Selasa, 18 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kebijakan » “Negara Bisa Jebol Bukan dari Tank, Tapi dari Colokan USB, Saatnya Jaga Kedaulatan Digital Pakai Otak, Bukan Sekadar Otot”

“Negara Bisa Jebol Bukan dari Tank, Tapi dari Colokan USB, Saatnya Jaga Kedaulatan Digital Pakai Otak, Bukan Sekadar Otot”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
  • visibility 851
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Di zaman kakek-nenek kita dulu, ancaman datang dari tentara asing, penjajah, atau kalau sedang sial, maling kambing tetangga. Sekarang? Musuh bisa datang dari kolong meja, dari kabel internet, bahkan dari handphone yang terlalu murah untuk dibeli tapi terlalu mahal risikonya jika bocor datanya.

Di sinilah letak tantangan bangsa hari ini, kedaulatan kita tak lagi hanya dijaga oleh tentara di pos perbatasan, tapi juga oleh siapa saja yang pegang gawai dan paham mana tautan yang benar, mana jebakan Batman.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dalam kuliah umum di Lemhannas RI, belum lama ini, tampil seperti seorang komandan siber di tengah hutan belantara digital. Ia menyatakan dengan lantang “Ruang siber adalah jantung pertahanan baru bangsa, menjaganya berarti menjaga masa depan Indonesia”. Bukan lebay, bukan hiperbola. Memang benar hari ini perang tak perlu peluru, cukup paket data dan niat jahat dari luar negeri.

Bayangkan, dalam sekejap saja 15 juta nasabah Bank Syariah Indonesia kalang kabut, bukan karena inflasi, bukan pula karena KPR naik, tapi karena kelompok peretas LockBit 3.0 menembus jaringan dan menuntut tebusan USD 20 juta. Ini bukan film Hollywood, ini kenyataan yang terjadi di depan hidung kita. Serangan seperti ini bisa menimpa siapa saja dari bank, lembaga pemerintah, bahkan hingga sekolah dasar yang punya sistem e-learning setengah matang.

Yang bikin miris, musuh siber ini tidak perlu melewati laut Natuna, tidak perlu menabrak perbatasan Kalimantan. Cukup tahu celah sistem, mereka bisa masuk, ngacak-ngacak data, dan meninggalkan “bom digital” yang membuat layanan lumpuh total. Kita ini ibarat rumah mewah yang dikunci gerbangnya, tapi lupa menutup jendela dapur. Jadilah maling masuk, ngopi dulu, baru bawa kabur semua isi rumah.

Tak cuma soal serangan digital, hoaks pun jadi ancaman yang lebih ganas dari isu minyak goreng naik. Meutya menyebut ada tiga jenis hoaks misinformasi (salah tapi nggak sengaja), disinformasi (sengaja salah), dan malinformasi (benar tapi digunakan untuk mencelakai). Tiga ini kalau disatukan bisa jadi senjata pemusnah massal. Kalau dulu negara bisa rusuh karena perbedaan ideologi, sekarang bisa panas karena perbedaan “caption” di TikTok.

Dan seperti biasa, kita terlalu percaya pada regulasi sebagai satu-satunya juru selamat. Memang, regulasi penting. Kementerian Komunikasi dan Digital sudah meluncurkan berbagai aturan, seperti PP TUNAS untuk melindungi anak-anak di ruang maya, revisi UU ITE agar tak lagi jadi alat gebuk sesuka hati, hingga Perpres Strategi Keamanan Siber Nasional. Tapi regulasi tanpa literasi itu seperti memberi helm pada kambing dipakai sih, tapi nggak paham fungsinya.

Yang dibutuhkan bangsa hari ini bukan sekadar undang-undang, tapi orang-orang yang melek digital, tahu bahwa tidak semua yang tampil di layar itu fakta, dan tidak semua emoji senyum itu niat baik. Literasi digital harus diajarkan dari ibu-ibu PKK sampai pejabat eselon. Kalau perlu, pengajian mingguan diganti jadi “Ngaji Siber” membedah link mencurigakan dan belajar mengenali wajah hoaks.

Saatnya sadar

Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, menyatakan bahwa ketahanan nasional tidak bisa kuat kalau ruang sibernya rapuh. Analogi ini pas sekali. Seperti rumah tangga mau suaminya punya badan kekar, kalau password emailnya “sayang123”, tetap saja mudah diretas mantan.

Indonesia hari ini membutuhkan kesadaran kolektif bahwa ruang digital bukan tempat bermain tanpa aturan. Ia adalah medan perang baru, tempat siapa saja bisa jadi korban jika kita tidak siap. Kedaulatan bangsa bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi pemerintahan, tapi juga siapa yang duduk di depan laptop dengan akal sehat dan nalar kritis.

Dan seperti kata pepatah Jawa yang dimodernkan “Sopo seng ora bisa bedakne hoaks, bakal diprank sejarah.” Kita tidak ingin sejarah bangsa ini ditulis dalam file Word yang disimpan di cloud luar negeri, dan dibaca oleh generasi mendatang dengan catatan kaki Negara ini gagal karena terlalu malas mengganti password.

Sudah saatnya kita sadar bahwa perang zaman now tidak lagi ditentukan oleh jumlah peluru, tapi oleh kualitas literasi digital warga negara. Menjaga ruang siber bukan pekerjaan satu kementerian, melainkan gotong royong akal sehat seluruh rakyat. Dari santri sampai CEO, dari emak-emak hingga influencer. Semua harus tahu bahwa musuh tak lagi bersepatu lars, tapi kadang ber-sneakers dan live di Twitch.

