Geopark Ijen Target Pertahankan Green Card UNESCO, Revalidasi Digelar 3-7 Agustus 2026
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenpar.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Geopark Ijen akan menjalani revalidasi UNESCO Global Geopark pada 3-7 Agustus 2026. Pemerintah menargetkan kawasan wisata unggulan di Jawa Timur itu kembali mempertahankan Green Card UNESCO sebagai bukti pengelolaan yang memenuhi standar internasional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan proses revalidasi menjadi momentum memperkuat pengelolaan kawasan berbasis konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Momen ini menjadi penentu keberlanjutan status internasional kawasan tersebut, dan sebagai tolak ukur konsistensi pengelolaan mengedepankan konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Target utama dibidik, yaitu mempertahankan green card, simbol sebagai standar pengelolaan UNESCO tetap terpenuhi.
Kesiapan menghadapi revalidasi mendapat perhatian langsung dari Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat melakukan kunjungan kerja ke Banyuwangi.
Dalam pertemuan bersama pemerintah daerah dan pengelola Geopark Ijen di Pendopo Sabha Swagatha, Menpar menegaskan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan, agar setiap aspek yang menjadi penilaian UNESCO dapat dipenuhi secara optimal.
Menurut Menpar, proses revalidasi bukan hanya untuk mempertahankan status UNESCO Global Geopark yang disandang Ijen sejak 9 September 2023.
Evaluasi ini menjadi kesempatan memperkuat tata kelola kawasan berbasis keberlanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung masyarakat di sekitar kawasan geopark.
“Target kita adalah mempertahankan predikat green card sebagai bukti bahwa pengelolaan kawasan telah mampu menyeimbangkan aspek konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat,” kata Widiyanti.
Geopark Ijen memiliki luas sekitar 4.723 kilometer persegi yang mencakup wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso.
Kawasan ini menyimpan beragam kekayaan alam, budaya, dan geologi yang menjadi daya tarik wisata sekaligus objek pelestarian.
Di dalamnya terdapat 21 geosite, enam biosite, 10 culture site, serta delapan warisan budaya tak benda yang memperkuat nilai kawasan di mata dunia.
Salah satu ikon Geopark Ijen yang dikenal secara internasional adalah fenomena blue fire, yaitu api biru alami yang muncul dari aktivitas vulkanik.
Selain itu, kawasan ini juga memiliki danau kawah dengan tingkat keasaman sangat tinggi yang menjadi salah satu karakteristik geologi paling unik di dunia.
Menpar menekankan seluruh rekomendasi dari asesor UNESCO harus menjadi perhatian bersama.
Penguatan promosi warisan geologi, peningkatan aksesibilitas menuju destinasi, hingga pengembangan kemitraan menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan kawasan agar tetap memenuhi standar internasional.
Kementerian Pariwisata juga memastikan akan terus memberikan pendampingan kepada pengelola Geopark Ijen selama seluruh tahapan revalidasi berlangsung. Pendampingan diharapkan mampu mendukung proses evaluasi sekaligus memperkuat kualitas pengelolaan destinasi dalam jangka panjang.
Selain aspek konservasi, keselamatan wisatawan tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan kawasan.
Menurut Menpar, pengelolaan destinasi harus berjalan seiring dengan penerapan prinsip pariwisata berkualitas dan berkelanjutan sehingga pengalaman wisata yang aman dan nyaman dapat terus terjaga.
Perkembangan kunjungan wisata ke Banyuwangi menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Geopark Ijen menjadi salah satu magnet utama yang mendorong meningkatnya minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke wilayah tersebut.
Modal penting
Data sepanjang 2025 menunjukkan Provinsi Jawa Timur mencatat lebih dari 82,3 juta kunjungan wisatawan nusantara dan sekitar 521 ribu wisatawan mancanegara. Sementara itu, Kabupaten Banyuwangi menerima sekitar 529 ribu kunjungan wisatawan nusantara serta 73 ribu wisatawan mancanegara.
Meningkatnya jumlah kunjungan tersebut dinilai perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas amenitas, kebersihan, keamanan, kenyamanan, pengelolaan sampah, hingga penguatan storytelling destinasi.
Pengembangan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting untuk menciptakan pengalaman wisata yang semakin berkualitas.
Dalam kunjungan yang sama, Menpar turut meninjau kesiapan kawasan wisata 4B yang menghubungkan Banyuwangi, Bali Barat, Bali Utara, dan Bali Timur.
Pantai Marina Boom Banyuwangi menjadi salah satu titik strategis dalam pengembangan konektivitas antardestinasi guna mendukung pemerataan pergerakan wisatawan.
Pemerintah saat ini tengah memperbarui pola perjalanan wisata dari konsep 3B menjadi 4B dengan memasukkan Bali Timur sebagai bagian dari jalur wisata.
Rute tersebut menghubungkan Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, KBS Park di Jembrana, kawasan Pemuteran, Lovina, Desa Wisata Les, hingga destinasi selam unggulan di Tulamben dan Amed.
Rangkaian kunjungan kerja di Banyuwangi juga diisi dengan visitasi ke Desa Wisata Osing Kemiren. Desa tersebut sebelumnya meraih penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dan masuk dalam UN Tourism Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025.
Menpar menambahkan capaian ini menjadi modal penting bagi Desa Kemiren untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola, inovasi, digitalisasi, keberlanjutan, serta daya saing sehingga berpeluang meraih predikat UN Tourism Best Tourism Villages pada masa mendatang.
Ia juga mengapresiasi masyarakat Desa Adat Osing Kemiren yang dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi melalui sektor pariwisata.
Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya membangun pariwisata Indonesia yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dengan revalidasi UNESCO yang segera berlangsung, Geopark Ijen diharapkan mampu kembali mempertahankan predikat green card serta memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi geopark unggulan Indonesia yang mengedepankan pelestarian alam, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
