Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan? Begini Cara Petugas Mengendalikan Api di Hutan dan Lahan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 55 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan sekadar persoalan api yang terlihat di permukaan. Di balik asap tebal dan lahan yang terbakar, petugas sering menghadapi bara yang masih tersimpan, medan sulit hingga sumber air yang terbatas.
Kondisi itu membuat proses pemadaman tidak cukup dilakukan dengan menyemprotkan air ke titik api. Setelah kobaran berhasil ditekan, petugas masih harus memastikan tidak ada bara yang tertinggal dan berpotensi memicu kebakaran kembali.
Di sejumlah lokasi, perjuangan tersebut berlangsung di tengah pepohonan yang terbakar dan asap yang mengganggu pandangan. Petugas bergerak membawa peralatan pemadam, membentangkan selang dan mencari bagian lahan yang masih menyimpan panas.
Pekerjaan kemudian berlanjut dengan pendinginan. Tanah dan material yang masih panas harus diperiksa kembali agar api tidak muncul dari titik yang sebelumnya terlihat sudah aman.
Api Karhutla Tak Selalu Terlihat dari Permukaan
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla muncul ketika api merambat di bawah permukaan tanah, terutama pada lahan gambut.
Kondisi tersebut membuat kobaran api tidak selalu terlihat jelas. Permukaan tanah bisa saja tampak sudah aman, sementara panas masih bertahan di bagian bawah.
Karena itu, petugas perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Area yang dicurigai masih menyimpan bara dicek kembali dan didinginkan untuk mencegah api kembali menjalar.
Proses tersebut membutuhkan ketelitian karena satu titik panas yang terlewat dapat berkembang menjadi kebakaran baru ketika kondisi lingkungan kembali mendukung.
Groundcheck Menjadi Bagian Penting
Informasi mengenai titik panas dari pemantauan satelit dapat membantu petugas menentukan lokasi yang perlu diperiksa. Namun, keberadaan hotspot tidak otomatis berarti terdapat kebakaran yang sedang berlangsung.
Petugas tetap perlu turun ke lapangan untuk melakukan groundcheck. Pemeriksaan secara langsung diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi.
Dari pengecekan tersebut, tim dapat menentukan apakah sebuah titik masih terbakar, sudah padam atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Langkah ini juga membantu petugas menentukan prioritas, terutama ketika terdapat banyak titik yang harus diperiksa dalam waktu bersamaan.
Medan Menentukan Strategi Pemadaman
Pemadaman karhutla di lapangan tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Petugas bisa menghadapi lahan yang sulit dijangkau, vegetasi rapat, permukaan tanah yang tidak stabil hingga sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran.
Karena itu, sebelum melakukan pemadaman, tim biasanya melakukan pengamatan terhadap kondisi lokasi. Titik api aktif, arah penjalaran dan posisi sumber air menjadi beberapa hal yang harus diperhitungkan.
Personel kemudian dapat dibagi ke beberapa sektor agar penanganan berlangsung lebih efektif.
Pompa jinjing dapat digunakan ketika sumber air berada di sekitar lokasi. Jika jaraknya cukup jauh, air harus disalurkan secara bertahap dengan menggunakan peralatan pendukung.
Dalam kondisi tertentu, mobil tangki juga diperlukan untuk memastikan kebutuhan air tetap tersedia ketika parit, kolam atau sumber air alami tidak mencukupi.
Ketika Api Mendekati Permukiman
Situasi menjadi lebih serius ketika kobaran api bergerak mendekati rumah atau kawasan yang dihuni masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, petugas tidak hanya berusaha memadamkan api. Penyisiran dilakukan untuk mengetahui arah pergerakan api sekaligus memastikan tidak ada bara yang dapat menyulut kebakaran baru.
Koordinasi antarinstansi juga menjadi penting. Personel pemadam dapat bekerja bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, pemadam kebakaran dan masyarakat.
Keterlibatan warga di sekitar lokasi membantu mempercepat informasi mengenai titik api sekaligus mendukung penanganan ketika kebakaran terjadi di wilayah yang sulit dijangkau.
Pemadaman Tidak Berhenti Saat Api Padam
Kesalahan yang sering terjadi dalam melihat penanganan karhutla adalah menganggap pekerjaan selesai ketika kobaran api sudah tidak terlihat.
Padahal, tahap setelah pemadaman justru sangat penting.
Petugas melakukan mopping up atau penyisiran untuk mencari bara yang masih tersisa. Bagian lahan yang masih panas kemudian didinginkan agar tidak kembali terbakar.
Langkah tersebut dilakukan berulang jika kondisi lapangan menunjukkan masih terdapat potensi api.
Terlebih pada lahan gambut, kebakaran dapat bertahan di bawah permukaan dan menyebar tanpa selalu menghasilkan kobaran besar di atas tanah.
Dukungan Udara Membantu Menjangkau Area Sulit
Selain pasukan darat, penanganan karhutla juga dapat diperkuat dengan dukungan udara.
Helikopter dapat digunakan untuk melakukan water bombing pada kawasan yang sulit dijangkau personel di darat. Air dijatuhkan dari udara ke area yang terbakar untuk membantu menekan kobaran.
Pesawat tanpa awak atau drone juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pemantauan. Dari udara, petugas dapat memperoleh gambaran mengenai lokasi api, arah penyebaran serta kondisi kawasan di sekitarnya.
Teknologi tersebut bukan pengganti pemadaman di darat. Fungsinya lebih sebagai pendukung agar petugas dapat menentukan lokasi dan strategi penanganan secara lebih tepat.
Mencegah Lebih Penting daripada Memadamkan
Karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan terhadap hutan dan lahan. Asap yang dihasilkan juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan kualitas udara.
Karena itu, pencegahan menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran.
Masyarakat di kawasan rawan kebakaran perlu menghindari penggunaan api untuk membuka atau membersihkan lahan. Aktivitas pembakaran yang tidak terkendali dapat dengan cepat menyebar ketika kondisi lingkungan kering dan angin cukup kuat.
Patroli, pemantauan titik rawan, edukasi masyarakat dan pemeriksaan lapangan menjadi langkah yang dapat dilakukan sebelum api berkembang menjadi kebakaran besar.
Pada akhirnya, menghadapi karhutla bukan hanya soal seberapa cepat petugas memadamkan api. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan menemukan sumber panas, memahami kondisi lahan, memastikan bara benar-benar mati dan mencegah api kembali muncul.
Dibalik setiap kawasan yang berhasil diselamatkan dari kobaran, ada rangkaian pekerjaan yang berlangsung dari darat hingga udara. Api mungkin terlihat padam dalam hitungan waktu, tetapi memastikan lahan benar-benar aman membutuhkan pemeriksaan dan penanganan yang jauh lebih panjang. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
