Selasa, 11 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan

Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
  • visibility 46
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rambut, Godek, Kumis, Janggut, dan Brewok: Cara Aku Berdamai di Usia Kepala Lima

PAGI senin setelah mandi, seperti hari-hari sebelumnya, aku berdiri sedikit lebih lama di depan cermin. Cahaya matahari pagi memantul pelan di wajahku dari kaca jendela kamar. Tidak ada yang berubah drastis, namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Yang kulihat bukan lagi hanya wajah.

Melainkan jejak waktu.

Di situ, pelan-pelan aku memandang wajah ku sendiri dari cermin di kamar,  rambut di kepalaku mulai menunjukkan tanda-tanda kejujuran usia.

Tidak semuanya hitam seperti dulu, ada helai-helai putih yang muncul tanpa permisi, menyelinap di antara yang gelap, seperti waktu yang diam-diam ikut duduk di kepala, tanpa pernah meminta izin. Bahkan porsinya hampir 50:50 ( hitam & uban).

Godekku juga menebal, janggutku memanjang, kumisku tak lagi hitam legam, dan brewokku mulai dipenuhi warna putih, uban yang dulu mungkin kuanggap tanda penuaan, kini justru terasa seperti penanda bahwa aku sudah melangkah cukup jauh dalam hidup.

Usiaku kini sudah di atas kepala lima, Juni ini hari kelahiran ku di dunia dan usiaku akan menemani dibelakangnya angka lima usiaku. Usia segitu sering disebut orang sebagai ‘kepala lima’, ya lima….lima setengah abad lebih umurku….

Mungkin disebut fase ini, dimana aku harus berfikir lebih jernih lagi dan lebih merefleksi diri, bahkan harus berusaha merubah semuanya, bukan  hanya fisik saja, tapi juga cara pandang.

Rambut, godek, kumis, janggut, dan brewok  itu semuanya anugerah diberikan Allah SWT sehingga sudah lebih dari dua bulan aku sengaja memelihara semuanya.

Panjangnya kurang lebih dua sentimeter, bukan tanpa maksud membiarkan rambut dan seluruh rambut wajah ditumbuhku, tapi inilah pilihan sadar.

Seolah aku sedang menulis catatan kecil di tubuh sendiri, bahwa aku tidak lagi berada di fase muda, waktu terus berjalan, dan aku tidak ingin lagi menutupinya.

Aku mulai memahami rambut di kepala, godek, kumis, janggut, dan brewok bukan cuma  bagian tubuh. Mereka seperti simbol yang diam-diam berbicara karena masing-masing punya cerita, punya peran, dan perlahan mengajarkanku memahami diri sendiri.

Rambut di kepala, bagiku adalah peta paling jujur tentang waktu. Ia tidak bisa berbohong. Ia tidak bisa ditahan. Ia tumbuh, berubah warna, lalu perlahan mengingatkan bahwa hidup ini bergerak tanpa bisa diulang.

Di sanalah, aku melihat masa muda yang pernah gaduh, pikiran yang pernah terburu-buru, dan keputusan-keputusan yang dulu diambil tanpa banyak jeda.

Godek, yang tumbuh di sisi wajah, bagiku seperti bingkai kehidupan. Ia tidak terlalu mencolok, tapi justru di situlah kekuatannya. Diam, tapi memberi bentuk. Seperti pengalaman-pengalaman kecil dalam hidup, yang mungkin dulu kuanggap sepele, tapi ternyata ikut membentuk siapa diriku hari ini.

Kumis, yang bertengger tepat di atas bibir, terasa seperti penjaga kata.

Di usia muda, aku mungkin mudah bicara, ringan berucap, kadang tanpa pikir panjang. Tapi kini, di usia kepala lima, kumis itu seperti pengingat bahwa setiap kata punya bobot. Tidak semua hal harus diucapkan. Ada yang cukup dipahami, ada yang cukup disimpan dalam diam.

Janggut, yang turun dari dagu, menjadi lambang waktu yang paling terasa. Ia tidak bisa dipaksa, tidak bisa dipercepat. Ia tumbuh perlahan, mengikuti umur.

Dari situ aku belajar hidup ini bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa siap kita menjalani setiap fase yang datang.

Sementara brewok, yang menyebar di pipi dan rahang, terasa paling jujur. Ia tumbuh tanpa banyak aturan kadang terlihat liar, kadang tak beraturan. Tapi justru di situlah keasliannya. Seperti hidup, yang tidak selalu rapi, tidak selalu sesuai rencana, tapi tetap harus diterima apa adanya.

