Jumat, 30 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » Kriya Nusa 2026 Pilih Sumsel Jadi Ikon, 17 Daerah Bawa Kriya Unggulan

Kriya Nusa 2026 Pilih Sumsel Jadi Ikon, 17 Daerah Bawa Kriya Unggulan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
  • visibility 35
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Sumatera Selatan (Sumsel) datang ke Kriya Nusa 2026 bukan hanya membawa produk kerajinan untuk memenuhi stan pameran. Tahun ini posisinya berbeda, pasalnya Sumsel dipercaya menjadi ikon, sementara perajin dari 17 kabupaten dan kota disiapkan untuk membawa kekayaan kriya daerah masing-masing ke panggung nasional di Jakarta.

Kriya Nusa 2026 digelar pada 26-30 September 2026 di Jakarta Hall Convention Center (JHCC). Pameran mengusung tema “Cinta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” dan diikuti 257 peserta dengan total 410 booth.

Jumlah peserta dan booth membuat Kriya Nusa bukan hanya tempat memajang hasil kerajinan. Ratusan produk dari berbagai daerah akan berada dalam ruang yang sama, bertemu dengan pengunjung, pembeli hingga calon pasar baru. Di tengah persaingan tersebut, identitas daerah menjadi modal penting agar sebuah produk tidak berhenti sebagai barang yang hanya dilihat sesaat.

Sehingga posisi Sumsel menjadi berbeda, unsur budaya Sumsel akan menjadi bagian dari desain area pameran hingga arsitektur panggung utama. Bunga Pacik, misalnya, dipadukan dengan sentuhan kontemporer dan modern. Identitas Sumsel pun tidak hanya muncul melalui produk yang dipamerkan, tetapi juga melalui suasana pamerannya.

Ketua Dekranasda Sumsel, Feby Herman Deru, juga membawa perajin dari 17 kabupaten dan kota se-Sumsel untuk tampil dalam Kriya Nusa 2026. Artinya, yang dibawa ke Jakarta bukan hanya nama Palembang.

Ada Songket Palembang, kain jumputan, wastra adat Sumsel, ukiran kayu khas Palembang, kerajinan anyaman hingga gerabah. Keragaman tersebut memperlihatkan kekuatan kriya Sumsel tidak berdiri pada satu produk saja, melainkan tersebar di banyak daerah dengan karakter dan cerita masing-masing.

17 Daerah, Satu Panggung

Selama ini, sebagian produk kerajinan daerah lebih dikenal dari nama produknya. Orang mengenal songket, jumputan, ukiran atau anyaman, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang membuatnya, dari mana bahan berasal dan bagaimana proses panjang di balik sebuah karya.

Padahal, nilai sebuah kriya tidak hanya berada pada bentuk akhirnya. Ada keterampilan perajin, teknik produksi, bahan baku, motif, sejarah dan lingkungan budaya yang ikut membentuk identitas sebuah produk.

Oleh sebab itu, kehadiran 17 kabupaten dan kota dalam satu panggung menjadi kesempatan untuk memperlihatkan wajah kriya Sumsel secara lebih lengkap. Palembang tetap memiliki produk yang sudah dikenal, tetapi daerah lain juga memiliki ruang untuk menunjukkan kekhasannya.

Pasar yang semakin terbuka membuat peluang tersebut semakin besar. Produk yang sebelumnya hanya berputar di lingkungan lokal kini bisa diperkenalkan kepada konsumen dari luar daerah, bahkan pasar internasional.

Namun peluang itu juga membawa tuntutan. Produk kriya tidak cukup hanya unik. Kualitas harus terjaga, desain perlu mengikuti kebutuhan konsumen, kemasan harus semakin baik dan pemasaran tidak bisa hanya mengandalkan pengunjung yang datang ke stan.

Tak Hanya Barang Pajangan

Kementerian Perindustrian mencatat ekspor industri barang kerajinan Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD806,63 juta, tumbuh 15,46 persen dibandingkan 2024. Pada Januari 2026, nilai ekspornya kembali mencapai USD52,38 juta atau naik 19,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka itu menjadi gambaran, kerajinan Indonesia memiliki pasar di luar negeri. Tetapi peluang pasar tidak otomatis membuat semua produk daerah berhasil masuk ke dalamnya.

Kebutuhan konsumen terus berubah. Produk harus memiliki ciri khas, fungsi yang jelas, kualitas yang konsisten serta kemampuan beradaptasi dengan tren tanpa kehilangan identitasnya.

Kriya Nusa menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kebutuhan tersebut. Perajin bisa bertemu konsumen, buyer, pelaku usaha dan jaringan pemasaran yang lebih luas.

Karena itu, ukuran keberhasilan pameran tidak berhenti pada ramainya stan. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya, apakah terbentuk hubungan bisnis baru, ada pasar yang terbuka, dan produk kembali dipesan dan apakah perajin memperoleh akses yang lebih luas.

