Karhutla Sebangau, Menhut Kerahkan Ekskavator Putus Kepala Api
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 22 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Kehutanan mengarahkan upaya pada pemutusan sumber penyebaran api dengan dukungan alat berat dan pembangunan sumur bor menyusul penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, tak hanya berfokus pada titik api yang sudah muncul.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, strategi tersebut ditempuh untuk menekan risiko kebakaran meluas di tengah kondisi cuaca yang belum mendukung pemadaman secara optimal.
Pemerintah berencana menambah sekitar empat hingga lima ekskavator untuk membantu penyekatan api. Selain itu, sekitar 30 sumur bor tambahan akan disiapkan, dengan penempatan pada titik-titik kepala api.
“Jadi bukan lagi hanya sekadar memadamkan di titik-titik api yang ada, tapi sekarang kita coba memutus kepala apinya,” kata Raja Juli dilaman resmi kehutanan saat meninjau pengendalian karhutla di Taman Nasional Sebangau, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, pendekatan tersebut ditujukan untuk menghadapi arah penyebaran api, bukan sekadar mengejar titik kebakaran yang sudah terbentuk. Pelaksanaannya tetap memiliki risiko dan membutuhkan perhitungan di lapangan.
Upaya pemadaman menghadapi tantangan tersendiri. Raja Juli menyebut helikopter yang tersedia di Kalimantan Tengah belum dapat dikerahkan untuk pengeboman air atau water bombing ketika jarak pandang tidak memungkinkan penerbangan.
Pemerintah, kata dia, akan memanfaatkan peluang penerbangan ketika kondisi memungkinkan. Sementara itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) tetap dijalankan dengan menyemai bibit awan yang tersedia untuk membantu meningkatkan kelembapan.
Raja Juli juga mengingatkan bahwa berdasarkan informasi BMKG yang disampaikannya, hujan alami di Kalimantan Tengah diperkirakan baru turun menjelang November. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla perlu mengandalkan berbagai langkah secara bersamaan. Pemerintah pun tidak hanya mengandalkan pemadaman dari udara, tetapi juga memperkuat penanganan di darat melalui koordinasi antarpersonel dan penyiapan sarana pendukung.
Raja Juli menyatakan pemerintah memahami dampak asap yang dirasakan masyarakat selama sekitar tiga bulan terakhir.
Ia menegaskan pemerintah pusat dan daerah tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Kritik yang muncul dari masyarakat, termasuk melalui media sosial dan media massa, disebut akan menjadi bahan evaluasi dalam penanganan karhutla. “Kami dari pemerintah, pusat maupun daerah, mempunyai empati yang sangat dalam terhadap masyarakat yang memang tiga bulan terakhir ini terpapar oleh asap,” ujarnya.
Raja Juli juga mengapresiasi personel yang masih bekerja di lapangan, termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri, dan Manggala Agni Kementerian Kehutanan.
Ia menggambarkan para petugas menghadapi kondisi berat selama menjalankan tugas pemadaman. Menurut dia, upaya di lapangan membutuhkan strategi, tenaga, dan perhitungan risiko yang tidak sederhana.
Ia meminta masyarakat tetap menyampaikan kritik dan evaluasi agar penanganan kebakaran dapat terus diperbaiki. “Kritik itu adalah vitamin, obat untuk memotivasi kami untuk bekerja lebih keras,” katanya.
Raja Juli menegaskan pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Di tengah keterbatasan cuaca dan tantangan pemadaman, pemerintah menyatakan akan melanjutkan berbagai upaya untuk menekan penyebaran api dan mengurangi dampak kebakaran terhadap masyarakat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
