Apa Arti Besar Kepala? Ternyata Bukan Ukuran Kepala Manusia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : Ilustrasi/AI Gemini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kalau ada satu ungkapan yang sering muncul setelah seseorang meraih keberhasilan, mungkin saya salah satunya.
Nama saya “besar kepala.”
Tenang dulu.
Saya bukan penyakit yang membuat ukuran kepala seseorang bertambah.
Saya juga bukan akibat terlalu sering memakai topi.
Saya hanyalah sebuah ungkapan dalam bahasa Indonesia yang menggambarkan sifat seseorang ketika merasa dirinya paling hebat.
Pernah mendengar kalimat seperti ini?
“Sejak menang lomba, dia jadi besar kepala.”
Atau…
“Jangan besar kepala hanya karena sekali berhasil.”
Kalimat-kalimat itu pasti sudah tidak asing lagi.
Namun, pernahkah terpikir, mengapa disebut besar kepala?
Apakah benar ukuran kepala seseorang berubah?
Tentu tidak.
Bukan Kepala yang Membesar, Melainkan Rasa Sombong
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), besar kepala berarti menjadi sombong, angkuh, atau terlalu membanggakan diri karena merasa lebih hebat daripada orang lain.
Artinya, yang berubah bukan bentuk kepala.
Yang berubah adalah sikap.
Seseorang mulai merasa dirinya paling pintar, paling hebat, atau paling berhasil sehingga sulit menerima masukan dari orang lain.
Itulah makna sebenarnya dari saya.
Mengapa Disebut “Besar Kepala”?
Bahasa Indonesia penuh dengan ungkapan yang menggunakan anggota tubuh untuk menggambarkan sifat manusia.
Ada keras kepala untuk orang yang sulit dinasihati.
Ada ringan tangan untuk orang yang suka membantu—atau dalam konteks lain, suka memukul.
Ada panjang tangan untuk orang yang suka mencuri.
Begitu pula dengan saya.
Kepala sering dianggap sebagai lambang pikiran, kehormatan, dan kedudukan.
Ketika seseorang merasa dirinya terlalu tinggi dibanding orang lain, seolah-olah kepalanya menjadi “lebih besar” daripada yang lain.
Tentu saja ini hanyalah kiasan.
Saya Sering Datang Setelah Pujian
Menariknya, saya jarang muncul saat seseorang gagal.
Saya justru sering datang setelah keberhasilan.
Naik jabatan.
Menang perlombaan.
Bisnis berkembang.
Mendapat banyak pujian.
Semua itu adalah hal yang baik.
Namun, jika keberhasilan membuat seseorang berhenti belajar dan mulai meremehkan orang lain, di situlah saya biasanya muncul.
Bukan karena sukses itu salah.
Melainkan karena kesuksesan kadang membuat seseorang lupa bahwa semua orang masih bisa belajar.
Saya Seperti Balon yang Terlalu Banyak Diisi Angin
Kalau boleh diibaratkan, saya seperti sebuah balon.
Semakin banyak angin yang masuk, balon terlihat semakin besar.
Namun jika terlalu penuh, balon justru mudah pecah.
Begitu pula manusia.
Kepercayaan diri memang penting.
Tetapi jika berubah menjadi kesombongan, hubungan dengan orang lain bisa ikut retak.
Orang mungkin berhenti memberi saran.
Teman bisa menjaga jarak.
Bahkan kesempatan belajar pun perlahan hilang karena merasa sudah mengetahui segalanya.
Contoh Penggunaan “Besar Kepala”
Berikut beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari.
“Dia menjadi besar kepala setelah dipromosikan menjadi manajer.”
Artinya, ia mulai bersikap sombong karena jabatan barunya.
“Prestasi memang membanggakan, tetapi jangan sampai membuat kita besar kepala.”
Artinya, keberhasilan sebaiknya disertai sikap rendah hati.
“Meski sering juara, ia tidak pernah besar kepala.”
Artinya, ia tetap rendah hati meskipun memiliki banyak prestasi.
Percaya Diri Boleh, Besar Kepala Jangan
Banyak orang mengira percaya diri dan besar kepala adalah hal yang sama.
Padahal berbeda.
Percaya diri membuat seseorang yakin pada kemampuannya.
Sedangkan besar kepala membuat seseorang merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Perbedaannya mungkin tipis.
Namun dampaknya sangat berbeda.
Orang yang percaya diri biasanya tetap mau belajar.
Orang yang besar kepala sering merasa tidak perlu lagi belajar.
Sebuah Ungkapan, Sebuah Pengingat
Saya hanyalah dua kata sederhana.
Namun di balik ungkapan besar kepala, tersimpan pesan yang penting.
Keberhasilan memang layak dirayakan.
Prestasi memang pantas dibanggakan.
Tetapi kerendahan hati sering kali membuat seseorang dihormati lebih lama daripada sekadar kepintaran.
Mungkin itulah indahnya bahasa Indonesia.
Lewat ungkapan sederhana seperti saya, manusia diingatkan bahwa setinggi apa pun pencapaian, tetaplah rendah hati.
Karena kepala tidak pernah benar-benar membesar.
Yang perlu dijaga justru sikap kita agar tidak merasa lebih besar daripada orang lain. (***)
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan konten edukasi literasi bahasa yang disusun berdasarkan rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, khususnya entri “besar kepala”, yang diakses pada 31 Juli 2026, serta berbagai referensi mengenai ungkapan (idiom) dalam bahasa Indonesia. Materi kemudian disusun kembali dan dikemas dengan bahasa yang ringan, menarik, dan mudah dipahami dalam gaya literasi populer khas Sumselterkini.co.id, tanpa mengubah makna dasar dari sumber rujukan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
