Selasa, 27 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » JEDA » Mulut Manis, Enak Didengar, Tapi Belum Tentu Bisa Dipercaya

Mulut Manis, Enak Didengar, Tapi Belum Tentu Bisa Dipercaya

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada orang yang kalau bicara rasanya selalu enak didengar. Tidak kasar, tahu kapan memuji, tahu bagaimana membuat lawan bicara merasa dihargai. Bahkan ketika meminta sesuatu, kata-katanya bisa membuat kita sulit berkata tidak.

Orang seperti ini biasanya disebut mulut manis.

Istilahnya sederhana dan mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa harus “mulut” yang diberi sifat “manis”? Bukankah yang manis itu biasanya gula, madu, atau makanan?

Di situlah bahasa menjadi menarik. Banyak kata dalam percakapan sehari-hari ternyata tidak selalu harus dimaknai secara harfiah.

Bukan mulutnya yang manis

Dalam bahasa Indonesia, mulut manis merupakan ungkapan yang maknanya tidak bisa dipahami hanya dengan melihat arti masing-masing katanya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat ‘mulut manis” sebagai ungkapan untuk orang yang baik tegur sapanya dan lemah lembut tutur katanya.

Jadi, tidak ada hubungannya dengan rasa. Kita tentu tidak sedang membicarakan seseorang yang mulutnya terasa seperti gula.

Yang dimaksud adalah cara seseorang berbicara.

Kata mulut dalam ungkapan ini merujuk pada perkataan atau ucapan yang keluar dari seseorang. Sementara manis digunakan secara kiasan untuk menggambarkan sesuatu yang menyenangkan, menarik, atau enak didengar.

Karena itu, ketika seseorang berkata, “Dia memang mulutnya manis,” yang sedang dibicarakan bukan bentuk mulutnya, melainkan kata-kata dan cara ia menyampaikannya.

Manis tidak selalu berarti buruk

Menariknya, ungkapan mulut manis sebenarnya tidak selalu bernada negatif.

Ada orang yang memang pandai menjaga ucapan. Ia tidak suka menyakiti orang dengan perkataan kasar. Ketika memberikan kritik, ia memilih kata yang lebih halus. Ketika berterima kasih, ia mengatakannya dengan tulus.

Orang semacam ini bisa saja disebut memiliki mulut manis dalam pengertian yang baik.

Misalnya “Dia kalau berbicara dengan orang tua memang mulutnya manis. Sopan dan enak didengar.”

Tidak ada tuduhan di dalam kalimat tersebut. Justru ada penghargaan terhadap cara seseorang bertutur.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan memilih kata memang bukan perkara sepele. Kalimat yang sama bisa terasa berbeda ketika disampaikan dengan cara berbeda.

“Kerjaanmu belum selesai.”

Dengan “Kayaknya bagian ini masih bisa kita rapikan sedikit supaya hasilnya lebih bagus.”

Pesannya mungkin sama. Tetapi cara menyampaikannya berbeda.

Di sinilah “manis” dalam bahasa bisa berarti kelembutan dalam bertutur.

Tapi, kenapa kadang “mulut manis” terdengar mencurigakan?

Karena kata-kata yang menyenangkan juga bisa dipakai untuk membujuk.

Kita mungkin pernah bertemu orang yang pandai sekali memberikan pujian. Baru bertemu beberapa menit, sudah mengatakan kita hebat, baik, pintar, atau berbeda dari orang lain.

Awalnya menyenangkan.

Tetapi kalau pujian itu muncul setiap kali ia membutuhkan sesuatu, kita mulai bertanya-tanya.

“Ini benar pujian atau ada maunya?”

Dalam konteks seperti inilah mulut manis bisa berubah menjadi sindiran.

Orang yang disebut bermulut manis belum tentu berbohong. Namun, ungkapan itu sering dipakai ketika kata-kata seseorang terdengar sangat bagus, sementara kebenaran atau tindakannya belum tentu seindah ucapannya.

Karena itu, ada perbedaan antara orang yang pandai berbicara dan orang yang hanya pandai berkata-kata.

Yang pertama membuat kita nyaman.

Yang kedua bisa membuat kita terlena.

Dalam kajian bahasa, “mulut manis” memang menarik

Ungkapan seperti mulut manis termasuk hal yang menarik dalam kajian bahasa karena maknanya bersifat kiasan.

