Catatan Kaki Bukit

Ketika Uban Tak Lagi Disembunyikan (Part 6)

foto: one

Brewok, wajah yang belajar jujur

TIDAK semua yang tumbuh di wajah harus selalu terlihat rapi.

Dan mungkin, hidup juga begitu.

Kesadaran itu datang pelan ketika aku mulai membiarkan brewok di wajahku tumbuh lebih bebas dari biasanya.

Tidak terlalu diatur.

Tidak terlalu dipaksa mengikuti bentuk tertentu.

Kadang tebal di satu sisi.

Kadang tipis di sisi lain.

Tidak simetris.

Tidak selalu sesuai keinginan.

Tapi justru di situlah aku mulai melihat sesuatu yang selama ini sering ingin kusembunyikan ketidaksempurnaan.

Dulu aku termasuk orang yang ingin banyak hal berjalan sesuai rencana.

Kalau ada yang meleset sedikit, rasanya harus segera dibetulkan.

Kalau ada yang tidak sesuai harapan, hati langsung gelisah.

Seolah hidup harus selalu tampak rapi supaya terlihat baik-baik saja.

Padahal semakin usia bertambah, aku mulai sadar tidak ada hidup yang benar-benar rapi.

Selalu ada bagian yang berantakan.

Ada rencana yang gagal.

Ada harapan yang tidak sampai.

Ada luka yang tetap tinggal meski waktu sudah berjalan jauh.

Dan semua itu adalah bagian dari hidup yang tidak bisa dihapus begitu saja.

Brewok ini seperti mengingatkanku pada semua hal itu.

Ia tumbuh apa adanya.

Tidak sibuk mencari bentuk sempurna.

Tidak juga malu menunjukkan sisi yang tidak beraturan.

Dan mungkin, justru itu yang membuatnya terasa jujur.

Aku mulai memahami  selama ini manusia sering terlalu sibuk terlihat baik di depan orang lain.

Menata wajah.

Menata kata-kata.

Menata kehidupan agar tampak utuh.

Padahal di dalamnya, banyak yang sebenarnya sedang lelah.

Sedang bingung.

Sedang mencoba bertahan.

Aku pun pernah seperti itu.

Berusaha terlihat kuat meski hati tidak selalu baik-baik saja.

Berusaha terlihat tenang meski pikiran sedang penuh.

Sampai akhirnya usia mengajarkanku satu hal tidak apa-apa menjadi manusia biasa.

Tidak apa-apa punya kekurangan.

Tidak apa-apa tidak selalu sempurna.

Karena hidup bukan perlombaan siapa yang paling rapi terlihat.

Tapi siapa yang paling jujur menjalani dirinya sendiri.

Aku tersenyum kecil ketika bercermin.

Proses hidup

Brewok yang mulai dipenuhi uban itu kini tidak lagi terasa mengganggu.

Justru ia seperti tanda bahwa aku sudah cukup jauh berjalan.

Sudah cukup banyak mengalami.

Sudah cukup sering jatuh dan belajar berdiri lagi.

Dan semua itu meninggalkan jejak.

Di wajah.

Di pikiran.

Juga di hati.

Di usia kepala lima ini, aku tidak lagi ingin menjadi seseorang yang terlihat sempurna.

Aku hanya ingin menjadi seseorang yang lebih jujur.

Jujur pada umur.

Jujur pada proses hidup.

Jujur pada luka dan kegagalan yang pernah kulewati.

Karena ternyata, menerima diri sendiri apa adanya memberi ketenangan yang tidak sedikit.

Tidak perlu lagi sibuk berpura-pura.

Tidak perlu lagi terlalu takut dinilai orang.

Cukup menjalani hidup dengan lebih ringan.

Dengan lebih sadar.

Dan dengan lebih menerima.

Brewok ini akhirnya bukan lagi sekadar rambut yang tumbuh di wajah.

Ia menjadi pengingat  hidup tidak harus selalu lurus untuk bisa berarti.

Tidak harus selalu sempurna untuk bisa disyukuri.

Dan mungkin, kedewasaan memang dimulai ketika seseorang berhenti sibuk menyembunyikan dirinya sendiri.

Lalu mulai berani berkata pelan di depan cermin “Ya, inilah aku.” (***)/bersambung – Part 7: Wajah yang Akhirnya Mengerti Waktu

To Top