Kamis, 24 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Pondok Liar di Tepian Sungai Udang Kembali Digulung

Pondok Liar di Tepian Sungai Udang Kembali Digulung

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • visibility 48
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LANGIT di tepian Sungai Udang siang itu biru terang tanpa ampun. Matahari memantul di genangan air rawa kecil di sisi jalan alternatif Pasar Buah Jakabaring, membuat udara terasa seperti dipanggang perlahan.

Debu beterbangan setiap kali mini ekskavator menggigit dinding papan pondok liar yang berdiri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Jalan Pangeran Ratu Lorong Datuk Akib, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Rabu (13/5/2026).

Suara kayu patah bersahut-sahutan dengan dentuman besi alat berat. Warga yang melintas melambatkan laju motor. Sebagian berhenti di pinggir jalan, menonton seperti menyaksikan babak akhir sebuah cerita lama yang terus berulang.

Empat pondok mungil berukuran sekitar 4×3 meter itu satu per satu ambruk. Atap jerami beterbangan diterpa angin panas. Papan-papan kusam berserakan ke tepian sungai. Tak butuh waktu lama, bangunan yang sempat berdiri diam di bibir aliran Sungai Musi itu akhirnya rata dengan tanah.

Namun, bagi warga sekitar, pembongkaran ini bukan cerita baru.

Pondok-pondok liar itu sudah beberapa kali dibongkar sejak 2022. Tapi seperti ilalang di musim hujan, bangunan serupa kembali tumbuh. Dibongkar, muncul lagi. Hilang sebentar, lalu berdiri kembali.

Ada semacam perang kecil yang tak pernah benar-benar selesai di tepian sungai ini.

Petugas Satpol PP Kota Palembang datang dengan pengawalan aparat gabungan dari TNI, Polisi Militer, serta instansi terkait. Dua mobil bak terbuka disiagakan untuk mengangkut puing-puing bangunan agar kawasan itu benar-benar bersih.

Di tengah terik matahari yang menyengat kepala, para petugas bekerja cepat. Linggis diayunkan. Palu diketukkan. Sementara mini ekskavator bergerak perlahan seperti sedang menyapu sisa-sisa pelanggaran yang dianggap membandel.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Sat Pol PP Kota Palembang, Budi Ritongga mengatakan penertiban kali ini dilakukan karena bangunan liar kembali berdiri di kawasan yang jelas dilarang.

“Sudah pernah kami tertibkan, tapi dibangun lagi. Kali ini kami lakukan tindakan tegas,” katanya.

Menurut Budi, pihaknya sebenarnya sudah menempuh langkah persuasif sebelum pembongkaran dilakukan. Namun karena bangunan tetap kembali berdiri di kawasan DAS, maka tindakan tegas dianggap perlu.

“Kami minta RT dan pihak kecamatan ikut mengawasi agar tidak terjadi lagi. DAS bukan untuk bangunan liar, melainkan ruang terbuka yang harus dijaga,” tegasnya.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Tetapi di balik pembongkaran empat pondok kecil, tersimpan persoalan kota yang lebih besar.

Palembang sejak lama menghadapi masalah bangunan liar di sempadan sungai. Tepian aliran air yang seharusnya menjadi ruang terbuka dan jalur resapan perlahan berubah menjadi lokasi bangunan semi permanen. Ada yang dijadikan tempat singgah, lapak kecil, bahkan pondok yang akhirnya menetap.

Masalahnya bukan sekadar soal kayu dan atap jerami.

Yang sering luput dibahas adalah mengapa bangunan-bangunan seperti ini selalu kembali muncul.

Sebab kalau hanya soal membongkar, pekerjaan itu sebenarnya cepat selesai. Satu unit mini ekskavator saja cukup membuat pondok rata dalam hitungan menit. Tapi membongkar akar persoalan tentu tidak semudah menghancurkan papan kayu.

Di banyak sudut kota, ruang kosong selalu punya magnet tersendiri. Ketika pengawasan longgar, kawasan itu perlahan ditempati. Awalnya satu pondok. Lalu bertambah. Lama-lama dianggap biasa.

Fenomena itu juga terlihat di kawasan tepian Sungai Udang.

Warga sekitar mengaku penertiban sudah beberapa kali terjadi. Namun bangunan serupa kembali muncul tak lama setelah petugas pergi. Kondisi ini membuat penertiban terasa seperti lingkaran yang terus berputar.

Selain itu, pemerintah juga berada dalam posisi sulit. Jika dibiarkan, bangunan liar bisa mempersempit kawasan DAS dan memicu persoalan lingkungan di kemudian hari. Tapi jika hanya mengandalkan pembongkaran tanpa pengawasan rutin, bangunan serupa kemungkinan besar akan kembali muncul.

Karena itu, pembongkaran siang itu sebenarnya bukan sekadar meratakan pondok liar.

Ia menjadi simbol bagaimana kota terus berusaha menjaga ruang hidupnya dari pelanggaran yang perlahan dianggap biasa.

Di tengah suara mesin ekskavator yang meraung, ada pesan yang ingin ditegaskan pemerintah, tepian sungai bukan tempat untuk diduduki sesuka hati.

Meski begitu, warga yang menonton dari kejauhan tampaknya juga memahami satu hal lain. Selama masih ada celah, selama pengawasan lengah, dan selama kawasan kosong dianggap bisa dimanfaatkan, pondok-pondok baru mungkin saja kembali muncul di tempat yang sama.

