Kamis, 22 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » 72 Tahun RI Merdeka, Apa Betul Rakyatnya Merdeka ?

72 Tahun RI Merdeka, Apa Betul Rakyatnya Merdeka ?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 11 Agt 2017
  • visibility 1.300
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.ID, Palembang – Sebentar lagi rakyat Indonesia akan merayakan 72 tahun kemerdekaan bangsa ini, tepatnya 17 Agustus 1945. Kemeriahan dalam merayakan kemerdekaan itu terlihat meriah hingga ke pelosok desa. Hampir setiap halaman rumah, baik milik orang kaya hingga miskin terlihat bendera Merah Putih berkibar saat angin meniup kencang.

Pesta rakyat- pun terlihat meriah saat meramaikan hari jadi bangsa Indonesia ini. Suguhan lomba-lomba, seperti panjat pinang, balap karung hingga lomba main gaplek pasti sudah menjadi tradisi menyambut kemerdekaaan.

Namun dari keceriahan saat menyambut kemerdekaan RI itu, masih banyak yang perlu kita renungkan kembali. Apakah rakyat Indonesia sudah merdeka ? mungkin jawab ia.

Kita sudah bebas merdeka dari penjajahan kolonial Belanda [3,5 Abad] dan Jepang [3,5 tahun] yang diraih dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raga oleh seluruh pejuang bangsa ini. Bahkan tidak sedikit mereka yang memiliki kekayaan saat itu, rela mengorbankan hartanya demi mendukung perjuangan bangsa ini.

Dalam pembukaan Pembukaan UUD NRI 1945, alinea 1 dan 2 disebutkan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.”

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Namun disisi lain, saat kita mengisi kemerdekaan itu, apakah rakyat Indonesia sudah sejahtera, adil dan makmur, seperti tertuang dalam UUD 45 di atas ? mungkin jawabnya belum sepenuhnya.

Tak usah jauh – jauh saya bercerita, di Palembang Kota Kelahiran saya. Memang patut diakui dan boleh diacungkan jempol, lebih kurang 10 tahun pembangunan infrastruktur berkembang pesat.

Bahkan wajah Kota Palembang setiap tahunnya selalu berubah, pembangunan infrastuktur, seperti Jalan tol, play over hingga saat ini, yang tengah diselesaikan, yakni mega proyek Light Rail Transit (LRT), membuat Palembang terlihat akan lebih maju dibanding Kota lain yang g ada di Sumatera.

Warga Kota Palembang boleh bangga atas perjuangan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin memajukan Kota Palembang sebagai Ibukota provinsi yang pembangunannya melompat jauh.

Bagaimana dengan Walikota Palembang yang memiliki kekuasaan penuh terhadap pembangunan di wilayahnya, baik pembangunan infrastruktur di pusat-pusat kota hingga pinggiran [pelosok].

Namun kenyataan masih banyak masyarakat yang terkesan marjinal dan sepenuhnya belum tersentuh pembangunan infrastruktur, seperti distribusi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum [PDAM Tirta Musi], serta akses jalan yang rusak parah membuat warga terus berduka dengan kondisi tersebut.

Duka warga marjinal

Tidak usah jauh-jauh, satu contoh nyata, saat saya melintasi di salah satu jalan pinggiran Kota Palembang, tepatnya di jalan KH. Azhari, Kelurahan Kalidoni, Kecamatan Kalidoni, Palembang.

Sepanjang jalan tersebut, rusak parah, dan penuhi lubang yang cukup dalam, jika hari hujan seperti saat ini jalan tersebut sulit dilalui kendaraan roda dua dan empat, karena becek berlumpur, bahkan yang lebih miris lagi, saya sendiri kerap melihat kendaraan roda dua terbalik karena jalan licin.

Tetapi sebagai akses utama [Jalan Poros], warga disekitar jalan tersebut, terutama perumahan Girya Pesona Harapan Jaya dan Nirvana yang berjumlah sedikitnya 100 kepala keluarga lebih itu tetap memaksa melintas di jalan itu karena jalan tersebut merupakan satu-satu jalan dilingkungan tersebut.

Padahal jika pemerintah Kota Palembang lebih kreatif untuk terus memperbaiki jalan terus, setidaknya jalan tersebut menjadi jalan alternatif untuk mengurai kemacetan di jalan- jalan poros antara masyarakat yang tinggal di Merah Mata, Mata Merah, Sungai Batang, Sematang Borang, Sekojo serta Purwo.

Pengakuan warga setempat bahwa jalan tersebut baru satu kali sekali dicor, tepatnya sekitar dua tahun lalu sampai perbatasan perumahan. Tetapi umurnya hanya delapan bulan akibat jalan tersebut tak mampunya jalan menahan beban truk –truk angkutan tanah yang melebihi tonase.

