Kriya Nusa 2026 Pilih Sumsel Jadi Ikon, 17 Daerah Bawa Kriya Unggulan
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto ;ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sumatera Selatan (Sumsel) datang ke Kriya Nusa 2026 bukan hanya membawa produk kerajinan untuk memenuhi stan pameran. Tahun ini posisinya berbeda, pasalnya Sumsel dipercaya menjadi ikon, sementara perajin dari 17 kabupaten dan kota disiapkan untuk membawa kekayaan kriya daerah masing-masing ke panggung nasional di Jakarta.
Kriya Nusa 2026 digelar pada 26-30 September 2026 di Jakarta Hall Convention Center (JHCC). Pameran mengusung tema “Cinta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” dan diikuti 257 peserta dengan total 410 booth.
Jumlah peserta dan booth membuat Kriya Nusa bukan hanya tempat memajang hasil kerajinan. Ratusan produk dari berbagai daerah akan berada dalam ruang yang sama, bertemu dengan pengunjung, pembeli hingga calon pasar baru. Di tengah persaingan tersebut, identitas daerah menjadi modal penting agar sebuah produk tidak berhenti sebagai barang yang hanya dilihat sesaat.
Sehingga posisi Sumsel menjadi berbeda, unsur budaya Sumsel akan menjadi bagian dari desain area pameran hingga arsitektur panggung utama. Bunga Pacik, misalnya, dipadukan dengan sentuhan kontemporer dan modern. Identitas Sumsel pun tidak hanya muncul melalui produk yang dipamerkan, tetapi juga melalui suasana pamerannya.
Ketua Dekranasda Sumsel, Feby Herman Deru, juga membawa perajin dari 17 kabupaten dan kota se-Sumsel untuk tampil dalam Kriya Nusa 2026. Artinya, yang dibawa ke Jakarta bukan hanya nama Palembang.
Ada Songket Palembang, kain jumputan, wastra adat Sumsel, ukiran kayu khas Palembang, kerajinan anyaman hingga gerabah. Keragaman tersebut memperlihatkan kekuatan kriya Sumsel tidak berdiri pada satu produk saja, melainkan tersebar di banyak daerah dengan karakter dan cerita masing-masing.
17 Daerah, Satu Panggung
Selama ini, sebagian produk kerajinan daerah lebih dikenal dari nama produknya. Orang mengenal songket, jumputan, ukiran atau anyaman, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang membuatnya, dari mana bahan berasal dan bagaimana proses panjang di balik sebuah karya.
Padahal, nilai sebuah kriya tidak hanya berada pada bentuk akhirnya. Ada keterampilan perajin, teknik produksi, bahan baku, motif, sejarah dan lingkungan budaya yang ikut membentuk identitas sebuah produk.
Oleh sebab itu, kehadiran 17 kabupaten dan kota dalam satu panggung menjadi kesempatan untuk memperlihatkan wajah kriya Sumsel secara lebih lengkap. Palembang tetap memiliki produk yang sudah dikenal, tetapi daerah lain juga memiliki ruang untuk menunjukkan kekhasannya.
Pasar yang semakin terbuka membuat peluang tersebut semakin besar. Produk yang sebelumnya hanya berputar di lingkungan lokal kini bisa diperkenalkan kepada konsumen dari luar daerah, bahkan pasar internasional.
Namun peluang itu juga membawa tuntutan. Produk kriya tidak cukup hanya unik. Kualitas harus terjaga, desain perlu mengikuti kebutuhan konsumen, kemasan harus semakin baik dan pemasaran tidak bisa hanya mengandalkan pengunjung yang datang ke stan.
Tak Hanya Barang Pajangan
Kementerian Perindustrian mencatat ekspor industri barang kerajinan Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD806,63 juta, tumbuh 15,46 persen dibandingkan 2024. Pada Januari 2026, nilai ekspornya kembali mencapai USD52,38 juta atau naik 19,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka itu menjadi gambaran, kerajinan Indonesia memiliki pasar di luar negeri. Tetapi peluang pasar tidak otomatis membuat semua produk daerah berhasil masuk ke dalamnya.
Kebutuhan konsumen terus berubah. Produk harus memiliki ciri khas, fungsi yang jelas, kualitas yang konsisten serta kemampuan beradaptasi dengan tren tanpa kehilangan identitasnya.
Kriya Nusa menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kebutuhan tersebut. Perajin bisa bertemu konsumen, buyer, pelaku usaha dan jaringan pemasaran yang lebih luas.
Karena itu, ukuran keberhasilan pameran tidak berhenti pada ramainya stan. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya, apakah terbentuk hubungan bisnis baru, ada pasar yang terbuka, dan produk kembali dipesan dan apakah perajin memperoleh akses yang lebih luas.
Tradisi Bertemu Teknologi
Kriya Nusa 2026 juga membawa pendekatan digital ke dalam ruang pameran melalui instalasi digital imersif yang memberikan pengalaman interaktif kepada pengunjung.