Tradisi Bertemu Teknologi

Kriya Nusa 2026 juga membawa pendekatan digital ke dalam ruang pameran melalui instalasi digital imersif yang memberikan pengalaman interaktif kepada pengunjung.

Pendekatan sangat penting, karena tantangan kriya bukan hanya mencari pembeli, tetapi juga mendekatkan kerajinan kepada generasi yang akan meneruskan tradisi tersebut.

Generasi muda tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan proses pembuatan kerajinan tradisional. Mereka mungkin mengenal Songket sebagai kain khas Sumsel, tetapi belum tentu memahami bagaimana proses pembuatannya.

Teknologi dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan cerita di balik produk, proses pembuatannya, sosok perajin dan nilai budaya yang melekat pada sebuah karya.

Tradisi tidak harus ditinggalkan ketika teknologi masuk. Justru teknologi dapat digunakan agar tradisi lebih mudah dikenal dengan cara yang sesuai dengan kebiasaan generasi sekarang.

Pengalaman Jepang

Sejumlah daerah di Jepang memberikan contoh bagaimana kerajinan tradisional dapat tetap dipertahankan sekaligus dikembangkan.

Di Tamba-Sasayama, kerajinan dan seni rakyat menjadi bagian dari pengembangan kota. Dalam UNESCO Creative Cities Network Monitoring Report 2019, pemerintah kota mencatat berbagai upaya untuk menjaga budaya dan tradisi lokal, termasuk mempertahankan kerajinan serta mendorong keberlanjutan bagi generasi berikutnya. Tamba-yaki menjadi salah satu kerajinan yang melekat pada identitas daerah tersebut.

Sementara Kanazawa memiliki pendekatan yang berbeda. Dalam UNESCO Creative Cities Network Reporting Exercise 2024, Kanazawa mencatat pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan kerajinan melalui program Digital Craft Exhibitions. Laporan tersebut juga mencatat pengembangan riset dan teknologi baru yang berbasis pada teknik tradisional, termasuk pada Kaga Yuzen dan Kanazawa foil.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan kriya tidak selalu berarti membiarkannya berjalan dengan cara lama. Tradisi tetap menjadi dasar, sementara pendidikan, inovasi dan teknologi digunakan untuk membuatnya tetap dikenal dan diteruskan.

Indonesia Punya Contoh yang Dekat

Di Indonesia juga ada, misalnya Bantul, Yogyakarta, produk kerajinan dan dekorasi rumah mampu menembus pasar Amerika Serikat, Korea Selatan, Prancis hingga Inggris. Produksi tetap melibatkan perajin lokal dalam jumlah besar, sehingga pasar yang lebih luas juga membuka ruang ekonomi bagi perajin di daerah.

Pekalongan dikenal dengan batiknya, juga tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan. UNESCO mencatat program pendidikan dan pelatihan batik di Pekalongan masuk dalam Register of Good Safeguarding Practices sejak 2009, dengan tujuan meneruskan pengetahuan, sejarah, nilai budaya dan keterampilan batik kepada generasi berikutnya. Dua contoh itu memperlihatkan bahwa kriya bisa tetap berakar pada tradisi sekaligus bergerak mengikuti kebutuhan zaman.

Tantangan Sumsel setelah menjadi ikon Kriya Nusa 2026 pun berada di wilayah yang sama. Bukan hanya bagaimana membawa produk dari 17 kabupaten dan kota ke Jakarta, tetapi bagaimana membuat produk dan perajinnya memiliki jalan menuju pasar yang lebih luas.

Lima Hari Bukan Garis Akhir

Selama lima hari Kriya Nusa berlangsung, ratusan booth akan menjadi tempat bertemunya berbagai produk kerajinan Nusantara. Sumsel memiliki identitas yang kuat karena unsur budaya daerah menjadi bagian penting dari wajah pameran.

Tetapi status sebagai ikon bukan garis akhir, sebab setelah pameran selesai, pekerjaan yang lebih panjang justru dimulai. Produk yang sudah diperkenalkan harus tetap dipasarkan. Perajin membutuhkan jaringan yang berkelanjutan. Produk perlu terus dikembangkan. Sementara generasi muda perlu melihat bahwa menjadi perajin bukan sekadar mempertahankan pekerjaan lama, tetapi juga bisa menjadi bagian dari industri kreatif masa kini.

Kehadiran 17 kabupaten dan kota juga bisa menjadi kekuatan tersendiri. Setiap daerah memiliki karakter dan produk yang berbeda, tetapi semuanya dapat berada dalam satu cerita besar tentang Sumatera Selatan.

Jika peluang tersebut bisa dimanfaatkan, Kriya Nusa 2026 tidak hanya menjadi tempat memajang Songket, jumputan, ukiran, anyaman dan gerabah.

Pameran itu bisa menjadi pintu untuk memperkenalkan siapa perajinnya, bagaimana sebuah produk dibuat, dari mana bahan berasal dan mengapa karya tersebut memiliki nilai untuk pasar yang lebih luas.

