Gigit Jari, Bedu Salah Paham sampai Jempol Sendiri Jadi Korban
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto :ilustrasi /AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pernah mendengar ungkapan “gigit jari” dan mengira seseorang benar-benar menggigit jarinya? Jangan sampai seperti Bedu. Gara-gara salah memahami makna ungkapan tersebut, ia malah benar-benar menggigit jempol sendiri setelah gagal mendapatkan hadiah yang diidam-idamkannya.
Di Balai Desa Kampung Manggu masih ramai ketika pengumuman pemenang undian kuis dibacakan. Begitu nomor pemenang disebutkan, warga langsung bersorak. Bedu yang sejak tadi sudah senyum-senyum membayangkan mesin cuci baru di rumah ikut menahan napas.
Namun, senyum di wajahnya mendadak hilang. Nomor yang disebut ternyata bukan miliknya, melainkan nomor Pak Somad.
Bedu langsung lemas. Ia bersandar di tiang kayu sambil menatap kosong ke arah panggung. Harapan membawa pulang mesin cuci baru yang sejak tadi dibayangkannya pun seketika buyar.
Melihat Bedu yang masih terpaku, Pak RT yang kebetulan lewat menepuk bahunya.
“Sabar, Du. Jangan patah semangat. Daripada cuma bisa gigit jari karena nggak dapat hadiah, mending ikut Bapak makan bakso, yuk!”
Mendengar ucapan Pak RT, Bedu langsung melotot.
Dalam pikirannya yang polos, Bedu membatin. “Wah, Pak RT tahu saja kalau gigit jari bisa jadi penawar rasa kecewa!”
Tanpa pikir panjang, Bedu mengangkat jempol kanannya, memasukkannya ke dalam mulut, lalu MENGGIGITNYA KUAT-KUAT!
“AUUWW! SAKITTT!”
Bedu spontan meloncat sambil memegangi jempolnya.
Pak RT kaget bukan main. Mangkok baksonya sampai hampir tumpah. “Lho, Bedu! Kamu kenapa tiba-tiba gigit jempol sendiri sampai jerit-jerit begitu?!”
Sambil mengusap air mata yang hampir menetes, Bedu menjawab polos,
“Lha, tadi Pak RT yang nyuruh! Katanya daripada cuma bisa gigit jari, mending makan bakso. Ya sudah, saya coba gigit jari dulu biar rasa kecewa karena gagal dapat mesin cuci hilang. Tapi ternyata sakit banget, Pak!”
Pak RT cuma bisa menepuk jidat. “Duh, Bedu… Bedu… Makanya kalau sekolah jangan bolos terus!”
Pembelajaran JEDA: Apa Arti “Gigit Jari” Sebenarnya?
Setelah adegan Bedu sibuk meniup jempolnya yang memerah, mari kita luruskan kesalahpahaman unik ini agar tidak ada korban jempol berikutnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “gigit jari” merupakan ungkapan kiasan yang berarti kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu yang diharapkan.
Jadi, ketika seseorang berkata, “Saya cuma bisa gigit jari,” ia bukan sedang memberi tahu bahwa jarinya sedang digigit. Ia sedang menggambarkan keadaan ketika harapannya tidak terpenuhi.
Itulah yang terjadi pada Bedu. Ia memang kecewa karena gagal mendapatkan mesin cuci, tetapi ia keliru memahami ungkapan tersebut sebagai tindakan yang harus dilakukan untuk menghilangkan rasa kecewa.
Makna Harfiah dan Makna Kiasan
Kesalahan Bedu sebenarnya terjadi karena ia memahami ungkapan secara harfiah, padahal gigit jari digunakan dalam makna kiasan.
Sederhananya, secara harfiah, menggigit jari dengan gigi dan secara kiasan, kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu yang diharapkan.
Jadi, gigit jari bukanlah cara untuk mengobati rasa kecewa. Sebaliknya, ungkapan tersebut justru menggambarkan rasa kecewa itu sendiri.
Kalau seseorang sudah berharap mendapatkan sesuatu tetapi ternyata gagal memperolehnya, ia bisa dikatakan gigit jari.
Dan tentu saja, tidak perlu benar-benar menggigit jempol seperti Bedu.
Contoh Penggunaan “Gigit Jari” dalam Kalimat
Ungkapan gigit jari dapat digunakan dalam berbagai situasi ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
- “Sudah antre tiket konser dari jam lima pagi, eh pas giliran saya malah kehabisan. Akhirnya cuma bisa gigit jari.”
- “Tim itu harus gigit jari setelah gol di menit terakhir dianulir wasit.”
- “Sudah berharap mendapat hadiah utama, ternyata nomor pemenangnya milik orang lain. Bedu pun cuma bisa gigit jari.”
- “Ia harus gigit jari setelah kesempatan mendapatkan beasiswa itu jatuh kepada peserta lain.”
Pesan dari Rubrik JEDA
Jadi, kalau suatu hari temanmu berkata, “Aduh, saya cuma bisa gigit jari nih!”
Kamu tidak perlu mengambilkan minyak angin atau memanggil ambulans.
Cukup pahami bahwa yang sedang “sakit” bukan jarinya, melainkan harapannya yang kandas. Kalau mau menghibur, belikan es teh manis atau ajak makan bakso.
Tapi ingat, jangan suruh dia benar-benar menggigit jari!
Dan untuk Bedu? Untung saja Pak RT tidak menyuruhnya panjang tangan atau berat kepala. Kalau semua ungkapan dipahami secara harfiah, bisa makin repot urusannya!
Catatan Redaksi: Cerita Bedu, Pak RT, dan Kampung Manggu dalam artikel ini merupakan cerita fiksi dan ilustrasi humor yang dibuat untuk keperluan edukasi. Artikel ini membahas makna ungkapan bahasa Indonesia “gigit jari” dan mengajak pembaca memahami perbedaan antara makna harfiah dan makna kiasan dengan cara yang ringan dan menyenangkan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
