pendinginan.
Operasi udara juga diperkuat tiga helikopter CH-47 Chinook dari Pemerintah Jepang. Kementerian Pertahanan, TNI dan delegasi Jepang telah membahas kesiapan operasi di Lanud Supadio, Kalimantan Barat.
Di Sumsel, perhatian kini tertuju pada sisa 84,25 hektare area terbakar. Targetnya jelas pemadaman dituntaskan di tengah kenaikan hotspot yang mencapai lebih dari dua kali lipat dalam sehari.
Pemerintah kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Dugaan pembakaran sengaja juga akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
