Mulut Manis, Enak Didengar, Tapi Belum Tentu Bisa Dipercaya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto :ilustrasi/AI gemini
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada orang yang kalau bicara rasanya selalu enak didengar. Tidak kasar, tahu kapan memuji, tahu bagaimana membuat lawan bicara merasa dihargai. Bahkan ketika meminta sesuatu, kata-katanya bisa membuat kita sulit berkata tidak.
Orang seperti ini biasanya disebut mulut manis.
Istilahnya sederhana dan mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa harus “mulut” yang diberi sifat “manis”? Bukankah yang manis itu biasanya gula, madu, atau makanan?
Di situlah bahasa menjadi menarik. Banyak kata dalam percakapan sehari-hari ternyata tidak selalu harus dimaknai secara harfiah.
Bukan mulutnya yang manis
Dalam bahasa Indonesia, mulut manis merupakan ungkapan yang maknanya tidak bisa dipahami hanya dengan melihat arti masing-masing katanya.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat ‘mulut manis” sebagai ungkapan untuk orang yang baik tegur sapanya dan lemah lembut tutur katanya.
Jadi, tidak ada hubungannya dengan rasa. Kita tentu tidak sedang membicarakan seseorang yang mulutnya terasa seperti gula.
Yang dimaksud adalah cara seseorang berbicara.
Kata mulut dalam ungkapan ini merujuk pada perkataan atau ucapan yang keluar dari seseorang. Sementara manis digunakan secara kiasan untuk menggambarkan sesuatu yang menyenangkan, menarik, atau enak didengar.
Karena itu, ketika seseorang berkata, “Dia memang mulutnya manis,” yang sedang dibicarakan bukan bentuk mulutnya, melainkan kata-kata dan cara ia menyampaikannya.
Manis tidak selalu berarti buruk
Menariknya, ungkapan mulut manis sebenarnya tidak selalu bernada negatif.
Ada orang yang memang pandai menjaga ucapan. Ia tidak suka menyakiti orang dengan perkataan kasar. Ketika memberikan kritik, ia memilih kata yang lebih halus. Ketika berterima kasih, ia mengatakannya dengan tulus.
Orang semacam ini bisa saja disebut memiliki mulut manis dalam pengertian yang baik.
Misalnya “Dia kalau berbicara dengan orang tua memang mulutnya manis. Sopan dan enak didengar.”
Tidak ada tuduhan di dalam kalimat tersebut. Justru ada penghargaan terhadap cara seseorang bertutur.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan memilih kata memang bukan perkara sepele. Kalimat yang sama bisa terasa berbeda ketika disampaikan dengan cara berbeda.
“Kerjaanmu belum selesai.”
Dengan “Kayaknya bagian ini masih bisa kita rapikan sedikit supaya hasilnya lebih bagus.”
Pesannya mungkin sama. Tetapi cara menyampaikannya berbeda.
Di sinilah “manis” dalam bahasa bisa berarti kelembutan dalam bertutur.
Tapi, kenapa kadang “mulut manis” terdengar mencurigakan?
Karena kata-kata yang menyenangkan juga bisa dipakai untuk membujuk.
Kita mungkin pernah bertemu orang yang pandai sekali memberikan pujian. Baru bertemu beberapa menit, sudah mengatakan kita hebat, baik, pintar, atau berbeda dari orang lain.
Awalnya menyenangkan.
Tetapi kalau pujian itu muncul setiap kali ia membutuhkan sesuatu, kita mulai bertanya-tanya.
“Ini benar pujian atau ada maunya?”
Dalam konteks seperti inilah mulut manis bisa berubah menjadi sindiran.
Orang yang disebut bermulut manis belum tentu berbohong. Namun, ungkapan itu sering dipakai ketika kata-kata seseorang terdengar sangat bagus, sementara kebenaran atau tindakannya belum tentu seindah ucapannya.
