Kamis, 20 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Inspirasi » “Surat-Surat Kartini &  PR Panjang Kesetaraan Gender Indonesia”

“Surat-Surat Kartini &  PR Panjang Kesetaraan Gender Indonesia”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
  • visibility 1.034
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA pepatah Jawa bilang, “urip iku sawang-sinawang” – hidup itu tergantung cara kita memandang, namun kalau bicara tentang perjuangan perempuan, jangan-jangan sampai sekarang kita masih memandang dengan kacamata buram. Padahal sudah lebih dari seratus tahun lalu, seorang perempuan muda dari Jepara bernama Raden Ajeng Kartini menulis surat-surat yang isinya bisa bikin kita meringis, tertawa getir, sekaligus terhenyak, kok masalahnya masih sama, ya?

Ya, surat-surat Kartini, yang kini resmi ditetapkan UNESCO sebagai “Memory of the World”, bukan sekadar arsip tua yang bau lemari kayu. Ia ibarat guru yang masih aktif mengajar. Bedanya, kalau dulu Kartini harus nulis pakai tinta dan menunggu balasan berbulan-bulan, sekarang kita bisa baca di layar ponsel sambil rebahan. Tapi substansi ajarannya, tetap segar, tetap nyelekit.

Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis kepada sahabat penanya, Stella Zeehandelaar “Kami di sini minta kepada Tuhan, supaya perempuan juga memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki. Hanya dengan pendidikan itulah kaum perempuan dapat memperbaiki nasibnya” (Surat Kartini, 25 Mei 1899, Habis Gelap Terbitlah Terang).

Lha, coba kita tengok Indonesia hari ini, katanya sudah merdeka hampir 80 tahun, tapi masih ada ribuan anak perempuan di pelosok yang putus sekolah karena dinikahkan dini. Pendidikan anak perempuan masih dianggap “opsional”, kayak menu tambahan di warteg kalau ada duit ya silakan, kalau enggak ya sudah, yang penting bisa masak dan momong anak.

Ironis, kan? Kartini sudah teriak sejak 1899, tapi 2025 kita masih ribut soal yang sama. Seakan-akan PR bangsa ini tebalnya kayak skripsi tujuh bab, tapi belum juga disetor ke dosen penguji.

Kartini memang hidup dalam pingitan, ia bahkan menyebut dirinya seperti “burung dalam sangkar”. Namun, burung itu tidak diam, ia berkicau dengan tinta, dan suaranya kini menggema sampai ruang-ruang sidang parlemen.

Pertanyaannya, sudahkah kita memberi ruang bagi perempuan untuk benar-benar berkicau di politik? Memang, ada kursi kuota 30 persen di DPR, tapi sering kali kursi itu hanya jadi hiasan, kayak pajangan vas bunga di ruang tamu bagus dilihat, tapi tidak ikut menentukan menu makan malam.

Padahal, representasi politik perempuan bukan sekadar simbol, kalau hanya sekadar hadir tapi tidak bersuara, itu sama saja seperti menonton wayang tapi dalangnya tetap lelaki semua.

Isu lain yang masih relevan, perkawinan anak. Kartini dulu protes karena perempuan dipaksa menikah di usia muda, tanpa kesempatan mengejar ilmu. Eh, 2025, datanya masih bikin geleng-geleng kepala. UNICEF mencatat, satu dari sembilan perempuan di Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun.

Bayangkan, seratus tahun lebih setelah Kartini, kita masih sibuk dengan urusan yang sama. Rasanya kayak nonton sinetron 300 episode, tapi konfliknya tetap itu-itu saja rebutan warisan, kawin paksa, mertua galak.

Kalau boleh jujur, kita sebenarnya butuh “Kartini digital” di zaman sekarang, bukan sekadar foto hitam-putih dengan kebaya di dinding sekolah, tapi jiwa mudanya yang berani melawan arus. Bayangkan kalau Kartini hidup di era media sosial, mungkin dia sudah jadi seleb Twitter dengan thread edukasi viral soal kesetaraan gender, atau bikin kanal YouTube berjudul “Ngaji Emansipasi”.

