Cuci Tangan, Bedu Malah Cari Sabun Saat Diminta Bertanggung Jawab
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bedu memang terkenal punya cara sendiri dalam memahami perkataan orang. Kali ini, ia kembali bikin warga Kampung Manggu geleng-geleng kepala setelah salah menangkap ungkapan “cuci tangan”.
Bukannya menjauh dari sebuah masalah, Bedu malah sibuk mencari sabun.
Kejadiannya bermula ketika warga Kampung Manggu dibuat heboh oleh sebuah keributan kecil di depan warung Pak Udin. Sebuah kursi plastik milik warung tiba-tiba patah setelah diduduki beberapa orang secara bergantian.
Pak Udin langsung memasang wajah kesal.
“Siapa yang terakhir duduk di kursi ini?” tanyanya.
Semua orang saling pandang.
Bedu yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari warung akhirnya angkat bicara.
“Kayaknya tadi Pak Jono yang duduk paling terakhir.”
Pak Jono langsung membantah.
“Bukan saya, Du. Setelah saya berdiri, Bedu yang duduk di situ.”
Bedu terdiam.
Pak RT yang kebetulan berada di lokasi kemudian meminta mereka tidak saling lempar kesalahan.
“Sudah, jangan ribut. Yang penting sekarang kita cari tahu siapa yang menyebabkan kursi ini patah.”
Pak Jono kemudian mengangkat tangan.
“Kalau soal kursi ini, saya cuci tangan saja, Pak. Saya tidak mau ikut campur.”
Bedu yang mendengar kalimat itu langsung mengangguk serius.
“Wah, berarti memang harus cuci tangan kalau ada masalah seperti ini.”
Pak RT menoleh.
“Bukan begitu maksudnya, Du.”
Tapi Bedu sudah terlanjur pergi.
Tak lama kemudian ia kembali membawa ember, air, sabun, dan sebuah handuk.
Pak Udin sampai bengong.
“Bedu, kamu mau ngapain?”
“Cuci tangan, Pak.”
“Untuk apa?”
“Tadi Pak Jono bilang mau cuci tangan karena masalah kursi. Saya pikir supaya masalahnya selesai, tangan harus dicuci.”
Pak RT menahan tawa.
“Du, kalau semua masalah diselesaikan dengan sabun, mungkin kantor polisi sudah punya kamar mandi sebesar lapangan.”
Warga yang mendengar langsung tertawa.
Bedu masih belum mengerti.
“Jadi Pak Jono tidak benar-benar mau cuci tangan?”
“Ya tidak!”
“Terus tangannya kotor?”
“Bukan itu persoalannya!”
Bedu melihat ember di tangannya, kemudian melihat Pak Jono.
“Waduh. Berarti saya sudah menyiapkan air untuk masalah yang salah.”
Pak Udin tertawa.
“Yang perlu kamu cuci itu bukan tangan, Du. Cara memahami ungkapannya!”
Pembelajaran JEDA: Apa Arti “Cuci Tangan” Sebenarnya?
Nah, di sinilah letak kesalahpahaman Bedu.
Secara harfiah, cuci tangan memang berarti membersihkan tangan dengan air, biasanya menggunakan sabun.
Namun, dalam penggunaan bahasa Indonesia, “cuci tangan” juga merupakan ungkapan yang memiliki makna kiasan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ungkapan cuci tangan antara lain digunakan dengan makna tidak mau ikut campur dalam suatu urusan atau tidak mau bertanggung jawab terhadap suatu persoalan.
Jadi, ketika seseorang berkata, “Saya sudah cuci tangan dari masalah ini.”
Ia tidak sedang mengatakan bahwa telapak tangannya kotor.
Maksudnya, orang tersebut memilih melepaskan diri dari persoalan atau tidak ingin lagi terlibat dalam tanggung jawab atas masalah tersebut.
Itulah yang sebenarnya dimaksud Pak Jono.
Sayangnya, Bedu memahami perkataan tersebut secara mentah-mentah. Mendengar kata “cuci tangan”, yang muncul di kepalanya langsung air, sabun, ember, dan handuk.
Makna Harfiah dan Makna Kiasan
Ungkapan seperti cuci tangan menarik karena satu rangkaian kata dapat memiliki arti berbeda tergantung konteksnya.
Dalam makna harfiah, cuci tangan berarti membersihkan tangan.
Misalnya “Sebelum makan, cucilah tangan menggunakan sabun.”
Tidak ada makna tersembunyi dalam kalimat tersebut. Memang tangannya yang dicuci.
Sementara dalam makna kiasan, cuci tangan berkaitan dengan sikap seseorang terhadap suatu persoalan.
Contohnya “Setelah keputusan itu menimbulkan masalah, dia justru cuci tangan.”
Kalimat tersebut bukan berarti orang itu pergi ke kamar mandi.
Artinya, ia memilih tidak ikut bertanggung jawab atau melepaskan diri dari persoalan yang sedang terjadi.