Jika dulu Bung Karno menyuruh kita untuk mengguncang dunia dengan 10 pemuda, maka hari ini kita perlu 10 juta pengguna internet yang cerdas, kritis, dan tidak gampang terprovokasi hoaks. Mari kita jaga bangsa ini, bukan hanya dari penjajah fisik, tapi dari penjajahan pikiran dan data.

Ingat, bangsa besar bukan yang punya banyak senjata, tapi yang warganya tahu kapan harus update antivirus dan kapan harus scroll skip berita bohong. Jadi, yuk, jangan biarkan Indonesia jebol bukan karena perang, tapi karena kita abai jaga colokan internet.

Karena sesungguhnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu bedanya tautan pemerintah dan tautan phishing. Dan negara yang berdaulat, bukan cuma yang punya rudal, tapi juga yang bisa menjaga warganya dari klik yang salah arah. Indonesia Raya tidak boleh diputar dengan buffering. Mari kita jaga negeri ini dari darat, laut, udara, dan kini… dari colokan WiFi.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Liburan Usai, Hari Pertama Masuk Sekolah, Antarkan Anak, Yuk !!

    Liburan Usai, Hari Pertama Masuk Sekolah, Antarkan Anak, Yuk !!

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 998
    • 0Komentar

     SAYA pagi pukul 05.00 sudah bangun, usai sholat shubuh pun saya langsung  berangkat mengantarkan anak sekolah. Maklum, ia santriwati baru di salah Al -Fahd Islamic Boarding School, Jakabaring. Jarak rumah saya cukup lumayan jauh, pasalnya saya tinggal di daerah Palembang Timur, di bilangan Selayur, jauh kan ..!! jarak -nya mungkin ke tempat tujuan memakan waktu sekitar […]

  • Serap Aspirasi Warga Sembawa, Reni : Bakal Sampaikan kepada Menteri KKP  

    Serap Aspirasi Warga Sembawa, Reni : Bakal Sampaikan kepada Menteri KKP  

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.997
    • 0Komentar

    LEGISLATOR DPR RI, Komisi IV Fraksi Gerindra Dapil 1 Sumsel Hj Reny Astuti SH SpN  melakukan kunjungan kerja [kunker] di Kabupaten Banyuasin. Menanggapi aspirasi masyarakat Kecamatan Sembawa yang disampikan melalui Kades, juga para PPL Pertanian Sembawa, segera usulkan secara tertulis, agar nanti bisa kami bawa ke kementerian. “Hari ini kami menjaring aspirasi masyarakat yang menjadi […]

  • Sumsel Daerah Penghasil Migas, UU HKPD Akan Ciptakan Keadilan Lebih Bagi Sumsel

    Sumsel Daerah Penghasil Migas, UU HKPD Akan Ciptakan Keadilan Lebih Bagi Sumsel

    • calendar_month Kamis, 17 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 750
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H. Herman Deru mengaku sangat optimistis keberadaan UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD) yang baru diterbitkan pemerintah  akan menciptakan keadilan yang lebih baik bagi daerah penghasil termasuk Sumsel. Optimisme itu diungkapkannya usai membuka kegiatan sosialisasi UU HKPD di Griya Agung, Kamis (17/3). “Ini adalah […]

  • Pentingnya Hak Kekayaan Intelektual untuk pelaku ekonomi kreatif

    Pentingnya Hak Kekayaan Intelektual untuk pelaku ekonomi kreatif

    • calendar_month Jumat, 21 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.359
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Pemerintah menghimbau masyarakat khususnya pelaku ekonomi kreatif untuk menyadari pentingnya Hak Kekayaan Intelektual. Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual. Hal ini diungkapkan Sekda Sumsel, Ir. S. A. Supriono saat membuka Mobile Intellectual Property Clinic (MIPC) “Iloknye Batik Kujur Dusun Tanjung Sambil Ngikhup Kopi Semendo Muara […]

  • Transformasi Pendidikan

    Transformasi Pendidikan

    • calendar_month Rabu, 16 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.662
    • 0Komentar

    “Lain Lubuk Lain Ikannya” MASIH ingatkah kalian dengan pepatah di atas? Jika kita analogikan pada bidang kependudukan, pepatah itu bisa di satir mungkin seperti “Lain generasi lain inovasinya”. Tahun berapakah kalian tamat SMA? Pasti jawabannya berbeda-beda. Tapi jika ditanya seperti apakah sistem pendidikan di sekolah? Kemungkinan sebagian besar akan menjawab sama, dan bahkan ada sebagian […]

  • Lulusan Polinela PDD Harus Berani Berinovasi

    Lulusan Polinela PDD Harus Berani Berinovasi

    • calendar_month Selasa, 16 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 970
    • 0Komentar

    Oleh : One SUMSELTERKINI.CO.ID, BANYUASIN – Gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) Herman Deru mengadiri acara wisuda Politeknik Negeri Lampung (Polinela) Program Studi di luar domisili (PDD), di gedung Sedulang Setudung Pemkab Banyuasin, Selasa (16/10/2018). Pada kesempatan tersebut, Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan apresiasinya kepada Politeknik Negeri Lampung yang memiliki konsentrasi yang luar biasa terhadap daerah-daerah luar […]

expand_less
WordPress Archive Offline Payment Gateway Plugin Ogami – Organic Store WordPress Theme Oganic – Organic Food Elementor Template kit Ogena – Minimal Elementor Template Kit OGGI – Fashion Store WooCommerce Theme OGO – Creative Multipurpose WordPress Theme Ohio - Creative Portfolio & Agency WordPress Theme Ohlala - Cake Shop, Ice Cream & Juice Bar WordPress Theme Oitech – Technology WordPress Theme Okab – Responsive Multi-Purpose WordPress Theme + RTL