PEMERINTAH terus mendorong hilirisasi industri buah tropis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri. Namun, Kementerian Perindustrian mengakui masih terdapat sejumlah hambatan yang dihadapi industri kecil dan menengah (IKM) pangan di lapangan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, tantangan utama masih berkutat pada stabilitas pasokan bahan baku, keterbatasan teknologi pengolahan, serta lemahnya branding dan pemasaran produk olahan buah.
“Indonesia punya banyak buah tropis dengan nilai jual tinggi, tetapi tantangannya ada pada konsistensi pasokan, teknologi pengolahan, dan kemampuan IKM dalam meningkatkan nilai tambah,” ujar Agus belum lama ini dilaman resmi kemenperin.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian IKM belum optimal dalam mengembangkan produk turunan buah yang memiliki daya saing tinggi di pasar ekspor.
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian menilai potensi hilirisasi buah tropis masih sangat besar, seiring meningkatnya permintaan produk pangan sehat dan berbasis bahan alami.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, tren tersebut membuka peluang besar bagi IKM untuk berkembang, namun tetap membutuhkan penguatan dari sisi produksi hingga pemasaran.
“Industri olahan buah ini punya prospek yang bagus di tengah meningkatnya kesadaran konsumsi pangan sehat. Tapi IKM harus mampu memenuhi standar produksi, keamanan pangan, dan memperkuat branding,” kata Reni.
Kemenperin saat ini menjalankan berbagai program pembinaan, mulai dari peningkatan teknologi produksi, perbaikan kemasan, sertifikasi keamanan pangan, hingga perluasan akses pasar melalui pameran dan business matching.
Selain itu, dukungan pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya (KIPK) juga terus didorong untuk mempercepat modernisasi peralatan produksi IKM.
Sementara itu, berdasarkan data Buku Statistik Hortikultura 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pisang nasional pada 2024 mencapai 9,26 juta ton. Provinsi penghasil terbesar meliputi Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Barat.
Nilai ekspor pisang segar tercatat sebesar US$10,52 juta, naik 10,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Volume ekspor juga meningkat menjadi 26,24 ribu ton, dengan tujuan utama Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Untuk komoditas lain, produksi mangga nasional mencapai 3,3 juta ton dengan nilai ekspor US$1,75 juta. Sementara produksi nanas mencapai 2,74 juta ton dengan nilai ekspor US$316,1 juta, dengan pasar utama Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda.
Pemerintah berharap penguatan hilirisasi buah tropis dapat mendorong peningkatan nilai tambah, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara produsen buah tropis dunia. (***)