Rabu, 19 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » CATATAN PINGGIR : TUA [Dulu Kencang Sekarang Kendor]

CATATAN PINGGIR : TUA [Dulu Kencang Sekarang Kendor]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 15 Jun 2025
  • visibility 1.151
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id,- Tua itu ibarat baterai hape jadul, awalnya tahan dua hari, sekarang baru bangun tidur aja udah 5%. Dulu, badan kita masih kayak shockbreaker motor trail, mau dibanting gimana pun, tetap lentur dan gesit. Sekarang? baru salah posisi tidur semalam, bangun pagi udah kayak bekas lipatan karpet gulung, kaku semua, tak tahan dengan dingin ubin.

Dulu bangun pagi kayak tentara, langsung tegak, mandi, dan siap kerja. Sekarang? bangun aja susah pake tahan sepuluh jari ke dinding kamar untuk keseimbangan tubuh, udah itu butuh pemanasan, stretching, dan sedikit motivasi spiritual. Bahkan ada fase “loading otak”, ha hay…, sebelum kaki nyentuh lantai. “Tunggu, aku siapa? Ini hari apa? Masih hidup?” Baru setelah itu kaki bisa mulai jalan dengan drama punggung kriuk-kriuk kayak membuka bungkus kerupuk.

Dulu, rambut masih hitam legam, tajam kayak garis eyeliner Syahrini. Sekarang? Udah kayak lahan sawah siap panen—putih, merata, dan makin hari makin banyak. Dulu  nungguin salju turun di drama Korea, sekarang kita malah jadi tokoh utamanya, rambut putihnya lebih natural dari efek visual.

Waktu kecil, kita pengen cepet tua biar bisa bebas. Eh, pas udah tua, malah pengen jadi bocah lagi, karena jadi tua itu banyak notifikasi dari tubuh lutut bilang capek, pinggang ngambek tiap naik tangga, nafas ngos-ngosan, jantung debar, berkeringat serta perut? Nah ini… dia punya cerita sendiri.

Kalau soal makan, dulu kita bagaikan kerbau lepas dari kandang. Semua dimakan, tanpa rem. Nasi goreng dua piring luder diembat gak mikir yang lain? Gampang. Keripik satu toples? Habis sebelum sinetron mulai. Sekarang? Baru nyicip sambal aja, perut langsung siaran pers. “Maaf, perut ini tidak menerima makanan pedas tanpa jadwal konsultasi terlebih dahulu”.

Kata orang bijak, “Isi piring menunjukkan isi hati”. Tapi makin tua, isi piring kita makin minimalis. Dulu isinya penuh sampe tumpah-tumpah, sekarang isinya cuma nasi setengah sendok, sayur dua lembar, dan lauk kecil yang keliatan lebih cocok buat boneka Barbie. Takut darah naik, diabet, asam urat, kalestrol..he..he!!.

Dulu kita makan steak, burger, mie pedas level 20. Sekarang? Bubur ayam pun dipesan yang tanpa lada, tanpa bawang goreng, tanpa kerupuk, pokoknya bubur versi zen. Kita udah lebih kenal dengan makanan rebus, kukus, dan kukusannya kadang malah lebih menggoda dari lauknya, alasannya ? ya salah satunya gigi udah mulai berkurang.

Yang paling kocak itu kalau kita mulai cerewet soal bahan makanan. Kayak detektif gizi. Beli biskuit aja diperiksa “Ini gulanya berapa gram? Ada pengawetnya gak? MSG-nya natural atau kimia?” Dulu yang penting enak, sekarang yang penting gak bikin jantung goyang.

Kadang makanan sederhana jadi luar biasa. Dulu tempe goreng cuma makanan selingan, sekarang bisa jadi highlight harian. Kita makan tempe sambil bilang, “Hidup ini nggak butuh mewah, asal bisa senyum dan kenyang”.

Dan tentu, makin tua itu kita makin sayang sama isi perut. Karena sekarang, makan itu bukan soal kenyang, tapi soal perasaan. Makan bareng keluarga, meski menunya sederhana, rasanya kayak pesta ulang tahun penuh tawa, penuh syukur, dan tentu penuh rempah kebersamaan.

Nah, perut yang dulu rata, sekarang mulai ngebentuk apa yang disebut dengan buncit. Udah gak bisa bohong, kalau tiap kali liat cermin, “Ini apa, ya, kok makin nyentuh meja?”.
Tapi ya, meskipun fisik kita mulai berubah, ternyata kita jadi lebih sabar ngadepin diri sendiri.

Dulu, mungkin kita benci sama perubahan itu, tapi sekarang kita cuma bisa ketawa dan bilang, “Ya, emang sih, fisik makin berubah, tapi yang penting kan tetap sehat dan bisa ketawa.” Bahkan, tubuh yang mulai kendor ini kadang bikin kita sadar, meskipun kita nggak bisa lari cepet lagi, kita masih bisa meraih kebahagiaan dengan cara yang lebih santai.
Yang paling seru, sih, perubahan fisik ini sering jadi bahan banyolan di keluarga. Misalnya, lagi makan bareng, lo bilang, “Coba liat deh, kok tiba-tiba badan gue nggak kayak dulu ya? Kayaknya pas udah tua, ukuran baju ikut bertambah juga!”. Anak-anak lo cuma bisa ketawa sambil bilang, “Ya, gitu deh, pak. Kita semua jadi korban gravitasi!”.

