Industri

Kok Bisa Bali Disiapkan Jadi Pusat Parfum Aroma Dunia?

ist

BALI selama ini dikenal sebagai tempat orang mencari tenang—pantai, sunset, yoga, sampai healing versi “kabur sebentar dari dunia nyata”.

Tapi dibalik suasana santai itu, ada arah besar yang lagi disiapkan pemerintah, menjadikan Bali bukan cuma destinasi wisata, tapi juga pusat industri parfum dan aroma dunia.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia tengah mempercepat program hilirisasi minyak atsiri nasional. Intinya sederhana. Indonesia tidak mau lagi hanya jadi penjual bahan mentah, tapi naik kelas jadi produsen produk jadi bernilai tinggi seperti parfum, aromaterapi, kosmetik, lilin aromaterapi, sampai produk spa.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rilis dilaman resmi kemenperin menjelaskan Indonesia punya modal besar di sektor ini.

Kekayaan alam dan biodiversitas membuat minyak atsiri Indonesia sangat potensial. Tinggal satu pekerjaan rumah yang terus dikejar, mengolahnya jadi produk bernilai tambah, bukan sekadar diekspor dalam bentuk mentah.

Nah, kenapa Bali?

Karena ekosistemnya sudah “hidup” di situ. Pariwisata jalan terus, spa ada di mana-mana, wellness tourism tumbuh cepat, dan wisatawan memang sudah terbiasa dengan produk berbasis aroma. Jadi kalau mau bangun industri parfum dan wellness, Bali itu ibaratnya sudah punya “pasar yang napasnya wangi duluan”.

Di tengah pengembangan itu, hadir Pusat Flavor and Fragrance Bali sebagai pusat pelatihan dan inkubasi industri. Tempat ini bukan hanya ruang teori, tapi tempat orang belajar langsung meracik aroma dari minyak atsiri jadi parfum, dari bahan alam jadi produk yang bisa dijual.

Programnya juga tidak kaku. Ada pelatihan parfum, aromaterapi, sampai mini class “Create Your Scent” yang intinya, orang bisa bikin aroma versinya sendiri. Jadi bukan cuma pakai parfum, tapi juga paham cara “meracik identitas bau”.

Menariknya, program ini juga menyasar kelompok pekerja migran Indonesia lewat kerja sama dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

Mereka dibekali keterampilan meracik minyak spa berbasis atsiri agar bisa bekerja di sektor spa dan wellness luar negeri, termasuk di negara seperti Maldives. Jadi skill-nya bukan cuma bertahan hidup, tapi juga naik kelas.

Selain itu, ada juga pendekatan yang lebih “membumi”. Bersama Universitas Udayana, peserta diajarkan mengolah minyak jelantah menjadi sabun, hingga membuat lilin aromaterapi. Jadi yang biasanya dianggap limbah dapur, bisa berubah jadi produk bernilai jual.

Tahun 2026, pengembangan ini makin diperkuat dengan agenda pelatihan rutin, misalnya pada Mei peracikan parfum, Juni sabun dan lilin aromaterapi dan Agustus ada pembuatan dupa aromaterapi.

Kalau dilihat sekilas, ini mungkin terlihat seperti pelatihan biasa. Tapi kalau ditarik ke atas, ini adalah bagian dari strategi besar membangun ekosistem industri aroma Indonesia.

Plt. Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika menambahkan PFF Bali diharapkan menjadi katalis lahirnya industri flavor, fragrance, dan wellness nasional yang lebih kompetitif, tidak hanya di pasar domestik, tapi juga global.

Pada akhirnya, arah besarnya cukup jelas, Indonesia ingin naik kelas. Dari sekadar pemasok bahan mentah, menjadi pemain utama di industri aroma dunia.

Dan Bali, diam-diam, sedang disiapkan jadi salah satu pintu masuknya.

Kalau dulu orang ke Bali untuk mencari ketenangan, ke depan bisa jadi mereka datang juga untuk satu hal lain, mencari aroma terbaik dari Indonesia. (***)

To Top