Karena itu, ada perbedaan antara orang yang pandai berbicara dan orang yang hanya pandai berkata-kata.
Yang pertama membuat kita nyaman.
Yang kedua bisa membuat kita terlena.
Dalam kajian bahasa, “mulut manis” memang menarik
Ungkapan seperti mulut manis termasuk hal yang menarik dalam kajian bahasa karena maknanya bersifat kiasan.
Penelitian tentang idiom yang menggunakan unsur bagian tubuh manusia dari Universitas Muhammadiyah Malang membahas mulut manis sebagai salah satu bentuk idiom. Dalam penelitian tersebut, maknanya berkaitan dengan tutur yang lemah lembut dan menarik.
Sementara kajian dari Universitas Negeri Yogyakarta juga mencatat makna mulut manis sebagai baik tegur sapanya dan lembut kata-katanya.
Artinya, apa yang selama ini kita gunakan dalam obrolan sehari-hari ternyata punya sisi kebahasaan yang cukup menarik.
Bahasa tidak selalu bekerja dengan cara yang lurus.
Kita mengatakan “besar kepala” tanpa sedang membicarakan ukuran kepala. Kita mengatakan “panjang tangan” tanpa mengukur panjang lengannya. Kita mengatakan “makan hati” tanpa benar-benar memakan organ tubuh.
Begitu juga dengan mulut manis.
Bahasa mengambil sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia, lalu memberinya makna yang lebih luas.
Kata-kata memang bisa terasa manis
Ada alasan mengapa kita mudah mengingat orang yang cara bicaranya menyenangkan.
Kata-kata bisa membuat seseorang merasa dihargai. Bisa menenangkan orang yang sedang marah. Bisa membuat seseorang yang sedang kehilangan kepercayaan diri merasa sedikit lebih baik.
Tetapi kata-kata juga punya sisi lain.
Pujian yang berlebihan bisa menjadi rayuan. Janji yang terlalu indah bisa menjadi jebakan. Kalimat yang terdengar meyakinkan bisa saja tidak pernah diwujudkan.
Maka, mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi orang yang “mulutnya manis”, tetapi bagaimana menggunakan kata-kata dengan baik tanpa menjadikannya sekadar alat untuk mendapatkan sesuatu.
Sebab berbicara lembut tidak sama dengan berpura-pura.
Memuji tidak selalu berarti menjilat.
Dan berkata manis tidak harus berarti berbohong.
Ujungnya tetap pada tindakan
Pada akhirnya, kita mungkin memang menyukai orang yang pandai berbicara. Wajar. Tidak ada yang senang diperlakukan dengan kata-kata kasar.
Tetapi ketika berhadapan dengan seseorang yang terlalu pandai berkata-kata, mungkin kita tidak perlu buru-buru percaya, juga tidak perlu buru-buru curiga.
Dengarkan saja.
Lalu lihat tindakannya.
Sebab kata-kata bisa membuat hati nyaman untuk sesaat. Namun, tindakanlah yang biasanya membuat kepercayaan bertahan lebih lama.
Mungkin itu sebabnya mulut manis punya dua sisi.
Ia bisa menjadi pujian untuk seseorang yang lembut tutur katanya. Tetapi bisa pula menjadi pengingat agar kita tidak mudah terbuai oleh perkataan yang terdengar indah.
Karena tidak semua yang manis harus ditelan.
Kadang-kadang, cukup didengar. Lalu kita lihat, apakah ia benar-benar sesuai dengan kenyataan. (***)
Catatan Redaksi : Jeda hadir untuk membicarakan hal-hal sederhana dengan cara yang ringan, menghibur, sekaligus menambah wawasan. Penjelasan tentang makna “mulut manis” dalam tulisan ini merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kajian akademik tentang idiom bahasa Indonesia. Sebab, belajar tak selalu harus serius, kadang cukup dari satu kata atau ungkapan yang dekat dengan keseharian.
- Penulis: Irwan Wahyudi