Surat-suratnya mengajarkan kita bahwa suara perempuan bukan sekadar keluhan dapur, tapi gagasan besar untuk bangsa. Seperti yang ia tulis

“Kami ingin sekali membuat kaum perempuan mengerti, supaya mereka tahu apa yang mereka kehendaki, supaya mereka tahu pula bahwa mereka berhak akan kemerdekaan, berhak akan kemerdekaan berpikir dan berhak pula akan bekerja.” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Nah, kalau itu bukan bahan kuliah gratis, lalu apa?

Pelajaran tak boleh diulang

Melihat kenyataan ini, jelaslah, Kartini masih mengajar kita, ia mengajarkan  pendidikan perempuan bukan tambahan, tapi pondasi. Ia mengingatkan bahwa perkawinan anak bukan tradisi mulia, melainkan jerat masa depan. Ia menegur bahwa kesetaraan gender bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan panjang yang mesti terus dirawat.

Pepatah Jawa bilang, “jer basuki mawa bea”,  segala keberhasilan butuh pengorbanan, kartini sudah membayar mahal dengan pingitan, air mata, dan surat-surat penuh rindu akan kebebasan. Kini, pertanyaannya, apakah kita tega membiarkan muridnya gagal ujian, padahal gurunya sudah kasih contekan sejak 1899?. Kalau itu sampai terjadi, artinya kita bukan hanya malas belajar, tapi juga abai pada sejarah.

Penetapan surat-surat Kartini sebagai “Memory of the World” UNESCO seharusnya bukan seremoni sekali jadi. Ia adalah alarm semacam “peringatan WhatsApp” dari masa lalu.

Bila masih ada kesenjangan pendidikan, bila anak perempuan masih dinikahkan paksa, bila representasi politik perempuan hanya sekadar kosmetik, maka bangsa ini sebenarnya belum lulus dari kelas Kartini. Kita baru sekadar menghafal teori, belum pernah serius mengerjakan soal praktik.

Surat-surat Kartini jangan sampai hanya jadi benda pameran yang indah dipandang di etalase ANRI, tapi kehilangan nyawa di kehidupan nyata. Surat-surat itu bukan hiasan dinding, melainkan peta jalan. Ia bukan nostalgia masa lalu, melainkan GPS yang menuntun kita agar tidak tersesat di masa depan.

Mari kita baca, renungkan, lalu jalankan, jangan tunggu generasi cucu kita nanti masih menulis skripsi dengan judul, “Kesetaraan Gender: PR yang Tak Pernah Selesai Sejak Kartini”. Cukuplah kita yang kebagian PR itu, biarlah generasi berikutnya tinggal menikmati hasil belajar kita, bukan menanggung ulangan susulan karena kita malas belajar.

Sejatinya, Kartini masih duduk di depan kelas bangsa ini, dengan tatapan tajam khasnya, ia mengetuk meja kayu tua sambil berkata “Anak-anak, kapan kalian mau sungguh-sungguh belajar?”. Dan kalau kita masih pura-pura tidur di bangku belakang, jangan salahkan sejarah kalau kelak nilai rapor bangsa ini merah menyala.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Putus Mata Rantai COVID-19, Pemkot Pagaralam Kembali Semprot Disinfektan

    Putus Mata Rantai COVID-19, Pemkot Pagaralam Kembali Semprot Disinfektan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.412
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota Pagar Alam melalui Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan Covid-19 kembali melakukan penyemprotan disinfektan untuk memutus mata rantai penyebaran wabah Covid-19 di Kota Pagar Alam. Penyemprotan disinfektan dilakukan tim gabungan Dinas Kesehatan, BPBD, Sat Pol PP dan Polres Pagar Alam, di fokuskan di seluruh toko yang ada di kawasan Pasar Dempo Permai, Sabtu (28/3/2020). […]

  • Gubernur  Dukung Upaya Terwujudnya Kota Lubuklinggau Menjadi  Kota Niaga dan Pariwisata

    Gubernur  Dukung Upaya Terwujudnya Kota Lubuklinggau Menjadi  Kota Niaga dan Pariwisata

