Kesehatan

Kasus Virus Hanta Naik, Waspadai Kotoran Tikus

Foto : Kemkes

Lingkungan dan rumah lembap bisa memicu penularan.

KEMENTERIAN Kesehatan RI meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Hanta setelah temuan kasus di Indonesia menunjukkan tren kenaikan dalam dua tahun terakhir. Pemerintah meminta masyarakat lebih berhati-hati terhadap lingkungan rumah yang lembap, kotor, dan berpotensi menjadi tempat berkembangnya tikus.

Meski Indonesia belum menemukan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), Kemenkes mencatat peningkatan kasus tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang ditularkan melalui tikus atau celurut terinfeksi.

Data Kemenkes menunjukkan sepanjang 2024 hingga Mei 2026 terdapat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, mengatakan peningkatan temuan kasus dipengaruhi kemampuan deteksi dan pemeriksaan laboratorium yang semakin baik.

Namun pemerintah tetap meminta masyarakat tidak menganggap remeh risiko penularan virus Hanta di lingkungan sekitar.

Virus Hanta menular melalui kontak dengan urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan juga bisa terjadi ketika seseorang menghirup partikel debu yang tercampur kotoran tikus di area tertutup dan jarang dibersihkan.

Karena itu, menjaga kebersihan rumah menjadi langkah paling penting untuk mengurangi risiko penularan.

Waspadai Gudang dan Ruangan Tertutup

Gudang lama, plafon rumah, ruang penyimpanan, hingga sudut rumah yang lembap sering menjadi tempat persembunyian tikus.

Area seperti ini biasanya jarang dibersihkan sehingga kotoran tikus dapat menumpuk tanpa disadari.

Saat ruangan dibuka atau disapu, partikel debu bisa beterbangan dan terhirup.

Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan ruangan tertutup yang lama tidak digunakan.

Jangan Langsung Menyapu Kotoran Tikus

Banyak orang langsung menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering. Padahal cara ini justru meningkatkan risiko penyebaran partikel halus ke udara.

Basahi area terlebih dahulu menggunakan cairan disinfektan atau pembersih sebelum dibersihkan agar debu tidak beterbangan.

Setelah selesai membersihkan, segera cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

Simpan Makanan dengan Rapi

Sisa makanan terbuka sering mengundang tikus masuk ke rumah.

Gunakan wadah tertutup untuk menyimpan makanan dan jangan membiarkan sampah menumpuk terlalu lama di dapur atau halaman rumah.

Semakin sedikit sumber makanan untuk tikus, semakin kecil risiko hewan pengerat itu berkembang biak di sekitar rumah.

Perhatikan Area Bekas Banjir

Lingkungan pascabanjir juga perlu diwaspadai karena sering meningkatkan populasi tikus.

Air kotor dapat membawa sisa urin dan kotoran tikus ke berbagai sudut rumah. Karena itu, segera bersihkan lantai, gudang, dan area lembap menggunakan cairan pembersih setelah banjir surut.

Hati-Hati Saat Camping dan Mendaki

Aktivitas luar ruang seperti berkemah dan mendaki gunung juga memiliki risiko paparan virus Hanta jika lokasi dipenuhi tikus liar.

Jangan meninggalkan sisa makanan di sekitar tenda dan pastikan perlengkapan tetap bersih selama berada di alam terbuka.

Kenali Gejala Awalnya

Masyarakat juga perlu mengenali gejala awal virus Hanta seperti demam, nyeri badan, sakit kepala, batuk, tubuh lemas, hingga sesak napas.

Jika gejala muncul setelah kontak dengan area yang banyak tikus, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat.

Kemenkes saat ini terus memperkuat pengawasan melalui surveilans nasional, pemeriksaan laboratorium PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta kesiapan 198 rumah sakit jejaring penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujar dr. Andi Saguni.

Di tengah meningkatnya kasus, ancaman virus Hanta sering datang dari hal yang terlihat sepele. Gudang lembap, makanan terbuka, dan kotoran tikus yang dibiarkan terlalu lama bisa menjadi pintu masuk penularan tanpa disadari. (***)

To Top