Karhutla Sumsel: Hotspot Naik dari 46 Jadi 104 Titik, BNPB Kembali Kerahkan OMC
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Lonjakan titik panas kembali menjadi perhatian di Sumatera Selatan (Sumsel), data satelit NASA NOAA20 mencatat jumlah hotspot di wilayah tersebut meningkat dari 46 titik pada 2 Agustus 2026 menjadi 104 titik pada 3 Agustus 2026. Kenaikan ini menjadi sinyal meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta potensi munculnya kabut asap saat musim kemarau masih berlangsung.
Peningkatan hotspot tersebut membuat penanganan karhutla di Sumsel kembali diperkuat lagi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaktifkan kembali operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan tujuan membantu penanganan kondisi darurat asap akibat karhutla di wilayah tersebut.
Operasi ini berlangsung selama tujuh hari, mulai 4 hingga 10 Agustus 2026, sebelumnya, BNPB juga telah melaksanakan OMC di Sumsel pada 5-14 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi Sumsel menjadi perhatian, karena wilayah ini termasuk salah satu dari enam provinsi prioritas penanganan karhutla nasional. Salah satu tantangan terbesar berada pada kawasan lahan gambut yang memiliki karakteristik mudah terbakar dan sulit dipadamkan apabila api sudah meluas.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan pelaksanaan OMC dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo untuk menghadapi potensi dampak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino. Pemerintah diminta mengambil langkah strategis, terutama dalam menjaga ketersediaan air dan mencegah meluasnya kebakaran hutan serta lahan.
Menurut Suharyanto, OMC kembali dilakukan di Sumsel, karena masih terdapat potensi awan yang dapat disemai berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Pada tanggal 28 Juli 2026, Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih, termasuk BNPB. Salah satu arahan Presiden adalah tetap melaksanakan OMC di enam provinsi prioritas,” ujar Suharyanto.
Dalam pelaksanaan OMC kali ini, pesawat yang digunakan BNPB melalui pihak ketiga beroperasi dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Kegiatan ini mendapat dukungan dari TNI AU, BMKG, serta BPBD Provinsi Sumsel
Pada hari pertama operasi, Selasa (4/8), BNPB melaksanakan satu sorti penerbangan dengan membawa 1.000 kilogram bahan semai. Penyemaian dilakukan di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Dari operasi tersebut, hujan dengan intensitas ringan berhasil terjadi di wilayah sasaran.
Selain penanganan melalui teknologi modifikasi cuaca, pemerintah juga menyoroti pentingnya pencegahan dini. Ancaman karhutla dinilai dapat meningkat apabila kondisi kering terus berlanjut, terutama di wilayah dengan dominasi lahan gambut.
Gubernur Sumsel, sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla mulai 22 April hingga 30 November 2026. Penetapan status tersebut juga menjadi dasar penguatan koordinasi dan permintaan dukungan OMC kepada BNPB.
Menghadapi potensi peningkatan karhutla selama musim kemarau, BNPB kembali mengingatkan pemerintah daerah, masyarakat, serta pelaku usaha kehutanan dan pertanian agar memperkuat upaya pencegahan. Pengendalian api sejak dini dinilai menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana asap yang lebih luas. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