Ketika semuanya kupanjangkan, wajahku seperti berubah menjadi ruang refleksi. Bukan lagi sekadar penampilan, tapi seperti peta kecil yang menyimpan arah perjalanan hidupku sendiri.

 

Jejak Waktu

Dan uban… di situlah titik yang paling dalam.

Di usia kepala lima lebih ini, aku tidak lagi melihat uban sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Justru sebaliknya, aku membiarkannya tumbuh dan memanjang, baik di rambut kepala maupun di rambut wajahku.

Helai-helai putih itu seperti garis waktu yang nyata, tanda penuaan yang tidak bisa dihindari, tapi bisa dimaknai.

Aku mulai melihatnya sebagai penanda bahwa aku sudah melewati banyak hal.

Bahwa hidup ini tidak lagi tentang mengejar, tapi tentang mengerti.

Tidak lagi tentang membuktikan, tapi tentang menerima.

Kadang aku tersenyum sendiri di depan cermin.

Dulu, mungkin aku ingin terlihat lebih muda dari umurku. Sekarang, justru aku ingin jujur pada umurku sendiri.

Ada kelegaan di situ.

Tidak perlu lagi menyamarkan,

Tidak perlu lagi berpura-pura.

Aku juga memperhatikan bagaimana sebagian orang di luar sana dengan percaya diri memanjangkan rambut dan janggut mereka, membiarkan uban tampil apa adanya.

Mereka terlihat gagah bukan karena muda, tapi karena utuh menerima diri.

Dari situ aku belajar satu hal sederhana, tapi dalam gagah itu bukan soal usia muda.

Gagah itu soal berdamai dengan waktu.

Apa yang tumbuh di tubuhku ini adalah ciptaan Allah SWT.

Dan ketika aku memilih merawatnya, bukan menyembunyikannya, di situ ada rasa syukur yang pelan-pelan tumbuh, bahwa aku masih diberi waktu untuk melihat perubahan ini, untuk merasakan fase ini.

Setiap kali aku bercermin, aku tidak hanya melihat wajah dengan rambut, godek, kumis, janggut, dan brewok yang mulai memutih. Aku melihat perjalanan.

Di usia kepala lima, hidup terasa berjalan dengan ritme yang berbeda.

Tidak lagi terburu-buru, tapi lebih dalam. Tidak lagi banyak ingin, tapi lebih banyak memahami.

Ada hal-hal yang dulu terasa penting, kini terasa biasa saja. Dan sebaliknya, ada hal-hal kecil yang dulu sering terlewat, sekarang justru terasa sangat berharga, waktu bersama keluarga, kesehatan, dan kesempatan untuk tetap berkarya.

Memanjangkan rambut dan seluruh rambut wajah ini akhirnya bukan hanya gaya. Ia menjadi semacam pengingat harian bahwa aku sedang berada di fase hidup yang tidak bisa diulang.

Namun aku juga paham, membiarkan tumbuh bukan berarti membiarkan berantakan. Aku tetap merawatnya membersihkan, menyisir, merapikan seperlunya. Karena di usia seperti ini, kerapian bukan lagi soal penampilan, tapi soal penghargaan pada diri sendiri.

Aku tidak sedang mencoba menjadi siapa-siapa.

Aku hanya sedang belajar menerima diriku yang sekarang dengan segala perubahan, dengan segala tanda yang mulai terlihat.

Dan pada akhirnya, semua ini bukan cuma tentang rambut, godek, janggut, kumis, atau brewok.

Ini tentang bagaimana aku memaknai usia kepala lima.

Tentang bagaimana aku melihat waktu bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan, tapi sesuatu yang harus dijalani dengan sadar.

Jika dulu aku mencari gagah dari luar, kini aku mulai menemukannya dari dalam.