Penelitian tentang idiom yang menggunakan unsur bagian tubuh manusia dari Universitas Muhammadiyah Malang membahas mulut manis sebagai salah satu bentuk idiom. Dalam penelitian tersebut, maknanya berkaitan dengan tutur yang lemah lembut dan menarik.

Sementara kajian dari Universitas Negeri Yogyakarta juga mencatat makna mulut manis sebagai baik tegur sapanya dan lembut kata-katanya.

Artinya, apa yang selama ini kita gunakan dalam obrolan sehari-hari ternyata punya sisi kebahasaan yang cukup menarik.

Bahasa tidak selalu bekerja dengan cara yang lurus.

Kita mengatakan “besar kepala” tanpa sedang membicarakan ukuran kepala. Kita mengatakan “panjang tangan” tanpa mengukur panjang lengannya. Kita mengatakan “makan hati” tanpa benar-benar memakan organ tubuh.

Begitu juga dengan mulut manis.

Bahasa mengambil sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia, lalu memberinya makna yang lebih luas.

Kata-kata memang bisa terasa manis

Ada alasan mengapa kita mudah mengingat orang yang cara bicaranya menyenangkan.

Kata-kata bisa membuat seseorang merasa dihargai. Bisa menenangkan orang yang sedang marah. Bisa membuat seseorang yang sedang kehilangan kepercayaan diri merasa sedikit lebih baik.

Tetapi kata-kata juga punya sisi lain.

Pujian yang berlebihan bisa menjadi rayuan. Janji yang terlalu indah bisa menjadi jebakan. Kalimat yang terdengar meyakinkan bisa saja tidak pernah diwujudkan.

Maka, mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi orang yang “mulutnya manis”, tetapi bagaimana menggunakan kata-kata dengan baik tanpa menjadikannya sekadar alat untuk mendapatkan sesuatu.

Sebab berbicara lembut tidak sama dengan berpura-pura.

Memuji tidak selalu berarti menjilat.

Dan berkata manis tidak harus berarti berbohong.

Ujungnya tetap pada tindakan

Pada akhirnya, kita mungkin memang menyukai orang yang pandai berbicara. Wajar. Tidak ada yang senang diperlakukan dengan kata-kata kasar.

Tetapi ketika berhadapan dengan seseorang yang terlalu pandai berkata-kata, mungkin kita tidak perlu buru-buru percaya, juga tidak perlu buru-buru curiga.

Dengarkan saja.

Lalu lihat tindakannya.

Sebab kata-kata bisa membuat hati nyaman untuk sesaat. Namun, tindakanlah yang biasanya membuat kepercayaan bertahan lebih lama.

Mungkin itu sebabnya mulut manis punya dua sisi.

Ia bisa menjadi pujian untuk seseorang yang lembut tutur katanya. Tetapi bisa pula menjadi pengingat agar kita tidak mudah terbuai oleh perkataan yang terdengar indah.

Karena tidak semua yang manis harus ditelan.

Kadang-kadang, cukup didengar. Lalu kita lihat, apakah ia benar-benar sesuai dengan kenyataan. (***)

 

Catatan Redaksi : Jeda hadir untuk membicarakan hal-hal sederhana dengan cara yang ringan, menghibur, sekaligus menambah wawasan. Penjelasan tentang makna “mulut manis” dalam tulisan ini merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kajian akademik tentang idiom bahasa Indonesia. Sebab, belajar tak selalu harus serius, kadang cukup dari satu kata atau ungkapan yang dekat dengan keseharian.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 1.600 Sertifikat Hak Milik Diserahkan kepada Warga

    1.600 Sertifikat Hak Milik Diserahkan kepada Warga

    • calendar_month Senin, 9 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 938
    • 0Komentar

    BUPATI Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic menyerahkan secara simbolis Sertifikat hak Milik (SHM) kepada Masyarakat Kabupaten, di Auditorium Pemkab Muba,Senin [9/11/2020]. Dimana pelaksanaan Penyerahan Sertifikat Hak Milik (SHM) ini di serahkan secara online serentak seluruh Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia. Dikatakannya, pembagian sertifikat tanah gratis dilakukan melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). […]