Pendekatan sangat penting, karena tantangan kriya bukan hanya mencari pembeli, tetapi juga mendekatkan kerajinan kepada generasi yang akan meneruskan tradisi tersebut.
Generasi muda tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan proses pembuatan kerajinan tradisional. Mereka mungkin mengenal Songket sebagai kain khas Sumsel, tetapi belum tentu memahami bagaimana proses pembuatannya.
Teknologi dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan cerita di balik produk, proses pembuatannya, sosok perajin dan nilai budaya yang melekat pada sebuah karya.
Tradisi tidak harus ditinggalkan ketika teknologi masuk. Justru teknologi dapat digunakan agar tradisi lebih mudah dikenal dengan cara yang sesuai dengan kebiasaan generasi sekarang.
Pengalaman Jepang
Sejumlah daerah di Jepang memberikan contoh bagaimana kerajinan tradisional dapat tetap dipertahankan sekaligus dikembangkan.
Di Tamba-Sasayama, kerajinan dan seni rakyat menjadi bagian dari pengembangan kota. Dalam UNESCO Creative Cities Network Monitoring Report 2019, pemerintah kota mencatat berbagai upaya untuk menjaga budaya dan tradisi lokal, termasuk mempertahankan kerajinan serta mendorong keberlanjutan bagi generasi berikutnya. Tamba-yaki menjadi salah satu kerajinan yang melekat pada identitas daerah tersebut.
Sementara Kanazawa memiliki pendekatan yang berbeda. Dalam UNESCO Creative Cities Network Reporting Exercise 2024, Kanazawa mencatat pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan kerajinan melalui program Digital Craft Exhibitions. Laporan tersebut juga mencatat pengembangan riset dan teknologi baru yang berbasis pada teknik tradisional, termasuk pada Kaga Yuzen dan Kanazawa foil.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan kriya tidak selalu berarti membiarkannya berjalan dengan cara lama. Tradisi tetap menjadi dasar, sementara pendidikan, inovasi dan teknologi digunakan untuk membuatnya tetap dikenal dan diteruskan.
Indonesia Punya Contoh yang Dekat
Di Indonesia juga ada, misalnya Bantul, Yogyakarta, produk kerajinan dan dekorasi rumah mampu menembus pasar Amerika Serikat, Korea Selatan, Prancis hingga Inggris. Produksi tetap melibatkan perajin lokal dalam jumlah besar, sehingga pasar yang lebih luas juga membuka ruang ekonomi bagi perajin di daerah.
Pekalongan dikenal dengan batiknya, juga tidak berhenti sebagai produk budaya, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan. UNESCO mencatat program pendidikan dan pelatihan batik di Pekalongan masuk dalam Register of Good Safeguarding Practices sejak 2009, dengan tujuan meneruskan pengetahuan, sejarah, nilai budaya dan keterampilan batik kepada generasi berikutnya. Dua contoh itu memperlihatkan bahwa kriya bisa tetap berakar pada tradisi sekaligus bergerak mengikuti kebutuhan zaman.
Tantangan Sumsel setelah menjadi ikon Kriya Nusa 2026 pun berada di wilayah yang sama. Bukan hanya bagaimana membawa produk dari 17 kabupaten dan kota ke Jakarta, tetapi bagaimana membuat produk dan perajinnya memiliki jalan menuju pasar yang lebih luas.
Lima Hari Bukan Garis Akhir
Selama lima hari Kriya Nusa berlangsung, ratusan booth akan menjadi tempat bertemunya berbagai produk kerajinan Nusantara. Sumsel memiliki identitas yang kuat karena unsur budaya daerah menjadi bagian penting dari wajah pameran.
Tetapi status sebagai ikon bukan garis akhir, sebab setelah pameran selesai, pekerjaan yang lebih panjang justru dimulai. Produk yang sudah diperkenalkan harus tetap dipasarkan. Perajin membutuhkan jaringan yang berkelanjutan. Produk perlu terus dikembangkan. Sementara generasi muda perlu melihat bahwa menjadi perajin bukan sekadar mempertahankan pekerjaan lama, tetapi juga bisa menjadi bagian dari industri kreatif masa kini.
Kehadiran 17 kabupaten dan kota juga bisa menjadi kekuatan tersendiri. Setiap daerah memiliki karakter dan produk yang berbeda, tetapi semuanya dapat berada dalam satu cerita besar tentang Sumatera Selatan.
Jika peluang tersebut bisa dimanfaatkan, Kriya Nusa 2026 tidak hanya menjadi tempat memajang Songket, jumputan, ukiran, anyaman dan gerabah.
Pameran itu bisa menjadi pintu untuk memperkenalkan siapa perajinnya, bagaimana sebuah produk dibuat, dari mana bahan berasal dan mengapa karya tersebut memiliki nilai untuk pasar yang lebih luas.
Sebab membawa kriya ke panggung nasional bukan hanya soal tampil selama lima hari. Tantangan sebenarnya adalah membuat nama perajin dan produk Sumsel tetap diingat setelah pameran selesai. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