Karena itu, memahami konteks menjadi penting ketika menemukan sebuah ungkapan.
Kalau seseorang berkata, “Jangan lupa cuci tangan sebelum makan,” silakan cari sabun.
Tetapi kalau seseorang berkata, “Jangan cuci tangan dari masalah ini,” jangan buru-buru mencari wastafel.
Kenapa Disebut “Cuci Tangan”?
Secara bahasa, ungkapan cuci tangan menggambarkan tindakan melepaskan sesuatu dari diri sendiri.
Dalam pemakaian kiasan, seseorang yang “cuci tangan” seolah-olah ingin membersihkan dirinya dari suatu persoalan, kesalahan, atau tanggung jawab.
Karena itu, ungkapan tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak mau lagi terlibat atau enggan bertanggung jawab terhadap suatu masalah.
Jadi, bukan tangannya yang menjadi persoalan.
Sikap terhadap masalahnyalah yang menjadi inti ungkapan.
Bedu tentu tidak sampai sejauh itu memikirkannya.
Baginya, selama ada kata “cuci”, solusi pertama tetap sabun.
Contoh Penggunaan “Cuci Tangan” dalam Kalimat
Agar tidak mengalami kesalahan seperti Bedu, berikut beberapa contoh penggunaan ungkapan cuci tangan dalam kalimat:
- “Setelah ikut mengambil keputusan, dia tidak boleh cuci tangan ketika masalah muncul.”
- “Warga meminta pihak terkait tidak cuci tangan dan segera menyelesaikan persoalan tersebut.”
- “Jangan cuci tangan setelah mengetahui ada masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama.”
- “Ia memilih cuci tangan dan menyerahkan seluruh persoalan kepada orang lain.”
- “Bedu mengira cuci tangan berarti menggunakan sabun, padahal yang dimaksud adalah tidak mau ikut bertanggung jawab.”
Dari contoh tersebut terlihat bahwa cuci tangan tidak selalu berkaitan dengan kebersihan fisik.
Konteks kalimat menentukan apakah maknanya benar-benar mencuci tangan atau merupakan ungkapan.
Jangan Sampai Salah Memahami Ungkapan
Bahasa Indonesia memiliki banyak ungkapan yang jika dipahami secara harfiah bisa membuat orang salah tingkah.
Ada gigit jari, tetapi bukan berarti benar-benar harus menggigit jari.
Ada panjang tangan, tetapi bukan berarti lengannya memanjang.
Ada besar kepala, tetapi bukan berarti ukuran kepalanya tiba-tiba membesar.
Ada pula kambing hitam, yang tentu saja tidak selalu berkaitan dengan kambing berbulu hitam.
Begitu juga dengan cuci tangan.
Dalam situasi tertentu, tangan memang harus dicuci. Namun dalam situasi lain, “cuci tangan” justru menggambarkan seseorang yang ingin melepaskan diri dari persoalan.
Bedu akhirnya memahami pelajaran itu setelah Pak RT menjelaskan panjang lebar.
Ia pun membereskan ember dan sabunnya.
“Tapi, Pak RT…”
“Apa lagi, Du?”
“Kalau tangan saya sudah telanjur pakai sabun, berarti saya tetap dapat manfaatnya, kan?”
Pak RT tertawa.
“Ya, itu baru cuci tangan yang benar!”
Bedu mengangguk puas.
“Berarti hari ini saya dapat dua pelajaran. Satu, jangan salah memahami ungkapan. Dua, tangan tetap harus bersih.”
Pak Udin langsung menyahut,
“Betul. Tapi kalau kursinya patah, jangan cuci tangan lagi. Cari siapa yang duduk terakhir!”
Warga kembali tertawa.
Pesan dari Rubrik JEDA
Ungkapan “cuci tangan” mengajarkan bahwa bahasa tidak selalu bisa dipahami hanya dari arti kata per kata.
Ada kalanya sebuah ungkapan memiliki makna kiasan yang berbeda dari arti sebenarnya.
Jadi, ketika mendengar seseorang berkata, “Saya cuci tangan dari masalah ini,” jangan langsung menyodorkan sabun.
Pahami dulu maksudnyam, sebab yang sedang dibicarakan bukan kebersihan tangan, melainkan sikap seseorang yang memilih tidak ikut campur atau tidak mau bertanggung jawab terhadap sebuah persoalan.
Dan untuk Bedu, kejadian hari itu menjadi pengingat sederhana Tidak semua cuci tangan membutuhkan sabun. Kadang yang perlu dicuci justru rasa tidak mau bertanggung jawab. (***)
Catatan Redaksi: Bedu, Pak RT, Pak Udin, Pak Jono, dan Kampung Manggu dalam artikel ini merupakan tokoh serta latar fiktif yang digunakan sebagai ilustrasi humor dan edukasi. Artikel ini membahas ungkapan bahasa Indonesia “cuci tangan” serta perbedaan antara makna harfiah dan makna kiasan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
