Jumat, 16 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan

Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
  • visibility 88
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Rambut, Godek, Kumis, Janggut, dan Brewok: Cara Aku Berdamai di Usia Kepala Lima

PAGI senin setelah mandi, seperti hari-hari sebelumnya, aku berdiri sedikit lebih lama di depan cermin. Cahaya matahari pagi memantul pelan di wajahku dari kaca jendela kamar. Tidak ada yang berubah drastis, namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Yang kulihat bukan lagi hanya wajah.

Melainkan jejak waktu.

Di situ, pelan-pelan aku memandang wajah ku sendiri dari cermin di kamar,  rambut di kepalaku mulai menunjukkan tanda-tanda kejujuran usia.

Tidak semuanya hitam seperti dulu, ada helai-helai putih yang muncul tanpa permisi, menyelinap di antara yang gelap, seperti waktu yang diam-diam ikut duduk di kepala, tanpa pernah meminta izin. Bahkan porsinya hampir 50:50 ( hitam & uban).

Godekku juga menebal, janggutku memanjang, kumisku tak lagi hitam legam, dan brewokku mulai dipenuhi warna putih, uban yang dulu mungkin kuanggap tanda penuaan, kini justru terasa seperti penanda bahwa aku sudah melangkah cukup jauh dalam hidup.

Usiaku kini sudah di atas kepala lima, Juni ini hari kelahiran ku di dunia dan usiaku akan menemani dibelakangnya angka lima usiaku. Usia segitu sering disebut orang sebagai ‘kepala lima’, ya lima….lima setengah abad lebih umurku….

Mungkin disebut fase ini, dimana aku harus berfikir lebih jernih lagi dan lebih merefleksi diri, bahkan harus berusaha merubah semuanya, bukan  hanya fisik saja, tapi juga cara pandang.

Rambut, godek, kumis, janggut, dan brewok  itu semuanya anugerah diberikan Allah SWT sehingga sudah lebih dari dua bulan aku sengaja memelihara semuanya.

Panjangnya kurang lebih dua sentimeter, bukan tanpa maksud membiarkan rambut dan seluruh rambut wajah ditumbuhku, tapi inilah pilihan sadar.

Seolah aku sedang menulis catatan kecil di tubuh sendiri, bahwa aku tidak lagi berada di fase muda, waktu terus berjalan, dan aku tidak ingin lagi menutupinya.

Aku mulai memahami rambut di kepala, godek, kumis, janggut, dan brewok bukan cuma  bagian tubuh. Mereka seperti simbol yang diam-diam berbicara karena masing-masing punya cerita, punya peran, dan perlahan mengajarkanku memahami diri sendiri.

Rambut di kepala, bagiku adalah peta paling jujur tentang waktu. Ia tidak bisa berbohong. Ia tidak bisa ditahan. Ia tumbuh, berubah warna, lalu perlahan mengingatkan bahwa hidup ini bergerak tanpa bisa diulang.

Di sanalah, aku melihat masa muda yang pernah gaduh, pikiran yang pernah terburu-buru, dan keputusan-keputusan yang dulu diambil tanpa banyak jeda.

Godek, yang tumbuh di sisi wajah, bagiku seperti bingkai kehidupan. Ia tidak terlalu mencolok, tapi justru di situlah kekuatannya. Diam, tapi memberi bentuk. Seperti pengalaman-pengalaman kecil dalam hidup, yang mungkin dulu kuanggap sepele, tapi ternyata ikut membentuk siapa diriku hari ini.

Kumis, yang bertengger tepat di atas bibir, terasa seperti penjaga kata.

Di usia muda, aku mungkin mudah bicara, ringan berucap, kadang tanpa pikir panjang. Tapi kini, di usia kepala lima, kumis itu seperti pengingat bahwa setiap kata punya bobot. Tidak semua hal harus diucapkan. Ada yang cukup dipahami, ada yang cukup disimpan dalam diam.

Janggut, yang turun dari dagu, menjadi lambang waktu yang paling terasa. Ia tidak bisa dipaksa, tidak bisa dipercepat. Ia tumbuh perlahan, mengikuti umur.

Dari situ aku belajar hidup ini bukan soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa siap kita menjalani setiap fase yang datang.

