Kumis, Penjaga Kata di Gerbang Mulut
ADA masa ketika aku merasa berbicara adalah cara paling mudah untuk menunjukkan diri.
Apa yang ada di kepala, langsung keluar lewat mulut. Cepat. Ringan. Kadang tanpa sempat dipikir ulang.
Baru setelah usia berjalan cukup jauh, aku mulai sadar-
kata-kata ternyata tidak pernah benar-benar sederhana.
Ia bisa tinggal lama di hati seseorang. Kadang sebagai penguat, kadang justru menjadi luka yang tidak terlihat.
Dan anehnya, kesadaran itu justru datang ketika aku mulai memperhatikan sesuatu yang selama ini tumbuh diam di atas bibirku.
Kumis.
Ia ada di sana, tepat di atas bibir. Tidak pernah berpindah tempat. Tidak pernah absen. Tapi juga jarang benar-benar diperhatikan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, posisinya itu tidak sembarangan.
Ia seperti penjaga di gerbang utama.
Gerbang kata.
Dulu, di masa muda, kumis ini hanya bagian dari penampilan. Kadang dicukur habis supaya terlihat lebih “bersih”, kadang dibiarkan tumbuh sekadarnya tanpa makna.
Yang penting rapi.
Yang penting enak dilihat.
Soal apa yang keluar dari mulut, itu urusan lain.
Dan di situlah mungkin letak kelengahannya.
Karena semakin ke sini, aku mulai menyadari satu hal sederhana-
mulut itu bisa lebih tajam dari apa pun.
Ia bisa menguatkan, tapi juga bisa melukai.
Ia bisa menenangkan, tapi juga bisa meruntuhkan.
Dan kumis ini, yang diam di atasnya, seperti pengingat yang tidak pernah bersuara.
Bahwa setiap kata yang keluar, tidak pernah benar-benar ringan.
Aku jadi teringat masa-masa ketika berbicara terasa begitu mudah.
Apa yang terlintas di kepala, langsung keluar begitu saja.
Tanpa jeda.
Tanpa timbang.
Tanpa pikir panjang.
Seolah kata-kata itu tidak punya konsekuensi.
Padahal, setelah waktu berjalan, baru terasa kata yang sudah keluar, tidak bisa ditarik kembali.
Ia menetap di hati orang lain, entah sebagai luka, entah sebagai kenangan.
Di usia kepala lima ini, ritme itu berubah.
Bukan karena tidak punya hal untuk dikatakan.
Tapi karena mulai paham
tidak semua harus diucapkan.
Ada yang cukup dipikirkan.
Ada yang cukup disimpan.
Ada yang cukup didoakan dalam diam.
Kumis ini, yang dulu hanya hiasan, kini seperti garis batas yang mengingatkan
sebelum kata melangkah keluar, ada baiknya ia duduk sebentar.
Diperiksa.
Ditimbang.
Dipahami.
Aku mulai menikmati jeda itu.
Jeda sebelum bicara.
Jeda sebelum merespons.
Jeda sebelum memberi penilaian.
Karena justru di dalam jeda itulah, banyak hal bisa diselamatkan.
Hubungan bisa tetap utuh.
Perasaan orang lain bisa tetap terjaga.
Dan diri sendiri tidak perlu menyesal di kemudian hari.
Kadang aku tersenyum sendiri.
Ternyata, menjadi lebih diam bukan berarti kehilangan suara.
Justru mungkin sedang belajar menggunakan suara dengan lebih bijak.
Kumis ini juga mengajarkan tentang tanggung jawab.
Bahwa setiap ucapan adalah cerminan isi kepala, sekaligus isi hati.
Tidak bisa lagi sembarangan.
Tidak bisa lagi sekadar ikut arus.
Di usia ini, berbicara bukan lagi soal ingin didengar.
Tapi tentang apakah yang didengar itu membawa kebaikan atau tidak.
Aku juga mulai melihat, orang-orang yang benar-benar dihormati bukan yang paling banyak bicara.
Tapi yang tahu kapan harus bicara.
Dan kapan cukup tersenyum saja.
Ada wibawa yang lahir dari ketenangan itu.
Bukan dibuat-buat.
Tapi tumbuh dari pemahaman.
Dan mungkin, kumis ini diam-diam sedang mengarahkanku ke sana.
Menjadi lebih hemat kata.
Lebih jernih dalam berbicara.
Lebih sadar bahwa lidah tidak bertulang, tapi bisa meninggalkan bekas yang panjang.
Aku tidak lagi ingin berbicara untuk menang.
Tidak juga untuk terlihat benar.
Cukup untuk menyampaikan yang perlu.
Seperlunya.
Sejujurnya.
Dan selembut mungkin.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak bicara.
Tapi siapa yang kata-katanya paling bisa dipercaya.
Dan di antara semua yang tumbuh di wajah ini, kumis mungkin yang paling sunyi.
Tapi justru dari situlah, aku belajar bahwa menjaga kata, adalah salah satu bentuk kedewasaan yang tidak selalu terlihat, tapi selalu terasa.
(***)/bersambung – Part 5: Janggut, Waktu yang Turun dari Dagu