Bukan dari hitamnya rambut, tapi dari caraku menerima setiap helai uban yang tumbuh dengan tenang, dengan sadar, dan dengan rasa syukur. (***)/bersambung

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri Diganti

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri Diganti

    • calendar_month Kamis, 26 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.188
    • 0Komentar

    KAPOLDA Sumsel Irjen Pol Prof Eko Indra Heri S, MM resmi diganti. Pergantian tersebut berdasarkan TR Kapolri bernomor ST : 1701/VIII/KEP/2021, tertanggal 25 Agustus 2021. Irjen Pol sendiri digantikan oleh Irjen Pol Drs Toni Harmanto MH, yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolda Sumbar. Irjen Pol Eko mendapatkan jabatan baru sebagai Koorsahli Kapolri. Sedangkan pengganti Irjen Pol […]

  • 3 nilai dasar ini yang harus dipegang teguh seluruh pegawai P3K yang baru dilantik

    3 nilai dasar ini yang harus dipegang teguh seluruh pegawai P3K yang baru dilantik

    • calendar_month Senin, 26 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.224
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, OKI – Bupati OKI melalui Sekretaris Daerah, Husin menekankan kepada seluruh pegawai yang dilantik agar memegang teguh tiga nilai dasar dalam menjalankan kerja yaitu integritas, pelayanan prima dan profesional dalam bekerja. Pesan itu disampaikannya saat mengambil sumpah janji 211 orang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Tenaga Kesehatan di lingkungan Pemkab OKI Formasi tahun […]

  • Gubernur Safari Jumat, Jemaah  Masjid Baiturrahman, Do’akan Hj Percha Binti  Herman Deru   

    Gubernur Safari Jumat, Jemaah  Masjid Baiturrahman, Do’akan Hj Percha Binti  Herman Deru  

    • calendar_month Jumat, 27 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 702
    • 0Komentar

    JEMAAH solat Jumat Masjid Baiturrahman yang berada di Jalan Alamsyah Ratu Prawiranegara Lorong Bukit Baru II, Palembang mengapresiasi  Gubernur H Herman Deru yang tetap tegar dalam menerima cobaan setelah satu pekan ditinggal putri tercintanya Hj Percha Leanpuri. Meski masih dalam suasana duka yang mendalam namun orang nomor satu di Sumsel ini tetap menjalankan tugasnya secara […]

  • Biar UMKM Berkembang di Muba, Ini Petuah Dodi Reza Alex kepada Bank Sumsel

    Biar UMKM Berkembang di Muba, Ini Petuah Dodi Reza Alex kepada Bank Sumsel

    • calendar_month Kamis, 14 Des 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.274
    • 0Komentar

    “Untuk itu saya mensupport UMKM, karena saya sangat merasakan ketika masih berkecimpung di HIPMI,”

  • Harapan untuk Wisuda UMP

    Harapan untuk Wisuda UMP

    • calendar_month Jumat, 1 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 941
    • 0Komentar

    WAKIL Gubernur Sumatera Selatan  Ir H. Mawardi Yahya memotivasi ribuan  wisudawan Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) di OPI Exhibition dan Convention Center, kemarin. Setelah lulus Mawardi berharap para alumni dapat membawa diri dan beradaptasi dengan dunia kerj. Motivasi tersebut diungkapkannya di hadapan 1183 orang wisudawan program strata satu (S1) dan 58 orang wisudawan program pascasarjana (S2) yang hadir. […]

  • Komit dengan  100 Hari  Pertama, Di Kegiatan “Susu Morning”, Jajaran Direksi & Dewas BPJAMSOSTEK Teken Fakta Integritas

    Komit dengan  100 Hari  Pertama, Di Kegiatan “Susu Morning”, Jajaran Direksi & Dewas BPJAMSOSTEK Teken Fakta Integritas

    • calendar_month Senin, 15 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.816
    • 0Komentar

    JAJARAN Direksi dan Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) berkomitmen dengan memulai 100 hari pertama.  Langkah ini dilakukan guna memastikan segala sesuatu yang dilaksanakan berlandaskan norma dan integritas yang tinggi. Terbukti jumat pekan lalu,  pada  Kegiatan “Susu Morning” di Plaza BPJAMSOSTEK, seluruh Direksi dan Dewas bertemu dan menandantangani kesepakatan yang tertuang dalam Pakta Integritas. Kegiatan ini dilakukan […]

expand_less
WordPress Archive Themify Wumblr WordPress Theme Therapia – Psychologist & Hypnotherapy Elementor Templates Therapica – Mental Health & Psychologist Elementor Template Kit Theratio - Architecture & Interior Design Elementor WordPress Theme Therma – Spa and Wellness WordPress Theme Thermen – Beauty Spa & Wellness Center WordPress Theme TheSaaS – Responsive Bootstrap SaaS, Startup & WebApp Template TheSaaS X | Responsive SaaS, Startup & Business WordPress Theme Think AI – AI Startup & Technology WordPress Theme Thrive Apprentice