  • Keselamatan Pasien Bukan Hanya Soal Obat, Ini Titik Rawan di Tiap Alur

    Keselamatan Pasien Bukan Hanya Soal Obat, Ini Titik Rawan di Tiap Alur

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 30
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Keselamatan pasien sering kali baru dibicarakan ketika terjadi kesalahan dalam pelayanan kesehatan. Padahal, risikonya bisa muncul jauh sebelum obat diberikan dan belum tentu berakhir ketika pasien meninggalkan rumah sakit. Apalagi  perjalanan seorang pasien dengan penyakit tidak menular (PTM). Ia mungkin memulai dari pemeriksaan kesehatan, menjalani diagnosis, menerima obat, dirujuk ke fasilitas kesehatan lain, […]

  • Reaksi Pascavaksinasi: Kebanyakan Hanya Pegal, Lapar, dan Ngantuk

    Reaksi Pascavaksinasi: Kebanyakan Hanya Pegal, Lapar, dan Ngantuk

    • calendar_month Kamis, 21 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.261
    • 0Komentar

    PEMERINTAH telah berkomitmen memberikan vaksin COVID-19 secara gratis demi memulihkan kesehatan nasional akibat hantaman pandemi COVID-19. Namun, niat baik pemerintah ini masih saja menuai beberapa penolakan pada program vaksinasi COVID-19 ini. Ada masyarakat yang masih meragukan dan menunjukkan ketakutan, khususnya terkait kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan […]

  • Teken Kesepakatan, BI & PP Muhammadiyah Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional dengan Penguatan Keuangan Syariah, 3 Aspek Ini Jadi Alasan Kerjasama dengan Ormas

    Teken Kesepakatan, BI & PP Muhammadiyah Dorong Pemulihan Ekonomi Nasional dengan Penguatan Keuangan Syariah, 3 Aspek Ini Jadi Alasan Kerjasama dengan Ormas

    • calendar_month Sabtu, 18 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 754
    • 0Komentar

    BANK Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dan mempererat persaudaraan dengan berbagai komponen masyarakat dalam mengakselerasi ekonomi dan keuangan syariah, guna mendorong pemulihan ekonomi nasional termasuk dengan unsur organisasi masyarakat (ormas). Dalam kerangka ini, Bank Indonesia dan PP Muhammadiyah menandatangani Nota Kesepahaman yang digelar secara virtual pada hari ini (17/09), demi memperkuat kerja sama yang […]

  • Perbaikan Infrastruktur Dasar Masih Fokus Pemkab OKI

    Perbaikan Infrastruktur Dasar Masih Fokus Pemkab OKI

    • calendar_month Rabu, 22 Mar 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.182
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, –  Bupati Ogan Komering Ilir melalui Wakil Bupati Dja’far Shodiq mengatakan perbaikan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan, terutama jalan yang menghubungkan antara desa dan ibukota kecamatan tetap menjadi prioritas Pemda untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi. “Untuk itu, melalui forum Musrenbang rancangan RKPD tahun 2024 kami menghimbau agar permasalahan tersebut dapat dijadikan prioritas sehingga usulan-usulan […]

  • Ciri-Ciri Bau Badan, Jangan Sampai Tak Sadar!

    Ciri-Ciri Bau Badan, Jangan Sampai Tak Sadar!

    • calendar_month Jumat, 1 Nov 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.460
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Bau badan setiap orang berbeda-beda. Ada yang berbau busuk, bau obat, bau urin, bahkan berbau tinja. Perbedaan ini bisa menjadi indikasi kesehatan tertentu. Bagaimana cara mengenali ciri-ciri bau badan ini? Sayangnya, terkadang, cukup sulit dideteksi sendiri karena reseptor hidung mati untuk sementara waktu jika sudah mencium aroma yang sama selama beberapa waktu. Nah, […]

expand_less
WordPress Archive Fixy: A Simple & Sexy WordPress Theme Fladient – App & SaaS WordPress Theme Flaire Dance School & Studio Elementor Template Kit FlanceMobileWoo – Woocommerce Mobile Flasaphic – Spa Beauty WordPress Theme FlashMart – Multipurpose Elementor WooCommerce WordPress Theme (10+ Homepages & Mobile Layout Ready) Flashnet – Broadband & Telecom Internet Provider Elementor Template kit Flatastic Responsive Multipurpose VirtueMart Theme Flatastic – Versatile Multi Vendor WordPress Theme FlatFolio – Flat & Cool WP Portfolio