Senin, 5 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » JEDA » Cuci Tangan, Bedu Malah Cari Sabun Saat Diminta Bertanggung Jawab

Cuci Tangan, Bedu Malah Cari Sabun Saat Diminta Bertanggung Jawab

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
  • visibility 21
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Bedu memang terkenal punya cara sendiri dalam memahami perkataan orang. Kali ini, ia kembali bikin warga Kampung Manggu geleng-geleng kepala setelah salah menangkap ungkapan “cuci tangan”.

Bukannya menjauh dari sebuah masalah, Bedu malah sibuk mencari sabun.

Kejadiannya bermula ketika warga Kampung Manggu dibuat heboh oleh sebuah keributan kecil di depan warung Pak Udin. Sebuah kursi plastik milik warung tiba-tiba patah setelah diduduki beberapa orang secara bergantian.

Pak Udin langsung memasang wajah kesal.

“Siapa yang terakhir duduk di kursi ini?” tanyanya.

Semua orang saling pandang.

Bedu yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari warung akhirnya angkat bicara.

“Kayaknya tadi Pak Jono yang duduk paling terakhir.”

Pak Jono langsung membantah.

“Bukan saya, Du. Setelah saya berdiri, Bedu yang duduk di situ.”

Bedu terdiam.

Pak RT yang kebetulan berada di lokasi kemudian meminta mereka tidak saling lempar kesalahan.

“Sudah, jangan ribut. Yang penting sekarang kita cari tahu siapa yang menyebabkan kursi ini patah.”

Pak Jono kemudian mengangkat tangan.

“Kalau soal kursi ini, saya cuci tangan saja, Pak. Saya tidak mau ikut campur.”

Bedu yang mendengar kalimat itu langsung mengangguk serius.

“Wah, berarti memang harus cuci tangan kalau ada masalah seperti ini.”

Pak RT menoleh.

“Bukan begitu maksudnya, Du.”

Tapi Bedu sudah terlanjur pergi.

Tak lama kemudian ia kembali membawa ember, air, sabun, dan sebuah handuk.

Pak Udin sampai bengong.

“Bedu, kamu mau ngapain?”

“Cuci tangan, Pak.”

“Untuk apa?”

“Tadi Pak Jono bilang mau cuci tangan karena masalah kursi. Saya pikir supaya masalahnya selesai, tangan harus dicuci.”

Pak RT menahan tawa.

“Du, kalau semua masalah diselesaikan dengan sabun, mungkin kantor polisi sudah punya kamar mandi sebesar lapangan.”

Warga yang mendengar langsung tertawa.

Bedu masih belum mengerti.

“Jadi Pak Jono tidak benar-benar mau cuci tangan?”

“Ya tidak!”

“Terus tangannya kotor?”

“Bukan itu persoalannya!”

Bedu melihat ember di tangannya, kemudian melihat Pak Jono.

“Waduh. Berarti saya sudah menyiapkan air untuk masalah yang salah.”

Pak Udin tertawa.

“Yang perlu kamu cuci itu bukan tangan, Du. Cara memahami ungkapannya!”

Pembelajaran JEDA: Apa Arti “Cuci Tangan” Sebenarnya?

Nah, di sinilah letak kesalahpahaman Bedu.

Secara harfiah, cuci tangan memang berarti membersihkan tangan dengan air, biasanya menggunakan sabun.

Namun, dalam penggunaan bahasa Indonesia, “cuci tangan” juga merupakan ungkapan yang memiliki makna kiasan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ungkapan cuci tangan antara lain digunakan dengan makna tidak mau ikut campur dalam suatu urusan atau tidak mau bertanggung jawab terhadap suatu persoalan.

Jadi, ketika seseorang berkata, “Saya sudah cuci tangan dari masalah ini.”

Ia tidak sedang mengatakan bahwa telapak tangannya kotor.

Maksudnya, orang tersebut memilih melepaskan diri dari persoalan atau tidak ingin lagi terlibat dalam tanggung jawab atas masalah tersebut.

Itulah yang sebenarnya dimaksud Pak Jono.

Sayangnya, Bedu memahami perkataan tersebut secara mentah-mentah. Mendengar kata “cuci tangan”, yang muncul di kepalanya langsung air, sabun, ember, dan handuk.

Makna Harfiah dan Makna Kiasan

Ungkapan seperti cuci tangan menarik karena satu rangkaian kata dapat memiliki arti berbeda tergantung konteksnya.

Dalam makna harfiah, cuci tangan berarti membersihkan tangan.

Misalnya “Sebelum makan, cucilah tangan menggunakan sabun.”

Tidak ada makna tersembunyi dalam kalimat tersebut. Memang tangannya yang dicuci.

Sementara dalam makna kiasan, cuci tangan berkaitan dengan sikap seseorang terhadap suatu persoalan.

Contohnya “Setelah keputusan itu menimbulkan masalah, dia justru cuci tangan.”