Selain itu, disisi lain distribusi air bersih Tirta Musi hingga kini masih belum terealisasi, warga hanya bisa bertahan dengan memanfaatkan sumur dengan kondisi airnya berkarat dan bau dengan menyaring air tersebut.Hingga kini mereka hanya pasrah dan berduka dengan kondisi di daerah tersebut.

Karena mereka mengaku kerap membuat tulisan di media dengan kondisi jalan dan air bersih, bahkan pengajuan proposal pernah diajukan, namun jawabanya masih akan ditindak lanjuti.

Miris nian rasanya memang, jika saya mendengar duka mereka di 72 tahun kita merayakan kemerdekaan bangsa kita. Merayakan kemerdekaan sepertinya hampa, kesejahteraan dan keadilan yang tertuang di UUD 45 itu hanya pepesan belaka.

Terlebih ketika saya melihat jalan-jalan di perkampungan di Kota Palembang kerap diprioritas dan hampir setiap tahun mendapat jatah pengecoran dibanding jalan KH. Azari yang baru dua tahun dicor untuk pertama kali.

Saya sempat merenung bagaimana keadilan dan kejahteraan dapat merata, padahal akses jalan dan air bersih sumber paling utama untuk dipenuhi pemerintah.

Perumahan dibangun disana [ Pesona Harapan Jaya dan Nirvana) disana merupakan salah satu rumah murah program pemerintah yang dibangun pengembang, katanya fasilitasnya seperti akses jalan, air bersih dibantu pemerintah, namun hingga kini rumah yang dibangun oleh PT Alpin dan Nirvana tersebut belum memuaskan penghuninya.

Saya sempat tidak habis fikir dan bertanya dalam hati kecil, bagaimana pemerintah pusat dan daerah yang bertanggung jawab sesuai UUD 45, sepertinya hanya celotehan saja, namun pada kenyataannya masih sulit merealisasikan program-programnya.

Sebenarnya tak muluk-muluk yang diminta oleh rakyat yang tinggal pinggiran tersebut, selain infrastruktur seperti akses jalan yang bagus, distribusi air pun dapat terpenuhi segera.

Bagaimana Palembang akan disebut Kota Metropolis jika jalan-jalan dan kebutuhan air bersih masih belum terpenuhi untuk masyarakat marjinal ? Bagaimana kita ingin menjadi Kota yang pintar [smart city] jika kondisi infrastruktur tidak menunjang.

Ibaratnya saat ini Palembang hanya bagus dilihat dari cashing-nya saja, namun sementara di dalamnya masih belum memuaskan rakyatnya.

Piala kebersihan, seperti Adipura dan lainnya yang pernah disandang Kota Palembang jangan hanya dijadikan simbol dan pencitraan semata, karena pada hakekatnya untuk apa kota kita dinilai bersih, rapi dan indah. Namun dipinggiran kota masih banyak kita temui infrastruktur yang minim, bahkan banjir.

Sudah seharusnya di 72 tahun kita merdeka ini, pembangunan infrastruktur dapat dinikmati merata oleh segenap warga. Apalagi Palembang akan melaksanakan Pilkot/wawakot salah satu rangkaian 2018 sebagai rangkaian Pilkada serentak di Sumsel.

Saya berharap adanya pembangunan infrastruktur merata diseluruh pinggiran Palembang sehingga masyarakat tidak ada lagi yang termajinalkan, seiring Kota Palembang yang metropolis terus mengalami perubahan dan modern.

Tanpa akses jalan yang bagus, distribusi air bersih sepenuhnya belum terealisasi secara optimal dipinggiran kota, tentu pradikat smart city hanya sebagai omdong.

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dikenal Hingga ke Mancanegara, Tapi Pempek Minim Sertifikasi, Apa Kendalanya ?

    Dikenal Hingga ke Mancanegara, Tapi Pempek Minim Sertifikasi, Apa Kendalanya ?

    • calendar_month Senin, 18 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.645
    • 0Komentar

    Empek-empek [pempek] salah satu makanan khas Palembang yang terbuat dari bahan baku utama tepung kanji dan ikan yang digiling halus.  Beberapa tahun belakangan empek-empek semakin populer, bahkan setelah Palembang menjadi salah satu tuan rumah Sea Games – Asian Games, empek-empek  diminati hingga ke manca negara. Sumselterkini.co.id, Palembang – Di Kota Palembang makanan ini sangat mudah ditemukan, […]

  • Sadar SDA –nya dari Agro Hingga Penyangga Food Estate Nasional, Iskandar Ingin Produksi Meningkat Berkali Lipat, Infrasruktur di 3 Wilayah Diresmikan Sekaligus    

