Ikan Purba Coelacanth Ditemukan di Pulau Talise, 18 Ekor Ungkap Fakta Baru Habitatnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Senin, 27 Jul 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : brin
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Penemuan 18 ekor ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara, membuka babak baru dalam penelitian spesies laut langka yang telah bertahan sejak sekitar 400 juta tahun lalu. Jumlah individu yang berhasil didokumentasikan tersebut menjadi salah satu temuan terbesar di Indonesia dan memperkuat dugaan bahwa Pulau Talise merupakan habitat penting bagi kelangsungan hidup Coelacanth.
Temuan terbaru ini juga memberikan dasar ilmiah yang semakin kuat bagi upaya konservasi laut di Indonesia. Selain melindungi spesies langka, hasil penelitian diharapkan menjadi pijakan dalam menjaga ekosistem laut dalam yang masih menyimpan banyak misteri.
Pulau Talise Dinilai Cocok sebagai Habitat Coelacanth
Para peneliti menemukan bahwa kondisi perairan Pulau Talise memiliki karakteristik yang mendukung kehidupan Coelacanth. Salah satu buktinya adalah keberhasilan mendokumentasikan 11 ekor Coelacanth hidup di dalam satu gua bawah laut, jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan survei sebelumnya.
Lokasi yang sama pernah diteliti pada 2009, namun saat itu hanya ditemukan empat individu. Peningkatan jumlah temuan dalam ekspedisi terbaru menunjukkan kawasan tersebut kemungkinan menjadi salah satu tempat berlindung sekaligus habitat utama ikan purba tersebut.
Ekspedisi ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), OceanX, dan NHK yang kembali mengeksplorasi gua bawah laut di Pulau Talise.
Penelitian Lebih dari Dua Dekade Terus Mengungkap Misteri Coelacanth
Riset mengenai Coelacanth di Indonesia telah dimulai sejak 2004. Selama lebih dari 20 tahun, para ilmuwan terus mempelajari persebaran, perilaku, hingga karakter biologis spesies yang sering dijuluki sebagai ikan fosil hidup.
Hingga saat ini, sedikitnya 52 individu Coelacanth telah berhasil diidentifikasi di berbagai wilayah perairan Indonesia. Selain itu, tim peneliti juga mendokumentasikan empat individu lainnya di Afrika Selatan melalui kerja sama internasional.
Data tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam upaya penelitian dan pelestarian Coelacanth di tingkat global.
Ikan Muda dan 22 Telur Jadi Petunjuk Penting
Selain menemukan kelompok Coelacanth di Pulau Talise, peneliti juga berhasil mendokumentasikan seekor Coelacanth juvenil sepanjang sekitar 26 sentimeter di Teluk Amurang.
Keberadaan ikan berusia muda itu memberikan informasi baru mengenai proses regenerasi populasi Coelacanth yang selama ini masih sedikit dipahami.
Penelitian juga memanfaatkan teknologi CT Scan terhadap salah satu spesimen. Dari hasil pemindaian tersebut, ilmuwan menemukan 22 butir telur di dalam tubuh ikan, memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai sistem reproduksi spesies purba ini.
Sementara itu, teknologi environmental DNA (eDNA) turut digunakan untuk mendeteksi keberadaan Coelacanth melalui jejak materi genetik yang terdapat di lingkungan perairan. Pendekatan ini membantu peneliti mengidentifikasi habitat tanpa harus selalu bertemu langsung dengan ikan tersebut.
Habitat Coelacanth di Indonesia Tersebar di Sejumlah Wilayah
Hasil penelitian menunjukkan habitat Coelacanth di Indonesia tidak hanya berada di Pulau Talise. Spesies ini juga telah teridentifikasi di sejumlah wilayah lain, mulai dari Biak di Papua hingga Buol, Sulawesi Tengah.
Luasnya sebaran tersebut memperlihatkan bahwa perairan Indonesia menjadi salah satu kawasan penting bagi keberlangsungan hidup Coelacanth, yang populasinya sangat terbatas di dunia.
Hasil Riset Jadi Dasar Penguatan Konservasi
Temuan terbaru mengenai Coelacanth tidak hanya menambah pengetahuan ilmiah, tetapi juga memperkuat rencana pembentukan kawasan konservasi di Pulau Talise.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama BRIN dan Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah menyiapkan penetapan kawasan konservasi yang difokuskan untuk melindungi habitat alami Coelacanth.
Ke depan, kawasan tersebut juga diproyeksikan mendukung pengembangan penelitian, pendidikan, serta ekowisata berbasis konservasi.
Setelah proses penetapan kawasan konservasi nasional rampung, habitat Coelacanth di Pulau Talise direncanakan akan diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Lokasinya yang berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) semakin menambah nilai penting wilayah tersebut sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Penemuan 18 ekor ikan purba Coelacanth di Pulau Talise menjadi bukti bahwa laut Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Bagi para peneliti, setiap temuan baru tidak hanya membantu mengungkap kehidupan salah satu spesies laut tertua di bumi, tetapi juga menjadi dasar penting dalam menyusun langkah-langkah konservasi agar Coelacanth tetap lestari di habitat alaminya. (***)/brin
- Penulis: Irwan Wahyudi