Sementara brewok, yang menyebar di pipi dan rahang, terasa paling jujur. Ia tumbuh tanpa banyak aturan kadang terlihat liar, kadang tak beraturan. Tapi justru di situlah keasliannya. Seperti hidup, yang tidak selalu rapi, tidak selalu sesuai rencana, tapi tetap harus diterima apa adanya.

Ketika semuanya kupanjangkan, wajahku seperti berubah menjadi ruang refleksi. Bukan lagi sekadar penampilan, tapi seperti peta kecil yang menyimpan arah perjalanan hidupku sendiri.

 

Jejak Waktu

Dan uban… di situlah titik yang paling dalam.

Di usia kepala lima lebih ini, aku tidak lagi melihat uban sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Justru sebaliknya, aku membiarkannya tumbuh dan memanjang, baik di rambut kepala maupun di rambut wajahku.

Helai-helai putih itu seperti garis waktu yang nyata, tanda penuaan yang tidak bisa dihindari, tapi bisa dimaknai.

Aku mulai melihatnya sebagai penanda bahwa aku sudah melewati banyak hal.

Bahwa hidup ini tidak lagi tentang mengejar, tapi tentang mengerti.

Tidak lagi tentang membuktikan, tapi tentang menerima.

Kadang aku tersenyum sendiri di depan cermin.

Dulu, mungkin aku ingin terlihat lebih muda dari umurku. Sekarang, justru aku ingin jujur pada umurku sendiri.

Ada kelegaan di situ.

Tidak perlu lagi menyamarkan,

Tidak perlu lagi berpura-pura.

Aku juga memperhatikan bagaimana sebagian orang di luar sana dengan percaya diri memanjangkan rambut dan janggut mereka, membiarkan uban tampil apa adanya.

Mereka terlihat gagah bukan karena muda, tapi karena utuh menerima diri.

Dari situ aku belajar satu hal sederhana, tapi dalam gagah itu bukan soal usia muda.

Gagah itu soal berdamai dengan waktu.

Apa yang tumbuh di tubuhku ini adalah ciptaan Allah SWT.

Dan ketika aku memilih merawatnya, bukan menyembunyikannya, di situ ada rasa syukur yang pelan-pelan tumbuh, bahwa aku masih diberi waktu untuk melihat perubahan ini, untuk merasakan fase ini.

Setiap kali aku bercermin, aku tidak hanya melihat wajah dengan rambut, godek, kumis, janggut, dan brewok yang mulai memutih. Aku melihat perjalanan.

Di usia kepala lima, hidup terasa berjalan dengan ritme yang berbeda.

Tidak lagi terburu-buru, tapi lebih dalam. Tidak lagi banyak ingin, tapi lebih banyak memahami.

Ada hal-hal yang dulu terasa penting, kini terasa biasa saja. Dan sebaliknya, ada hal-hal kecil yang dulu sering terlewat, sekarang justru terasa sangat berharga, waktu bersama keluarga, kesehatan, dan kesempatan untuk tetap berkarya.

Memanjangkan rambut dan seluruh rambut wajah ini akhirnya bukan hanya gaya. Ia menjadi semacam pengingat harian bahwa aku sedang berada di fase hidup yang tidak bisa diulang.

Namun aku juga paham, membiarkan tumbuh bukan berarti membiarkan berantakan. Aku tetap merawatnya membersihkan, menyisir, merapikan seperlunya. Karena di usia seperti ini, kerapian bukan lagi soal penampilan, tapi soal penghargaan pada diri sendiri.

Aku tidak sedang mencoba menjadi siapa-siapa.

Aku hanya sedang belajar menerima diriku yang sekarang dengan segala perubahan, dengan segala tanda yang mulai terlihat.

Dan pada akhirnya, semua ini bukan cuma tentang rambut, godek, janggut, kumis, atau brewok.

Ini tentang bagaimana aku memaknai usia kepala lima.

Tentang bagaimana aku melihat waktu bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan, tapi sesuatu yang harus dijalani dengan sadar.

Jika dulu aku mencari gagah dari luar, kini aku mulai menemukannya dari dalam.

