Hotspot Karhutla Naik, Tapi 2 Wilayah Ini Justru Turun Drastis
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 21 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Hotspot karhutla secara nasional kembali bertambah. Namun, perkembangan kebakaran hutan dan lahan justru menunjukkan kabar berbeda di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar), yang mengalami penurunan hotspot secara tajam.
Data terbaru SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 592 hotspot karhutla dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) hingga Minggu (13/9/2026) pukul 21.20 WIB. Sehari sebelumnya, jumlahnya tercatat 567 titik.
Kenaikan secara nasional itu tidak terjadi merata.
Di Kalteng, hotspot high confidence turun dari 197 menjadi 89 titik. Sementara di Kalbar, penurunannya jauh lebih tajam, dari 91 titik menjadi hanya 14 titik.
Perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan positif dalam pengendalian karhutla, meski pemerintah masih belum menganggap situasi aman.
Pasalnya, kondisi di sejumlah wilayah justru bergerak sebaliknya.
Hotspot di Kalimantan Selatan meningkat dari 7 menjadi 28 titik. Jambi yang sehari sebelumnya tidak mencatat hotspot high confidence kini terdeteksi 17 titik.
Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot juga masih cukup tinggi meski turun dari 62 menjadi 49 titik.
Sementara Riau masih mencatat nol hotspot high confidence.
Hotspot Bukan Berarti Api Sudah Padam
Angka satelit memang menjadi salah satu indikator penting dalam memantau perkembangan karhutla. Namun, pemerintah mengingatkan bahwa hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah titik kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi.
Karena itu, setiap hotspot tetap perlu diperiksa di lapangan.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah dan unsur lainnya masih melakukan patroli serta groundcheck untuk memastikan apakah indikasi dari satelit benar-benar berkaitan dengan kebakaran.
Penanganan juga tidak berhenti setelah api terlihat padam.
Petugas melakukan pemadaman langsung, penyekatan agar api tidak menjalar, mopping up dan pendinginan. Langkah ini menjadi semakin penting ketika kebakaran terjadi di lahan gambut.
Di lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Itu sebabnya, penurunan hotspot karhutla belum bisa dijadikan tanda bahwa seluruh kebakaran telah selesai.
Pemadaman di Sumsel Masih Berlangsung
Salah satu gambaran kondisi tersebut terlihat di Sumatera Selatan.
Hingga 13 September, Manggala Agni masih melakukan pemadaman di salah satu lokasi karhutla yang telah memasuki hari kedelapan.
Satgas gabungan juga memperkuat penanganan kebakaran lahan gambut sekaligus menjaga kawasan konservasi agar tidak terdampak lebih luas.
Situasi ini menunjukkan adanya jarak antara data satelit dan kondisi aktual di lapangan. Hotspot dapat turun ketika kondisi tertentu berubah, tetapi bara dan titik api yang sudah ditemukan tetap harus ditangani sampai benar-benar aman.
53 Armada Udara Masih Disiagakan
Pemerintah belum mengendurkan operasi udara.
Sebanyak 53 armada udara disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada digunakan untuk water bombing, sedangkan 19 lainnya menjalankan patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kekuatan operasi bertambah setelah Pemerintah Jepang mengirimkan tiga helikopter CH-47 Chinook ke Kalimantan Barat.
Helikopter tersebut dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing dan nantinya terintegrasi dengan operasi penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah Indonesia.
Selain pemadaman dari udara, pemerintah juga berupaya mengurangi risiko kebakaran melalui OMC, terutama untuk membantu pembasahan wilayah gambut.
Di Kalbar, OMC Kementerian Kehutanan hingga 11 September telah menjalankan sembilan sortie dengan menggunakan 7.200 kilogram NaCl.
Operasi tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 87,9 juta meter kubik air hujan.
Sementara di Kalteng, tujuh sortie dilakukan dengan menggunakan 5.600 kilogram NaCl. Estimasi volume air hujan yang dihasilkan mencapai 22,9 juta meter kubik.
Asap Karhutla Masih Perlu Diwaspadai
Persoalan karhutla juga belum selesai jika dilihat dari kondisi udara.
Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Di sejumlah bagian Kalimantan, kualitas udara bahkan terpantau berada dalam kategori berbahaya.
BMKG juga masih menemukan kondisi udara kabur di beberapa daerah.
Di Pontianak, jarak pandang pada dini hari 13 September sekitar 3 kilometer. Sedangkan di Banjarmasin, jarak pandang berada di sekitar 2 kilometer.
Kondisi serupa terlihat di Sumatera Selatan. Di wilayah Tanjung Api-Api, jarak pandang pada dini hingga pagi hari sempat berada di kisaran 2-4 kilometer.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa dampak asap karhutla dan partikulat masih perlu diwaspadai meski jumlah hotspot dapat berubah setiap hari.
Presiden Minta Karhutla Ditangani Sejak Dini
Pengendalian karhutla juga terus diperkuat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah diminta tidak menunggu hotspot berkembang menjadi kebakaran besar. Setiap indikasi harus segera ditindaklanjuti, termasuk melalui patroli, verifikasi lapangan dan pemadaman sedini mungkin.
Edukasi masyarakat hingga tingkat desa juga menjadi bagian dari pencegahan. Penegakan hukum terhadap pembakaran lahan secara sengaja, termasuk jika melibatkan korporasi, juga ditekankan.
Di tengah kondisi kemarau, kombinasi lahan kering, suhu tinggi dan vegetasi yang mudah terbakar masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Jika menemukan asap, titik api atau aktivitas pembakaran, warga diimbau segera melapor agar petugas dapat bergerak sebelum kebakaran hutan dan lahan meluas.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan kualitas udara buruk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Penggunaan masker juga dianjurkan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil dan kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
