Kamis, 24 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Catatan Kaki Bukit » Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan

Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
  • visibility 56
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kumis, Penjaga Kata di Gerbang Mulut

ADA masa ketika aku merasa berbicara adalah cara paling mudah untuk menunjukkan diri.

Apa yang ada di kepala, langsung keluar lewat mulut. Cepat. Ringan. Kadang tanpa sempat dipikir ulang.

Baru setelah usia berjalan cukup jauh, aku mulai sadar-

kata-kata ternyata tidak pernah benar-benar sederhana.

Ia bisa tinggal lama di hati seseorang. Kadang sebagai penguat, kadang justru menjadi luka yang tidak terlihat.

Dan anehnya, kesadaran itu justru datang ketika aku mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini tumbuh diam di atas bibirku.

Kumis.

Ia ada di sana, tepat di atas bibir. Tidak pernah berpindah tempat. Tidak pernah absen. Tapi juga jarang benar-benar diperhatikan.

Padahal, kalau dipikir-pikir, posisinya itu tidak sembarangan.

Ia seperti penjaga di gerbang utama.

Gerbang kata.

Dulu, di masa muda, kumis ini hanya bagian dari penampilan. Kadang dicukur habis supaya terlihat lebih “bersih”, kadang dibiarkan tumbuh sekadarnya tanpa makna.

Yang penting rapi.

Yang penting enak dilihat.

Soal apa yang keluar dari mulut, itu urusan lain.

Dan di situlah mungkin letak kelengahannya.

Karena semakin ke sini, aku mulai menyadari satu hal sederhana-

mulut itu bisa lebih tajam dari apa pun.

Ia bisa menguatkan, tapi juga bisa melukai.

Ia bisa menenangkan, tapi juga bisa meruntuhkan.

Dan kumis ini, yang diam di atasnya, seperti pengingat yang tidak pernah bersuara.

Bahwa setiap kata yang keluar, tidak pernah benar-benar ringan.

Aku jadi teringat masa-masa ketika berbicara terasa begitu mudah.

Apa yang terlintas di kepala, langsung keluar begitu saja.

Tanpa jeda.

Tanpa timbang.

Tanpa pikir panjang.

Seolah kata-kata itu tidak punya konsekuensi.

Padahal, setelah waktu berjalan, baru terasa kata yang sudah keluar, tidak bisa ditarik kembali.

Ia menetap di hati orang lain, entah sebagai luka, entah sebagai kenangan.

Di usia kepala lima ini, ritme itu berubah.

Bukan karena tidak punya hal untuk dikatakan.

Tapi karena mulai paham

tidak semua harus diucapkan.

Ada yang cukup dipikirkan.

Ada yang cukup disimpan.

Ada yang cukup didoakan dalam diam.

Kumis ini, yang dulu hanya hiasan, kini seperti garis batas yang mengingatkan

sebelum kata melangkah keluar, ada baiknya ia duduk sebentar.

Diperiksa.

Ditimbang.

Dipahami.

Aku mulai menikmati jeda itu.

Jeda sebelum bicara.

Jeda sebelum merespons.

Jeda sebelum memberi penilaian.

Karena justru di dalam jeda itulah, banyak hal bisa diselamatkan.

Hubungan bisa tetap utuh.

Perasaan orang lain bisa tetap terjaga.

Dan diri sendiri tidak perlu menyesal di kemudian hari.

Kadang aku tersenyum sendiri.

Ternyata, menjadi lebih diam bukan berarti kehilangan suara.

Justru mungkin sedang belajar menggunakan suara dengan lebih bijak.

Kumis ini juga mengajarkan tentang tanggung jawab.

Bahwa setiap ucapan adalah cerminan isi kepala, sekaligus isi hati.

Tidak bisa lagi sembarangan.

Tidak bisa lagi sekadar ikut arus.

Di usia ini, berbicara bukan lagi soal ingin didengar.

Tapi tentang apakah yang didengar itu membawa kebaikan atau tidak.

Aku juga mulai melihat, orang-orang yang benar-benar dihormati bukan yang paling banyak bicara.

Tapi yang tahu kapan harus bicara.

Dan kapan cukup tersenyum saja.

Ada wibawa yang lahir dari ketenangan itu.

Bukan dibuat-buat.

Tapi tumbuh dari pemahaman.

Dan mungkin, kumis ini diam-diam sedang mengarahkanku ke sana.

Menjadi lebih hemat kata.

Lebih jernih dalam berbicara.

Lebih sadar bahwa lidah tidak bertulang, tapi bisa meninggalkan bekas yang panjang.

Aku tidak lagi ingin berbicara untuk menang.

Tidak juga untuk terlihat benar.

Cukup untuk menyampaikan yang perlu.

Seperlunya.

Sejujurnya.

Dan selembut mungkin.

