Catatan Kaki Bukit

Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan (Part 5)

ist

Janggut, Waktu yang turun dari dagu

SEMAKIN usia bertambah, aku mulai sadar bahwa hidup ternyata tidak menyukai sesuatu yang terlalu tergesa.

Apa yang dipaksa cepat, sering kali justru tidak bertahan lama.

Dan anehnya, kesadaran itu datang dari sesuatu yang tumbuh pelan di bawah daguku sendiri.

Janggut.

Dulu, aku tidak pernah benar-benar memikirkannya.

Kalau mulai panjang, dicukur.

Kalau terlihat berantakan, dirapikan.

Selesai.

Tidak ada makna khusus.

Ia hanya bagian kecil dari wajah yang tumbuh begitu saja mengikuti waktu.

Tapi sekarang, di usia kepala lima ini, aku mulai melihatnya berbeda.

Janggut ternyata tidak pernah tumbuh terburu-buru.

Ia datang pelan.

Sedikit demi sedikit.

Nyaris tidak terasa.

Tapi suatu hari, ketika bercermin lebih lama, kita sadar

ia sudah berubah banyak.

Dan bukankah hidup juga begitu?

Masa muda dulu terasa seperti perlombaan.

Aku ingin cepat berhasil.

Cepat sampai.

Cepat diakui.

Seolah semua harus segera terjadi sebelum waktu mendahului.

Kadang aku melihat orang lain melangkah lebih dulu, lalu diam-diam bertanya dalam hati kenapa bukan aku?

Kenapa hidupku terasa lebih lambat?

Tapi waktu terus berjalan.

Dan semakin ke sini, aku mulai mengerti bahwa hidup tidak selalu meminta kita berlari.

Kadang ia hanya meminta kita bertahan.

Karena tidak semua hal baik datang dalam waktu cepat.

Ada yang memang harus menunggu.

Ada yang harus dijalani pelan-pelan.

Ada yang baru terasa maknanya setelah usia cukup jauh berjalan.

Janggut ini seperti pengingat yang sabar.

Ia tidak pernah memaksa tumbuh sekaligus.

Tidak juga marah ketika harus menunggu waktu.

Ia hanya tumbuh sesuai ritmenya.

Dan dari situ aku belajar

mungkin hidup memang tidak perlu selalu dipercepat.

Aku mulai mengingat banyak hal yang dulu terasa lambat, tapi akhirnya justru paling berarti.

Proses memahami diri sendiri.

Belajar menerima kegagalan.

Memaafkan keadaan.

Dan berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua keinginan harus menjadi kenyataan.

Di usia ini, aku tidak lagi ingin buru-buru sampai.

Aku lebih ingin mengerti perjalanan.

Karena ternyata, yang paling melelahkan bukanlah berjalan jauh.

Tapi memaksa diri terus berlari padahal hati sudah letih.

Aku tersenyum kecil sambil mengusap janggut yang mulai dipenuhi uban.

Helai-helai putih itu seperti penanda bahwa waktu benar-benar bekerja diam-diam.

Ia tidak bersuara.

Tidak mengetuk pintu.

Tapi perlahan mengubah cara kita melihat hidup.

Dulu aku mengira kedewasaan datang ketika seseorang berhasil memiliki banyak hal.

Sekarang aku mulai merasa

kedewasaan justru datang ketika seseorang bisa lebih tenang menerima hidup apa adanya.

Tidak lagi sibuk membandingkan.

Tidak lagi gelisah mengejar.

Tidak lagi marah pada waktu.

Janggut ini juga mengajarkan proses tidak selalu terlihat indah saat dijalani.

Kadang membosankan.

Kadang melelahkan.

Kadang membuat kita ingin menyerah di tengah jalan.

Tapi justru dari proses panjang itulah, seseorang perlahan dibentuk.

Menjadi lebih kuat.

Lebih sabar.

Dan lebih mengerti dirinya sendiri.

Aku tidak lagi ingin memaksa hidup berjalan sesuai kehendakku.

Karena semakin dipaksa, semakin terasa berat.

Sekarang aku hanya ingin menjalaninya setenang mungkin.

Selangkah demi selangkah.

Seperti janggut yang tumbuh perlahan dari dagu.

Tanpa suara.

Tanpa tergesa.

Tapi pasti.

Dan mungkin, di usia kepala lima ini, aku akhirnya mulai memahami satu hal sederhana—

bahwa hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai.

Tapi siapa yang paling siap menerima setiap proses yang harus dilewati.

(***)/bersambung – Part 6: Brewok, Wajah yang Belajar Jujur

To Top