Beras Mahal Bukan Biang Inflasi Palembang, BI Ungkap Ancaman Lain
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Harga beras masih tinggi di Palembang, tetapi ada satu fakta yang paling menarik, sebab beras ternyata bukan penyumbang inflasi terbesar di kota ini.
Ternyata komoditas beras berada di urutan kedua, fakta itu terungkap dalam rapat koordinasi Pemerintah Kota Palembang bersama Bank Indonesia (BI), Bulog, Satgas Ketahanan Pangan dan Badan Pusat Statistik di Rumah Dinas Wali Kota Palembang, Jalan Tasik, Senin (14/9/2026).
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan inflasi Palembang pada triwulan I 2026 tercatat 5,91 persen. Angka itu turun menjadi 5,71 persen pada triwulan II.
“Harga beras secara nasional memang cukup berpengaruh. Namun untuk Kota Palembang, komoditas beras berada di urutan kedua penyumbang inflasi,” ujar Ratu Dewa.
Meski begitu, harga beras tetap menjadi perhatian, bukan karena stoknya bermasalah, tetapi karena ongkos produksinya masih tinggi.
Bulog memastikan ketersediaan beras di Palembang aman. Persoalan justru berada pada biaya produksi dan bahan baku yang terbatas.
“Dari Bulog menyampaikan ketersediaan beras tidak ada masalah. Hanya saja biaya produksi dan ketersediaan bahan baku yang membuatnya menjadi tinggi,” jelas Ratu Dewa.
Artinya, stok aman belum otomatis membuat harga beras ikut turun, sementara Bank Indonesia meminta Pemkot Palembang tidak berhenti pada langkah yang sudah berjalan.
Operasi pasar diminta lebih dioptimalkan, bahkan, kata BI peran perusahaan daerah juga harus diperkuat untuk menjaga ketersediaan bahan pokok yang berpengaruh terhadap inflasi.
“Bank Indonesia mencatat agar operasi pasar lebih dioptimalkan lagi. Peran perusahaan daerah masing-masing juga perlu ditingkatkan,” kata Ratu Dewa.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono menilai pengendalian inflasi Palembang sudah berjalan baik.
Ia menyebutkan inflasi year on year Palembang berada di angka 2,6 persen. “Kota Palembang sudah melakukan yang terbaik dalam pengendalian inflasi dengan capaian yoy 2,6 persen,” kata Bambang.
Namun, angka itu bukan alasan untuk lengah. BI justru sudah mengingatkan risiko yang bisa menekan harga pangan ke depan. Menurutnya el nino menjadi salah satu yang harus diwaspadai.
Bambang mengatakan fenomena tersebut berpotensi menjadi risiko inflasi. Apalagi, ketersediaan bahan pokok perlu dijaga dan operasi pasar tetap harus diperkuat.
“Perlu kita waspadai beberapa risiko inflasi seperti El Nino. Operasi pasar sudah sangat baik. Insyaallah Pak Wali mendukung,” ujarnya.
Bambang juga meminta BUMD memastikan sejumlah bahan pokok penting tetap tersedia di pasaran.
“Selanjutnya untuk BUMD memastikan ketersediaan beberapa bahan pokok penting yang memang mempengaruhi inflasi di Kota Palembang,” katanya.
Pemkot Palembang memastikan koordinasi bersama BI, Bulog dan instansi terkait akan terus berjalan, terutama menghadapi akhir tahun. Jadi persoalannya bukan hanya beras mahal.
Stok beras disebut aman, inflasi tahunan Palembang berada di 2,6 persen, tetapi BI sudah memasang peringatan untuk risiko berikutnya, El Nino. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