Kalimat tersebut bukan berarti orang itu pergi ke kamar mandi.

Artinya, ia memilih tidak ikut bertanggung jawab atau melepaskan diri dari persoalan yang sedang terjadi.

Karena itu, memahami konteks menjadi penting ketika menemukan sebuah ungkapan.

Kalau seseorang berkata, “Jangan lupa cuci tangan sebelum makan,” silakan cari sabun.

Tetapi kalau seseorang berkata, “Jangan cuci tangan dari masalah ini,” jangan buru-buru mencari wastafel.

Kenapa Disebut “Cuci Tangan”?

Secara bahasa, ungkapan cuci tangan menggambarkan tindakan melepaskan sesuatu dari diri sendiri.

Dalam pemakaian kiasan, seseorang yang “cuci tangan” seolah-olah ingin membersihkan dirinya dari suatu persoalan, kesalahan, atau tanggung jawab.

Karena itu, ungkapan tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak mau lagi terlibat atau enggan bertanggung jawab terhadap suatu masalah.

Jadi, bukan tangannya yang menjadi persoalan.

Sikap terhadap masalahnyalah yang menjadi inti ungkapan.

Bedu tentu tidak sampai sejauh itu memikirkannya.

Baginya, selama ada kata “cuci”, solusi pertama tetap sabun.

Contoh Penggunaan “Cuci Tangan” dalam Kalimat

Agar tidak mengalami kesalahan seperti Bedu, berikut beberapa contoh penggunaan ungkapan cuci tangan dalam kalimat:

  1. “Setelah ikut mengambil keputusan, dia tidak boleh cuci tangan ketika masalah muncul.”
  2. “Warga meminta pihak terkait tidak cuci tangan dan segera menyelesaikan persoalan tersebut.”
  3. “Jangan cuci tangan setelah mengetahui ada masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama.”
  4. “Ia memilih cuci tangan dan menyerahkan seluruh persoalan kepada orang lain.”
  5. “Bedu mengira cuci tangan berarti menggunakan sabun, padahal yang dimaksud adalah tidak mau ikut bertanggung jawab.”

Dari contoh tersebut terlihat bahwa cuci tangan tidak selalu berkaitan dengan kebersihan fisik.

Konteks kalimat menentukan apakah maknanya benar-benar mencuci tangan atau merupakan ungkapan.

Jangan Sampai Salah Memahami Ungkapan

Bahasa Indonesia memiliki banyak ungkapan yang jika dipahami secara harfiah bisa membuat orang salah tingkah.

Ada gigit jari, tetapi bukan berarti benar-benar harus menggigit jari.

Ada panjang tangan, tetapi bukan berarti lengannya memanjang.

Ada besar kepala, tetapi bukan berarti ukuran kepalanya tiba-tiba membesar.

Ada pula kambing hitam, yang tentu saja tidak selalu berkaitan dengan kambing berbulu hitam.

Begitu juga dengan cuci tangan.

Dalam situasi tertentu, tangan memang harus dicuci. Namun dalam situasi lain, “cuci tangan” justru menggambarkan seseorang yang ingin melepaskan diri dari persoalan.

Bedu akhirnya memahami pelajaran itu setelah Pak RT menjelaskan panjang lebar.

Ia pun membereskan ember dan sabunnya.

“Tapi, Pak RT…”

“Apa lagi, Du?”

“Kalau tangan saya sudah telanjur pakai sabun, berarti saya tetap dapat manfaatnya, kan?”

Pak RT tertawa.

“Ya, itu baru cuci tangan yang benar!”

Bedu mengangguk puas.

“Berarti hari ini saya dapat dua pelajaran. Satu, jangan salah memahami ungkapan. Dua, tangan tetap harus bersih.”

Pak Udin langsung menyahut,

“Betul. Tapi kalau kursinya patah, jangan cuci tangan lagi. Cari siapa yang duduk terakhir!”

Warga kembali tertawa.

Pesan dari Rubrik JEDA

Ungkapan “cuci tangan” mengajarkan bahwa bahasa tidak selalu bisa dipahami hanya dari arti kata per kata.

Ada kalanya sebuah ungkapan memiliki makna kiasan yang berbeda dari arti sebenarnya.

Jadi, ketika mendengar seseorang berkata, “Saya cuci tangan dari masalah ini,” jangan langsung menyodorkan sabun.

Pahami dulu maksudnyam, sebab yang sedang dibicarakan bukan kebersihan tangan, melainkan sikap seseorang yang memilih tidak ikut campur atau tidak mau bertanggung jawab terhadap sebuah persoalan.