Sore nanti, puing-puing itu memang akan hilang diangkut truk. Tapi pertanyaan besarnya masih tertinggal di tepian Sungai Udang.

Apakah ini benar-benar akhir, atau hanya babak berikutnya dari cerita lama yang terus berulang di pinggir sungai Kota Palembang?. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kabupaten Muba Raih Penghargaan Pastika Parama

    Kabupaten Muba Raih Penghargaan Pastika Parama

    • calendar_month Kamis, 6 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.191
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta- Sukses terapkan Perda KTR, Pemkab Musi Banyuasin dibawah komando Pj Bupati Muba H Sandi Fahlepi akhirnya menorehkan prestasi cemerlang dengan berhasil meraih penghargaan Pastika Parama 2024. Prestasi ini berkat komitmen Kabupaten Muba dalam menerapkan Perda Nomor 11 tahun 2016 tentang kawasan tanpa rokok. Penghargaan yang diberikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi […]

  • emas logam mulia

    “Jumat Berdarah” Logam Mulia: Harga Emas Ambruk 9%, Rekor Terburuk Sejak 1983!

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Bono
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Pesta pora investor emas resmi berakhir tragis pada penghujung Januari 2026. Setelah sempat terbang tinggi mencetak rekor sejarah, harga sang logam mulia justru “dibanting” habis-habisan oleh pasar. Tak tanggung-tanggung, emas mencatatkan penurunan harian terdalam dalam 43 tahun terakhir. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas spot ditutup merosot tajam 9,8% ke level US$4.864,35 per troy ounce pada […]

  • Dampak Pandemi Covid-19, Pemkot Palembang Revisi Target PAD

    Dampak Pandemi Covid-19, Pemkot Palembang Revisi Target PAD

    • calendar_month Jumat, 6 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 861
    • 0Komentar

    DAMPAK pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Palembang harus melakukan penyesuaian anggaran, termasuk merevisi target pendapatan asli daerah atau PAD. Sekretaris Daerah Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, target pendapatan dari 11 pajak daerah yang dikelola BPPD masih stagnan sejak beberapa bulan lalu. Ini karena kondisi pandemi Covid-19 dan diberlakukannya sejumlah pembatasan atau PPKM. “Karena kondisi saat ini, […]

  • Ustadz, Baiknya Zakat Pakai Beras atau Bisa dengan Uang ?..

    Ustadz, Baiknya Zakat Pakai Beras atau Bisa dengan Uang ?..

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 993
    • 0Komentar

    “Assalamualaikum wr wb. Ustadz, akhir-akhir ini saya mendengar dari sebagian kawan, katanya tidak sah mengeluarkan zakat fitrah dengan uang, harus dengan beras, bagaimana itu ustadz, saya jadi bingung karena selama ini biasanya kami zakat fitrahnya dengan uang. Terimakasih” Jawab : Zakat fitrah itu wajib dikeluarkan bagi seluruh ummat Islam, tua-muda, besar-kecil, laki-perempuan, yang penting mereka […]

  • Pameran Seni Rupa se-Sumsel (Rentak Batanghari), Jadilah Ibu & Bangun Cagak Baru

    Pameran Seni Rupa se-Sumsel (Rentak Batanghari), Jadilah Ibu & Bangun Cagak Baru

    • calendar_month Selasa, 19 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.627
    • 0Komentar

    TEMA “Rentak Batanghari”, untuk pameran yang digelar di Taman Budaya Sriwijaya, pekan lalu barangkali lebih luas dibandingkan dengan tema “Aura Musi” pada pameran yang digagas Galeri Nasional 2010 lalu. Keduanya, sama-sama pameran bersama. Bedanya, Rentak Batanghari mencoba merangkum seniman yang ada di seputaran Batanghari. Sementara, Aura Musi mencoba memadupadankan seniman nasional dan seniman di aliran Musi dalam satu panggung. […]

  • Atasi Buta Informasi, Gubernur Resmikan Pocadi di Sungai Ijuk 

    Atasi Buta Informasi, Gubernur Resmikan Pocadi di Sungai Ijuk 

    • calendar_month Kamis, 21 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.216
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel Herman Deru meresmikan Pojok Baca Digital di Sungai Ijuk, Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati Palembang, guna meningkatkan dan menumbuhkan minat baca warga Sumsel. Pocadi Sungai Ijuk ini adalah salah satu CSR dari PT Pura Daya Prima yang bisa dikatakan bagian dari PT. PLN (Persero) karena merupakan salah satu perusahaan afiliasi dari anak perusahaan PLN […]

expand_less
WordPress Archive FluentCRM Pro – Email Marketing Automation FluffyPaw – WordPress Theme for Veterinary Clinic & Pet Care Center Fluma - Influencer Marketing Agency Elementor Pro Template Kit FlutKit – Flutter & Figma UI Kit Flutter Travel App with Admin Panel – Travel Hour Flutterwave Payment Solutions and Bills Payment Services Fluxi – SEO Marketing Digital Agency WordPress Theme FluxNews – Flutter mobile app for WordPress FluxStore Delivery Boy – Flutter App for Woocommerce FluxStore Manager – Vendor and Admin Flutter App for Woocommerce