Gajah Diego PLG Minas Meninggal Mendadak, Padahal Sempat Kembali Lahap Makan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 18 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Kabar duka datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Riau. Diego, gajah Sumatera jantan yang selama ini menjadi salah satu gajah binaan di kawasan tersebut, mati pada Rabu, 16 September 2026.
Diego mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 12.00 WIB, saat tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau tengah melakukan penanganan terhadap kondisinya yang kembali menurun.
Kepergian Diego terasa mengejutkan karena beberapa hari sebelumnya kondisinya sempat menunjukkan perkembangan positif.
Gangguan kesehatan mulai terlihat pada 10 September 2026. Saat itu Diego mengalami diare dan nafsu makannya berkurang. Tim medis BBKSDA Riau kemudian melakukan pemeriksaan dan menemukan adanya cacing pada kotorannya.
Diego pun langsung mendapat penanganan, mulai dari obat cacing, antibiotik hingga obat antiradang dan antiinflamasi.
Perawatan intensif yang diberikan sempat membuahkan hasil. Nafsu makan Diego kembali meningkat dan bentuk kotorannya mulai membaik.
Pemeriksaan feses kemudian dilakukan di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru. Hasilnya, sampel tersebut dinyatakan negatif dari cacing.
Namun, kondisi Diego kembali berubah beberapa hari kemudian.
Pada 15 September, mahout melaporkan Diego dalam keadaan sakit. Kali ini kondisinya lebih berat. Ia tidak mau makan sama sekali dan mengalami diare dengan frekuensi cukup sering. Kotoran yang keluar hanya berupa cairan.
Asupan airnya juga sangat minim.
Dalam sehari, Diego tercatat hanya minum sekitar lima tegukan pada pagi hari, tiga tegukan saat akan diberikan obat pada siang hari, dan satu tegukan ketika dimandikan pada sore hari.
Melihat kondisi tersebut, tim medis kembali melakukan penanganan. Diego diberikan cairan infus, vitamin, serta obat antiradang dan antiinflamasi. Tim juga mengambil sampel feses untuk pemeriksaan parasit.
Perawatan kemudian dilanjutkan pada 16 September.
Tim medis berencana mengambil sampel darah sekaligus memberikan cairan infus dan obat-obatan lanjutan. Tetapi situasi berubah dengan cepat.
Saat hendak mendapat penanganan hari kedua, Diego tiba-tiba terduduk dan kemudian tumbang.
Tak lama setelah itu, tanda-tanda vitalnya hilang. Diego dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB.
Diduga akibat infeksi saluran pencernaan
Setelah kematian Diego, tim melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebabnya.
Dari pemeriksaan tersebut, kematian Diego diduga berkaitan dengan infeksi saluran pencernaan yang berlangsung secara kronis.
Meski demikian, diagnosis tersebut masih perlu diteguhkan melalui pemeriksaan laboratorium. Tim medis mengambil sejumlah sampel organ untuk diperiksa lebih lanjut.
Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Diego kemudian dikuburkan sesuai prosedur yang berlaku.
Lahir dan besar di PLG Minas
Diego bukan gajah yang baru berada di PLG Minas. Ia lahir di sana pada 3 September 2009 dari induk betina Vera dan pejantan Reno.
Selama 17 tahun hidupnya, Diego menjadi salah satu gajah binaan yang memiliki peran dalam menyambut pengunjung di PLG Minas.
Kini, gajah jantan tersebut telah tiada.
Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menyampaikan apresiasi kepada dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah terlibat dalam penanganan Diego selama masa perawatan.
Upaya penyelamatan dilakukan sejak kondisi Diego pertama kali menurun hingga penanganan terakhir sebelum akhirnya dinyatakan mati.
BBKSDA Riau juga mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap keberlangsungan gajah Sumatera. Perlindungan habitat, pencegahan konflik manusia dan satwa liar, serta dukungan terhadap program konservasi menjadi bagian penting untuk menjaga keberadaan satwa tersebut. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