    • calendar_month Selasa, 16 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 897
    • 0Komentar

    Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru mengatakan, pada tahun ini Bantuan Gubernur Khusus yang akan dikucurkan berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini menurutnya jumlah pagu anggaran yang akan menyesuaikan program usulan kab/kota. Oleh karena itu pihaknya meminta agar dari 4 bidang yang diusulkan Kota Lubuklinggau untuk mendapatkan Bangub Khusus lebih dikerucutkan, kata gubernur saat menerima […]

  • VSAT STAR hadir di Lalan

    VSAT STAR hadir di Lalan

    • calendar_month Selasa, 13 Des 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 744
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Lalan-  Pemkab Muba Kerjasama dengan PT Telkom Indonesia membangun jaringan internet VSat Star produk SpaceX Elon Musk,  berupa jaringan internet satelit untuk percepatan layanan ineternet bagi warga Lalan.   Pemkab Muba melalui Dinas Kominfo Muba memfasilitasi jaringan internet starlink yang merupakan jaringan internet produk Space X – Starlink Elon Musk. Ini merupakan kali […]

  • Target 34 Ribu Ha, Antisipasi Perubahan Iklim, Presiden Jokowi Tanam Mangrove Bersama Masyarakat

    Target 34 Ribu Ha, Antisipasi Perubahan Iklim, Presiden Jokowi Tanam Mangrove Bersama Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 23 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 673
    • 0Komentar

    PRESIDEN RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan penanaman pohon mangrove bersama masyarakat, di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, belum lama ini. Tak hanya di Cilacap, Jawa Tengah, penanaman mangrove ini juga dilakukan serentak di sembilan provinsi lainnya yang juga turut disaksikan Presiden melalui konferensi video. Sembilan daerah tersebut adalah Sumatra Utara, Kepulauan […]

  • Pemerintah Terus Siapkan SDM Berkualitas, Pendidikan Usia Dini dan Kesetaraan Sekarang Ini Meningkat

    Pemerintah Terus Siapkan SDM Berkualitas, Pendidikan Usia Dini dan Kesetaraan Sekarang Ini Meningkat

    • calendar_month Selasa, 8 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 621
    • 0Komentar

    PADA tahun sebelumnya, nilai satuan biaya per peserta didik PAUD dan pendidikan kesetaraan sebesar Rp600 ribu per tahun. Sekarang, menjadi Rp600 ribu sampai Rp1,2 juta per tahun yang berarti untuk menyiapkan sumber daya manusia berkualitas meningkat. Yang jelas, pemerintah terus menyiapkan generasi yang cerdas dan berkarakter menyongsong Indonesia Emas 2045. Pemerintah tidak hanya mengembangkan pendidikan […]

  • DPRD Sumsel Dengarkan Pidato Gubernur Sumsel Sampaikan LKPJ Tahun 2024

    DPRD Sumsel Dengarkan Pidato Gubernur Sumsel Sampaikan LKPJ Tahun 2024

    • calendar_month Minggu, 23 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 249
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar rapat paripurna XI dipimpin oleh Ketua DPRD Sumsel Andie Dinialdie, SE., MM. Rapat di ruanga rapat Paripurna DPRD Sumsel. Senin 23 Maret 2025. Gubernur Sumsel Herman Deru menyebut hingga akhir tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumsel berhasil tumbuh mencapai 5,03%, melebihi capaian nasional […]

expand_less
WordPress Archive Kayoo – Wood Company Woocommerce Elementor Template Kit Kaywo – Furniture Services Elementor Template Kit Kazron – Photography Elementor WordPress Theme Kebun – Garden Service Elementor Template Kit Kedavra – Clean Multi-Concept Elegant Theme Kenchiku – Architecture & Interior Design Elementor Template Kit Kendall – Spa, Hair & Beauty Salon WordPress Theme Kenela – Dog Breeder & Adoption WordPress Theme KenthaRadio – Addon for Kentha Music WordPress To Add Radio Station and Schedule Functionality Kerge | Resume WordPress