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak bicara.

Tapi siapa yang kata-katanya paling bisa dipercaya.

Dan di antara semua yang tumbuh di wajah ini, kumis mungkin yang paling sunyi.

Tapi justru dari situlah, aku belajar bahwa menjaga kata, adalah salah satu bentuk kedewasaan yang tidak selalu terlihat, tapi selalu terasa.

(***)/bersambung – Part 5: Janggut, Waktu yang Turun dari Dagu

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lenovo Aktifkan Transformasi Digital dalam Pendidikan dengan Layanan Konsultasi, Teknologi,&Sumber Daya Baru

    Lenovo Aktifkan Transformasi Digital dalam Pendidikan dengan Layanan Konsultasi, Teknologi,&Sumber Daya Baru

    • calendar_month Minggu, 2 Apr 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 941
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, London, Inggris – Lenovo™ mengumumkan layanan konsultasi baru di Bett UK untuk mendukung sekolah dalam perencanaan strategis dan pengembangan profesional bagi para pendidik. Untuk membantu pendidik, siswa, dan bahkan administrator TI merangkul dan berhasil dalam transformasi digital, Lenovo mengumumkan kolaborasi industri yang akan membuat sumber daya teknologi pendidikan lebih mudah diakses dan mendukung hasil pembelajaran […]

  • Berlaku Seumur Hidup, Wakil Walikota Palembang Suarakan Ini kepada Generasi Milenium 

    Berlaku Seumur Hidup, Wakil Walikota Palembang Suarakan Ini kepada Generasi Milenium 

    • calendar_month Senin, 22 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.205
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda tidak henti-hentinya mengajak warga Palembang untuk melakukan perekaman data e-KTP tersebut khususnya untuk remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Menurutnya Elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) saat ini sudah berlaku seumur hidup, jadi cukup sekali merekam e-KTP. ”Identitas diri ini sangat penting mengingat semua urusan dari hal […]

  • ASN OKI Dilarang Terima & Minta Gratifikasi Hari Raya Keagamaan, Benarkah ?

    ASN OKI Dilarang Terima & Minta Gratifikasi Hari Raya Keagamaan, Benarkah ?

    • calendar_month Senin, 10 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.264
    • 0Komentar

    APARATUR Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI), dilarang menerima gratifikasi hari raya baik berupa bingkisan maupun bentuk lainnya yang berhubungan dengan jabatan atau berlawanan dengan fungsi tugasnya. Hal itu dipertegas dengan Surat Edaran Bupati Ogan Komering Ilir tentang Pencegahan Gratifikasi Terkait Hari Raya Keagamaan dengan Nomor Surat 700/03/UPG.OKI/2021 tanggal 7 […]

  • Kasus Covid-19 Naik, Kapolres Pagar Alam : Tindak Tegas Jika Ada Kerumunan Massa

    Kasus Covid-19 Naik, Kapolres Pagar Alam : Tindak Tegas Jika Ada Kerumunan Massa

    • calendar_month Kamis, 17 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.364
    • 0Komentar

    KAPOLRES Pagaralam AKBP Dolly Gumara SIK menegaskan tidak boleh ada kerumunan masa yang berpotensi menyebarkan wabah Covid-19 menyusul kasus Covid 19 di Kota Pagaralam terus meningkat hingga mencapai 103 kasus. Selain itu Kapolres juga akan menindak tegas bagi siapapun yang mencoba mengganggu situasi Kamtibmas diwilayah hukum Kota Pagaralam. Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolres Pagaralam […]

  • timnas-u-19

    Horee..Garuda Nusantara Tembus Semifinal AFF U-19

    • calendar_month Rabu, 13 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.107
    • 0Komentar

    Setelah menjinakan Brunei Darusallam dengan kemenangan telak 8-0, akhirnya Garuda Nusantara bisa tembus partai semifinal di ajang AFF U-19.

  • Bawa Daging Kurban, Door to Door Bagikan ke Rumah Warga di Sekayu

    Bawa Daging Kurban, Door to Door Bagikan ke Rumah Warga di Sekayu

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.237
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Usai melaksanakan Shalat Ied dan open house bersama keluarga besar di kediamannya, Senin (17/6/2024). Sekda Apriyadi Mahmud door to door membagikan daging kurban untuk warga pra sejahtera di Sekayu. Pantauan di lokasi, tampak mantan Pj Bupati Muba itu juga membawa paket sembako berbagi untuk warga yang membutuhkan. Mengenakan baju kokoh berwarna putih, Apriyadi […]

expand_less
WordPress Archive MainWP Spinner MainWP Sucuri Extension MainWP Team Control Extension MainWP Time Capsule MainWP UpdraftPlus MainWP URL Extractor MainWP WooCommerce Shortcuts MainWP WooCommerce Status MainWP WordFence MainWP WordPress SEO