Bukan dari hitamnya rambut, tapi dari caraku menerima setiap helai uban yang tumbuh dengan tenang, dengan sadar, dan dengan rasa syukur. (***)/bersambung

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muba Menuju SNP, Begini Komentar Sekda 

    Muba Menuju SNP, Begini Komentar Sekda 

    • calendar_month Selasa, 24 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 786
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Sosialisasi Sekolah Menuju Standar Nasional Pendidikan (SNP) jenjang SD, SMP dan SMA se Kabupaten Muba di Auditorium Pemkab Muba, kemarin. Menurut laporan Ketua Sekolah Menuju SNP Kabupaten Muba, Hj Marwiyah MPd menyampaikan, kegiatan sekolah menuju SNP ini merupakan perubahan nomenklatur yang selama ini dinamakan sekolah […]

  • Mesti Belajar di Rumah, Bupati Minta Guru Tetap Ajarkan Materi Sosialiasi COVID-19 kepada Siswa

    Mesti Belajar di Rumah, Bupati Minta Guru Tetap Ajarkan Materi Sosialiasi COVID-19 kepada Siswa

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 921
    • 0Komentar

    SISWA belajar di rumah bagi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Musi Banyuasin ( Muba) diperpanjang hingga 13 April mendatang. Langkah ini diambil demi memutus mata rantai penyebaran virus Covid19 di Muba. Perpanjangan masa belajar di rumah ini dilakukan secara serius oleh sejumlah sekolah di Muba. Sesuai himbauan Bupati Musi Banyuasin, […]

  • DPMPTSP Muba Raih Penghargaan  Kemenpan RB

    DPMPTSP Muba Raih Penghargaan  Kemenpan RB

    • calendar_month Rabu, 10 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 992
    • 0Komentar

    DINAS Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Musi Banyuasin meraih penghargaan sebagai Unit Penyelenggara Pelayan Publik dengan Kategori Pelayanan Prima tahun 2020 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), Selasa (9/3/2021). DPMPTSP Muba dinilai sukses terapkan layanan prima.Peniliaian ini telah melewati evaluasi dari Kemenpan terhadap layanan publik di seluruh […]

  • Lintasan LRT Palembang

    Begini Kata BI Gambaran Ekonomi Sumsel 2017-2018

    • calendar_month Sabtu, 23 Des 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.117
    • 0Komentar

    Berbagai isu dan potensi menjadi faktor yang dapat meningkatkan atau menghambat tumbuhnya perekonomian daerah.

  • Update COVID-19 Muba: Nihil Penambahan Kasus

    Update COVID-19 Muba: Nihil Penambahan Kasus

    • calendar_month Senin, 18 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.054
    • 0Komentar

    GUGUS Tugas Penanganan COVID-19 Muba, Senin (18/1/2021) mengkonfirmasi nihil penambahan kasus COVID-19.  “Tidak ada penambahan kasus per 18 Januari 2021,” ungkap Jubir Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Muba, Herryandi Sinulingga AP.  Diketahui, hingga 18 Januari 2021 ada sebanyak 855 kasus diantaranya 730 kasus sembuh, 92 masih dirawat, dan 33 kasus meninggal dunia. Sementara itu, berdasarkan data […]

  • Keren, Hadapi Revolusi Industri 4.0, Murid SMP di Muba Dapat Training Vlog oleh School Development Outrech

    Keren, Hadapi Revolusi Industri 4.0, Murid SMP di Muba Dapat Training Vlog oleh School Development Outrech

    • calendar_month Selasa, 20 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.041
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, SEKAYU –  Revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Untuk kemajuan sebuah bangsa tentu […]

expand_less
WordPress Archive Themify Wumblr WordPress Theme Therapia – Psychologist & Hypnotherapy Elementor Templates Therapica – Mental Health & Psychologist Elementor Template Kit Theratio - Architecture & Interior Design Elementor WordPress Theme Therma – Spa and Wellness WordPress Theme Thermen – Beauty Spa & Wellness Center WordPress Theme TheSaaS – Responsive Bootstrap SaaS, Startup & WebApp Template TheSaaS X | Responsive SaaS, Startup & Business WordPress Theme Think AI – AI Startup & Technology WordPress Theme Thrive Apprentice