    Sadar SDA –nya dari Agro Hingga Penyangga Food Estate Nasional, Iskandar Ingin Produksi Meningkat Berkali Lipat, Infrasruktur di 3 Wilayah Diresmikan Sekaligus    

    • calendar_month Senin, 30 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 864
    • 0Komentar

        PEMERINTAH Kabupaten Ogan Komering Ilir [OKI] meresmikan tiga infrastruktur perioritas antara lain Duplikasi Jembatan Air Dusun Anyar, Jembatan Air Talang Pangeran dan Jembatan Gantung Sungai Babatan Kecamatan Pedamaran. Tiga infrastruktur yang diresmikan ini guna mempermudah mobilitas dan konektivitas masyarakat dengan harapan meningkatkan perekonomian setempat.”Akses mudah dijangkau ini setidak dapat mendorong pertumbuhan tiga daerah […]

  • 9.138 Sidak Sepekan, 128 Pedagang Ditegur

    9.138 Sidak Sepekan, 128 Pedagang Ditegur

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id – Pemerintah memperketat pengawasan harga pangan di seluruh Indonesia. Dalam tujuh hari terakhir, Satuan Tugas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan mencatat 9.138 kegiatan pemantauan di pasar tradisional, ritel modern, distributor hingga produsen. Dari operasi itu, 128 pelaku usaha menerima surat teguran karena menjual di atas ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah. Hal ini […]

  • Pembangunan Destinasi Wisata di Pulau Kemaro Harus Berkonsep Syariat Islam, Jubir Zuriat Kimerogan : Lahan Tidak Di Jual, Ini yang Wajib Dipenuhi Pemkot Palembang, Walikota Jawab Begini ?

    Pembangunan Destinasi Wisata di Pulau Kemaro Harus Berkonsep Syariat Islam, Jubir Zuriat Kimerogan : Lahan Tidak Di Jual, Ini yang Wajib Dipenuhi Pemkot Palembang, Walikota Jawab Begini ?

    • calendar_month Selasa, 29 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.901
    • 0Komentar

    ZURIAT Kimerogan berencanakan akan mewakafkan luas tanah seluas 87 Ha yang terletak di Pulo Kemarau untuk kemajuan pembangunan Destinasi wisata baru yang tengah direncanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Berbekal surat keputusan Mahkamah Agung (MA) dan Pengadilan Negeri Palembang, Zuriat Kimerogan akhirnya, Selasa (29/6/2021) bertemu langsung dengan Walikota Palembang H.Harnojoyo. Pertemuan yang berlangsung di Aula Utama […]

  • Siapa Mau Ikutan PTSL, Tahun Ini Rencananya  Ada Lagi Pendaftaran di Palembang

    Siapa Mau Ikutan PTSL, Tahun Ini Rencananya  Ada Lagi Pendaftaran di Palembang

    • calendar_month Kamis, 13 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 828
    • 0Komentar

    PROGRAM Pemerintah terkait Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Kantor Pertanahan Kota Palembang tahun anggaran 2022 rencana kembali akan dijalankan. Hal tersebut diawali langsung melalui pelantikan sumpah panitia kegiatan PTSL di Rumah Dinas Walikota, Jalan Tasik Palembang, Kamis [13/1/ 2022]. “Hari ini merupakan awal dari rangakaian kegiatan PTSL tahun anggaran 2022. Jadi, memang kegiatan tersebut kita […]

  • Amankan Dua Pelaku, Polda Sumut Sita 150 kg Sisik Trenggiling

    Amankan Dua Pelaku, Polda Sumut Sita 150 kg Sisik Trenggiling

    • calendar_month Minggu, 27 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 653
    • 0Komentar

    POLDA Sumut menangkgap 2 orang yang diduga menjual sisik trenggiling di Kecamatan Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut) dan menyita 150 kg sisik trenggiling dari tangan para pelaku. “Ditreskrimsus melakukan kegiatan penindakan terhadap perdagangan satwa liar dan dilindungi berupa sisik trenggiling berjumlah total 150 kg,” tegas Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi, S.I.K., […]

expand_less
WordPress Archive Jango | Highly Flexible Component Based WP Theme Jannah News – Newspaper Magazine News AMP BuddyPress Jannah – Newspaper Magazine News BuddyPress WordPress Theme Jannal – Curtains & Doors WordPress Theme Jannal - Windows Curtains & Doors Service WordPress Theme Jaran – Horse Riding School Elementor Template Kit Jarida – Responsive WordPress News, Magazine, Blog Jarida – Responsive WordPress News Theme, Magazine, Blog Jarsy Juice – Drink Brand Elementor Template Kit Jarvis – Night Club, Concert, Festival WordPress Theme