Sebab membawa kriya ke panggung nasional bukan hanya soal tampil selama lima hari. Tantangan sebenarnya adalah membuat nama perajin dan produk Sumsel tetap diingat setelah pameran selesai. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DOLA BELUT dari Palembang, Digital Sendirian, Tapi Sinyalnya Full Bar

    DOLA BELUT dari Palembang, Digital Sendirian, Tapi Sinyalnya Full Bar

    • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 618
    • 0Komentar

    DI ZAMAN serba daring, ketika sinyal lebih dicari daripada sandal hilang di masjid, kabar angin dari Jakarta Selatan bikin gaduh grup WhatsApp warga Palembang. Kementerian Kominfo dan Chevening bikin gebrakan kirim anak-anak muda terpilih ke Inggris buat belajar jadi pemimpin digital masa depan. Di antara nama-nama keren dan kampus kelas dunia, tampak satu sosok sederhana […]

  • Merinding dengan puisi ini, simak siapa tahu jadi bahan muhasabah

    Merinding dengan puisi ini, simak siapa tahu jadi bahan muhasabah

    • calendar_month Minggu, 9 Jul 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 5.918
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Ketika etika, moral, normal, dan adab terkikis, masyarakat menghadapi berbagai konsekuensi yang merugikan. Tanpa etika, norma yang mengatur perilaku dan tindakan manusia menjadi samar, sehingga terjadi kekacauan dalam hubungan sosial. Kehilangan moralitas berarti hilangnya nilai-nilai fundamental yang mengarah pada kesetiaan, kejujuran, dan empati terhadap sesama. Kehilangan normalitas mengarah pada munculnya perilaku yang tidak […]

  • Penyekatan Turunkan Arus Mudik 70 persen, Semoga Corona Juga Turun

    Penyekatan Turunkan Arus Mudik 70 persen, Semoga Corona Juga Turun

    • calendar_month Kamis, 13 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 971
    • 0Komentar

    KEPALA Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mengatakan bahwa penyekatan terkait aturan peniadaan mudik telah mampu menurunkan arus lalu lintas dari kondisi normal hingga 70 persen. Hal ini disampaikan Kapolri saat bersama Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Ketua SatgPas Penanganan BIASA COVID-19, Doni Monardo, Menteri Perhubungan BudiPPPPPPPPP0000LL Karya Sumadi dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi […]

  • Bela Negara Tugas Bersama, Menhan Ajak Komponen Bangsa Kuatkan Semangat Bela Negara Hadapi Pandemi

    Bela Negara Tugas Bersama, Menhan Ajak Komponen Bangsa Kuatkan Semangat Bela Negara Hadapi Pandemi

    • calendar_month Selasa, 17 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 903
    • 0Komentar

    MENTERI Pertahanan Prabowo Subianto mengajak seluruh komponen bangsa untuk meningkatkan dan menguatkan semangat bela negara terutama dalam menghadapi Pandemi COVID-19. Dengan semangat bela negara, bangsa Indonesia juga akan mampu mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian serta berlandaskan gotong royong. “Saya mengajak kita semua untuk menjalankan tugas dan kewajiban kebangsaan kita bersama-sama. Tunjukkan bahwa […]

  • Bantah Tidak Taat Pajak, Manajemen PIM Sudah Lunasi PBB

    Bantah Tidak Taat Pajak, Manajemen PIM Sudah Lunasi PBB

    • calendar_month Minggu, 26 Jan 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 3.280
    • 0Komentar

    Kenaikan signifikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menjadi permasalahan yang cukup besar bagi masyarakat di Kota Palembang. Hal itu juga yang menjadi masalah bagi Palembang Indah Mall (PIM) dan Hotel Emilia milik Thamrin Group, sehingga terjadi tunggakan terhadap PBB kedua unit usahanya. “Kemarin kami telah memenuhi kewajiban pembayaran PBB […]

  • BASANAK & Kisah Afifah Menuju Jakarta dengan Segudang Doa

    BASANAK & Kisah Afifah Menuju Jakarta dengan Segudang Doa

    • calendar_month Minggu, 18 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 814
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Di balik perjalanan panjang sebuah helikopter yang membawa Afifah ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, tersimpan kisah cinta, harapan, dan perjuangan yang tak kalah dramatis dari sinetron malam minggu. Afifah, bocah mungil asal Musi Banyuasin (Muba) dengan jantung bocor, kini mengembara bukan hanya di peta Indonesia, tapi juga dalam pusaran doa dan […]

expand_less
WordPress Archive Civi - Job Board WordPress Theme Civlo – Lawyer & Law Office Elementor Template Kit CiyaShop - Responsive Multi-Purpose WooCommerce WordPress Theme Ciz News – Magazine & Blog Theme Cizarua – Responsive One Page Portfolio Theme CK – Lawyer Template Kit CL Team – Team Showcase WordPress Plugin Claire – Personal Portfolio Elementor Template Kit Clamby – Fashion Ecommerce Elementor Template Kit ClanyEco– Cleaning Services WordPress Theme