Dan untuk Bedu, kejadian hari itu menjadi pengingat sederhana Tidak semua cuci tangan membutuhkan sabun. Kadang yang perlu dicuci justru rasa tidak mau bertanggung jawab. (***)

 

Catatan Redaksi: Bedu, Pak RT, Pak Udin, Pak Jono, dan Kampung Manggu dalam artikel ini merupakan tokoh serta latar fiktif yang digunakan sebagai ilustrasi humor dan edukasi. Artikel ini membahas ungkapan bahasa Indonesia “cuci tangan” serta perbedaan antara makna harfiah dan makna kiasan.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bertemu Wabup OKI, Banyak Hal yang Dibahas Peradi 

    Bertemu Wabup OKI, Banyak Hal yang Dibahas Peradi 

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 948
    • 0Komentar

    WAKIL Bupati Ogan Komering Ilir, H. M. Dja’far Shodiq menerima kunjungan Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Advokat Indonesia Kayuagung yang akan membantu Pemerintah untuk mewujudkan masyarakat OKI yang sadar hukum. “Kesadaran hukum menjadi salah satu dimensi penting dalam kehidupan, sebagaimana amanat dalam pasal 1 ayat 3 UUD 1945, Indonesia adalah negara hukum. Maka dari itu, kita […]

  • Milanium Harus  Paham Kesehatan Reproduksi

    Milanium Harus  Paham Kesehatan Reproduksi

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 775
    • 0Komentar

    PENDIDIKAN seks bukan melulu soal hubungan seksual tapi juga pendidikan kesehatan reproduksi yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesehatan organ-organ reproduksi. Pendidikan seks penting dilakukan sejak dini untuk menghindari anak-anak dan para remaja dari berbagai macam kekerasan seksual yang makin marak terjadi di era millenial ini. Hasil Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) pada tahun 1994, […]

  • Budaya Melayu Bakal Jadi MK Ilmu Komunikasi di UIN Raden Fatah

    Budaya Melayu Bakal Jadi MK Ilmu Komunikasi di UIN Raden Fatah

    • calendar_month Kamis, 27 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 768
    • 0Komentar

    Oleh : Faldy Lonardo SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang berencana memasukan Budaya Melayu menjadi Mata Kuliah [MK] Ilmu Komunikasi di Program Studi(Prodi) Ilmu komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi guna menjaga Budaya Melayu sebagai kearifan lokal yang perlu dilestarikan. “Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang memang konsen untuk menjaga […]

  • Demi Kelestarian Dan Edukasi, Rusa Sambar Dilakukan Penangkaran

    Demi Kelestarian Dan Edukasi, Rusa Sambar Dilakukan Penangkaran

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 922
    • 0Komentar

    UNTUK menjaga kelestarian populasi dan edukasi Rusa Sambar, PT Timah Tbk bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan melakukan pemindahan sepuluh ekor indukan Rusa Sambar ke lokasi penangkaran di Tambang Besar Batu Besi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, belum lama ini. Sebelumnya PT Timah Tbk telah memiliki izin penangkaran Rusa Sambar dan Kijang […]

  • Atasi Masalah Pelayanan Kesehatan di Dusun Kluwung, Direktur Gunung Prisma Liwa Supriyanti Gandeng Habitat for Humanity Indonesia

    Atasi Masalah Pelayanan Kesehatan di Dusun Kluwung, Direktur Gunung Prisma Liwa Supriyanti Gandeng Habitat for Humanity Indonesia

    • calendar_month Kamis, 24 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 689
    • 0Komentar

    GUNUNG Prisma (GP), salah satu pemain kunci di industri baja, mengumumkan kerjasamanya dengan Habitat for Humanity Indonesia untuk mengatasi masalah pelayanan kesehatan di Dusun Kluwung. Di tengah tekanan pandemi COVID-19 yang tak henti-hentinya, dan beberapa tantangan terkait sistem perawatan kesehatan yang disorot, Gunung Prisma (GP) telah berada di garis depan inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan […]

  • Anggota DPRD Sumsel Gadaikan SK ke BSB

    Anggota DPRD Sumsel Gadaikan SK ke BSB

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.653
    • 0Komentar

    ANGGOTA DPRD Sumsel 2019-2024 mulai menggadaikan Surat Keputusan [SK] ke Bank Sumsel Babel [BSB] untuk jaminan pinjaman uang kepada Bank Sumsel Babel [BSB]. Ramadhan S Basyeban Sekretaris DPRD Prov. Sumsel membenarkan, namun sayangnya ia tidak menyebutkan nama-nama anggota dewan secara rinci. “Ya jelas sudah ada yang menggadaikan SK untuk pinjaman uang,”paparnya, Selasa [8/10/2019]. Menurutnya gadai […]

expand_less
WordPress Archive SohoWool – Handmade Craft Patterns Elementor Template Kit Solar Sure – Renewable Energy Business – Elementor Template Kit Solargy – Solar & Alternative Energy Elementor Template Kit Solarix - Solar & Renewable Energy Elementor Template Kit Solarva – Ecology & Solar Energy Theme Solaz – An Elegant Hotel & Lodge WordPress Theme Sole – One Page WordPress Theme Soledad – Multi-Concept Blog/Magazine/News AMP WordPress Theme Soleil – Solar Panels WordPress Theme Soleng | Solar Energy WordPress Theme