Tua itu bukan akhir dari segalanya. Tapi awal dari pertunjukan baru di mana tubuh mulai melambat, tapi hati jadi lebih peka. Di mana isi piring menyusut, tapi rasa syukur membuncah.  Meskipun tubuh ini mulai kendor, cinta kita ke hidup justru makin kencang. Ingat pepatah Jawa, “Sepuh kuwi dudu lemah, mung ngalih posisi saka mlayu dadi mlaku, saka mlaku dadi lungguh, saka lungguh dadi nyantai, tapi isih iso ngguyu kenceng!”.[***]/bersambung

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jakarta Peringkat 8 Dunia KepercayaanTransformasi Digital

    Jakarta Peringkat 8 Dunia KepercayaanTransformasi Digital

    • calendar_month Kamis, 18 Jan 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.120
    • 0Komentar

    Pemerintah mendukung pertumbuhan sektor bisnis dalam pembinaan kewirausahaan digital.

  • Tips Cerdas Beli Mobil Bekas, Anti Ketipu!

    Tips Cerdas Beli Mobil Bekas, Anti Ketipu!

    • calendar_month Rabu, 17 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.462
    • 0Komentar

    SEANDAINYA kamu lagi hunting mobil bekas, tapi hati-hati, jangan sampai dompetmu dikira pasar malam, diborong habis-habisan! Membeli mobil bekas itu mirip cari jodoh, penampilan boleh cakep, tapi hati (mesin) dan karakter (riwayat servis) yang penting. Pepatah bilang, “Air tenang menghanyutkan,” sama seperti mobil tampak kinclong tapi mesinnya rewel. 1. Mesin itu Hati Mobil Mesin sehat […]

  • Apakah Indonesia Bisa Cetak 10 Juta Coder dalam 3 Tahun?

    Apakah Indonesia Bisa Cetak 10 Juta Coder dalam 3 Tahun?

    • calendar_month Selasa, 16 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.253
    • 0Komentar

    APAKAH Indonesia bisa cetak 10 juta coder dalam 3 tahun?, pertanyaan ini mirip seperti orang nanya “Bisa nggak bikin mie instan untuk satu kampung cuma pakai satu panci?”. Jawabannya bisa saja, asal pancinya besar, apinya nyala terus, dan tukang masaknya nggak kabur duluan. Nah, begitulah kira-kira ambisi pemerintah RI bareng Uni Emirat Arab (UEA) yang […]

  • Persaingan Semakin Ketat, Berwirausaha Cara Terbaik Anak Muda Hadapi Persaingan Global

    Persaingan Semakin Ketat, Berwirausaha Cara Terbaik Anak Muda Hadapi Persaingan Global

    • calendar_month Jumat, 16 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 842
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terus melakukan kolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) untuk menumbuhkan minat kewirausahaan pemuda Indonesia. Salah satunya dengan menyelenggarakan Kick Off Kuliah Kewirausahaan Pemuda Tahun 2021 yang dibuka langsung oleh Menpora Zainudin Amali, Kamis (15/7/2021) di Jakarta. Menpora menyampaikan acara ini merupakan suatu upaya ikhtiar untuk menumbuhkan […]

  • 15 Ribu Bibit Karet Untuk Kelompok Tani Babat Toman

    15 Ribu Bibit Karet Untuk Kelompok Tani Babat Toman

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 933
    • 0Komentar

    KELOMPOK kelompok petani karet di Kecamatan Babat Toman menerima bantuan 15.000 batang bibit unggul karet dari Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Sumsel I dan Ditjen Perkebunan RI. Bantuan sektor pertanian karet tersebut diserahkan langsung oleh Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Sumsel I Riezky Aprilia SH MH dan Sekretaris […]

  • Forkompimda Muba Komit Lakukan Pengawasan 5 Pintu Masuk Diperketat

    Forkompimda Muba Komit Lakukan Pengawasan 5 Pintu Masuk Diperketat

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 959
    • 0Komentar

      PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin memilih kebijakan memperketat penjagaan dan pemeriksaan lalu lintas orang di pintu-pintu masuk wilayah guna mencegah penularan Virus Corona di Bumi Serasan Sekate. “Hari ini kita gelar pasukan di Polres Muba untuk memastikan kesiapan petugas dalam melakukan penjagaan dan pengamanan. Kita lakukan pembatasan pergerakan pintu masuk ke Muba. Ada 5 titik […]

expand_less
WordPress Archive Everest Forms Survey, Polls and Quiz Everest Google Places Reviews Everly – Blog & Magazine Elementor Template Kit Evernet – Broadband & Internet Service Provider Elementor Template Kit Evior – Modern Magazine WordPress Theme Evisa – Immigration and Visa Consulting WordPress Theme Evne – Creative Portfolio WordPress Theme Evomind – Home Healthcare Services Elementor Template Kit Evont – Event And Conference WordPress Theme Ewa – Beauty & Spa Salon Elementor Template Kit