Godek: Bingkai Sunyi yang Diam-Diam Membentuk Wajah Hidup
SORE itu, setelah obrolan tentang rambut yang mulai memutih masih terngiang di kepala, aku kembali berdiri di depan cermin. Bukan untuk memastikan apa yang sudah jelas terlihat, tapi seperti biasa hanya ingin membaca ulang sesuatu yang tidak pernah benar-benar tertulis.
Kali ini, mataku tidak berhenti di rambut kepala.
Ia bergeser sedikit ke samping.
Ke godek.
Tipis, tapi tegas. Tidak seramai brewok, tidak sejelas janggut, dan tidak se-“berisik” kumis yang sering jadi penjaga kata. Godek ini seperti bagian yang sering luput diperhatikan, padahal diam-diam ia punya peran penting.
Ia adalah bingkai.
Dan seperti bingkai pada sebuah lukisan, kehadirannya tidak selalu disadari. Tapi tanpa itu, sesuatu terasa kurang lengkap.
Aku jadi teringat masa muda.
Dulu, godek ini sering kupotong tanpa pikir panjang. Bahkan kadang dianggap gangguan kecil yang harus dirapikan secepat mungkin. Tidak pernah benar-benar kupedulikan bentuknya, apalagi maknanya.
Yang penting rapi. Yang penting terlihat “bersih”.
Tapi sekarang, di usia kepala lima ini, aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Godek bukan lagi cuma rambut di sisi wajah.
Ia seperti kumpulan pengalaman kecil yang dulu terasa sepele, tapi ternyata ikut membentuk siapa aku hari ini.
Tidak semua hal besar dalam hidup datang dengan suara keras.
Sebagian justru datang pelan.
Diam.
Hampir tidak terasa.
Seperti godek ini.
Ia tumbuh di pinggir, tidak pernah minta perhatian, tapi diam-diam memberi garis tegas pada wajah.
Seperti pengalaman hidup yang tidak pernah kita catat, tapi justru paling membekas.
Aku mulai mengingat hal-hal kecil yang dulu sering kulewati begitu saja.
Percakapan singkat dengan orang tua.
Nasihat yang dulu terdengar biasa.
Kegagalan kecil yang sempat dianggap tidak penting.
Pertemuan-pertemuan singkat yang tidak direncanakan.
Semua itu seperti godek dalam hidupku.
Tidak menonjol.
Tapi membentuk.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar hal-hal besar, sampai lupa bahwa hidup justru dibangun dari serpihan-serpihan kecil yang tidak selalu terlihat penting.
Dan di usia ini, serpihan-serpihan itu mulai terasa maknanya.
Godek ini juga mengajarkanku tentang keseimbangan.
Ia tidak boleh terlalu panjang hingga terlihat liar, tapi juga tidak harus selalu habis dipangkas sampai hilang.
Ada titik tengah.
Seperti hidup.
Tidak semua harus berlebihan.
Tidak semua harus dihilangkan.
Ada hal-hal yang cukup dijaga agar tetap pada tempatnya.
Cukup dirawat, tanpa harus dipaksakan.
Aku tersenyum kecil.
Ternyata, semakin usia bertambah, semakin banyak hal sederhana yang berubah menjadi pelajaran.
Yang dulu dianggap remeh, kini terasa dalam.
Yang dulu diabaikan, sekarang justru sering dipikirkan.
Godek ini, yang dulu hanya bagian pinggiran, kini seperti pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang apa yang terlihat di tengah.
Tapi juga tentang apa yang tumbuh di sisi.
Tentang hal-hal kecil yang setia menemani, meski jarang diperhatikan.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan sebenarnya.
Bukan pada yang paling menonjol.
Tapi pada yang paling konsisten.
Yang tetap ada, meski tidak selalu dilihat.
Yang tetap tumbuh, meski tidak selalu dipuji.
Aku tidak lagi ingin menghilangkannya seperti dulu.
Aku memilih merawatnya.
Bukan karena ingin terlihat berbeda.
Tapi karena aku mulai menghargai apa yang dulu sering kulewatkan.
Bahwa hidup ini, pada akhirnya, bukan hanya soal sorotan utama.
Tapi juga tentang bingkai yang membuat semuanya terasa utuh.
Dan godek ini, dengan segala diamnya, sudah cukup lama mengajarkanku satu hal penting
bahwa yang berada di pinggir, belum tentu tidak berarti.
Kadang justru di situlah letak cerita yang paling jujur.
(***)/bersambung