Ruang Bermain Aman, Awal Anak Percaya pada Dunia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 23 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemensos.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ANAK-anak itu berdiri berjajar sambil saling merangkul bahu temannya, sebagian tersenyum ke arah kamera, sebagian lagi menatap lurus dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Di antara tawa yang pecah sesekali, tak ada yang sibuk menggenggam gawai atau duduk menyendiri. Mereka hanya menjadi anak-anak, bermain, bercanda, dan menikmati kebersamaan.
Pemandangan sederhana itu mengingatkan masa kecil bukan hanya tentang tumbuh menjadi lebih tinggi atau lebih pintar. Masa kecil adalah tentang memiliki ruang untuk berlari tanpa rasa takut, tertawa tanpa khawatir, dan mengenal dunia melalui permainan. Sebab, bagi seorang anak, rasa percaya kepada dunia sering kali lahir dari lingkungan pertama yang membuatnya merasa aman.
Sayangnya, ruang seperti itu tidak selalu mudah ditemukan. Di tengah padatnya permukiman, meningkatnya penggunaan gawai, hingga minimnya ruang publik yang ramah anak, kesempatan bermain bersama perlahan berkurang. Padahal, bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Bermain adalah cara anak belajar memahami kehidupan.
Saat menunggu giliran bermain, anak belajar bersabar, ketika berbagi mainan, mereka mengenal arti menghargai orang lain. Saat menyelesaikan perbedaan kecil dengan teman, mereka sedang membangun kemampuan berkomunikasi dan mengelola emosi. Bahkan ketika terjatuh lalu bangkit kembali, anak sedang belajar tentang keberanian dan ketangguhan.
Kesadaran setiap anak berhak memiliki ruang yang aman untuk tumbuh itulah yang mendorong Kementerian Sosial menghadirkan Taman Anak Sejahtera (TAS) di Sentra Alyatama Jambi. Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026, taman tersebut diluncurkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pengasuhan positif melalui penyediaan ruang publik yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak.
Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI MK Agung Suhartoyo mengatakan, pemenuhan hak anak tidak cukup hanya dengan memastikan mereka terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan. Anak juga membutuhkan ruang yang mendukung proses tumbuh kembangnya secara utuh.
“Taman Anak Sejahtera merupakan bentuk komitmen Kementerian Sosial dalam menghadirkan ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak. Di tempat inilah anak-anak dapat bermain, belajar, berkreasi, dan mengembangkan potensi mereka,” ujar Agung.
Menurutnya, kehadiran Taman Anak Sejahtera juga dirancang untuk melengkapi peran keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter. Ketika rumah menjadi tempat anak memperoleh kasih sayang dan taman menjadi ruang untuk belajar bersosialisasi, keduanya akan saling menguatkan dalam membentuk pribadi yang sehat, bahagia, dan berkarakter.
Semangat itulah yang juga dibawa dalam Talkshow Parenting yang digelar bersamaan dengan peluncuran Taman Anak Sejahtera. Orang tua, pengasuh, pekerja sosial, pendamping, hingga masyarakat diajak melihat kembali makna pengasuhan. Bahwa mendampingi anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian, atau pendidikan, tetapi juga menyediakan waktu untuk mendengar cerita mereka, bermain bersama, dan hadir dalam setiap proses tumbuh kembangnya.
Materi bermanfaat
Pesan itu dirasakan langsung oleh Siti Romlah (27). Ibu dari Zidan Nofal Alfariski yang baru berusia tiga tahun itu mengaku memperoleh sudut pandang baru setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Materinya sangat bermanfaat. Saya jadi memahami mendampingi anak bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga meluangkan waktu untuk mendengar, bermain, dan memberikan perhatian. Kehadiran Taman Anak Sejahtera ini menjadi tempat yang sangat positif agar anak-anak bisa belajar sambil bermain dengan aman,” ujarnya.
Di sekitar taman, keceriaan terus mengalir. Ada anak yang sibuk mewarnai gambar dengan penuh imajinasi, ada yang antusias mendengarkan dongeng, sementara yang lain berlarian mengikuti permainan edukatif.
Mungkin bagi orang dewasa, semua itu hanyalah rangkaian kegiatan peringatan Hari Anak Nasional. Namun bagi anak-anak, pengalaman tersebut adalah pelajaran pertama tentang keberanian, persahabatan, dan kebersamaan.
Tidak ada karakter yang tumbuh dalam ruang yang penuh ketakutan. Tidak ada rasa percaya diri yang lahir dari lingkungan yang membatasi anak untuk berekspresi. Sebaliknya, ketika anak merasa aman, dihargai, dan didampingi, mereka akan lebih berani bertanya, mencoba hal baru, menyampaikan pendapat, bahkan belajar menghargai perbedaan.
Karena itu, membangun ruang ramah anak sesungguhnya bukan sekadar membangun taman. Yang dibangun adalah ekosistem pengasuhan yang melibatkan banyak pihak keluarga, pemerintah, pekerja sosial, relawan, dunia usaha, hingga masyarakat. Semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang melindungi sekaligus memberi kesempatan berkembang.
Barangkali beberapa tahun dari sekarang anak-anak yang berdiri sambil saling merangkul itu tak lagi mengingat hari ketika taman tersebut diresmikan. Mereka mungkin juga lupa siapa saja yang hadir saat itu. Namun mereka akan mengingat bagaimana rasanya bermain tanpa rasa takut, tertawa bersama teman, dan pulang membawa cerita yang ingin mereka sampaikan kepada orang tuanya.
Oleh sebab itu, masa depan bangsa tidak hanya dibangun melalui ruang-ruang kelas atau angka-angka pembangunan. Masa depan juga bertumbuh dari halaman-halaman tempat anak berlari, dari tawa yang lahir tanpa beban, dan dari rasa aman yang membuat mereka percaya bahwa dunia adalah tempat yang layak untuk dijelajahi. Dari ruang bermain yang sederhana itulah, langkah pertama menuju generasi Indonesia yang tangguh, bahagia, dan berkarakter dimulai. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
