DI peta, ruas Tol Betung–Tempino terlihat seperti garis lurus yang menjanjikan pasalnya menghubungkan wilayah, memangkas waktu tempuh, dan kalau semua berjalan lancar menggerakkan roda ekonomi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jambi. Tapi di lapangan, ceritanya tak sesederhana garis di peta.
Aspalnya memang sudah terbentang di beberapa titik. Kendaraan bahkan sudah bisa melintas. Namun, kata orang, ini bukan soal bisa atau tidak bisa dilewati. Ini soal nyaman atau tidak, aman atau tidak, dan yang paling penting, benar-benar siap atau masih setengah jadi.
Di sinilah cerita lama kembali muncul pembebasan lahan.
Wakil Gubernur Sumsel, Cik Ujang, angkat bicara dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera ruas Betung–Tempino–Jambi di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).
Pesannya Sumsel tidak boleh tertinggal dari Pulau Jawa dalam urusan infrastruktur.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan sebab merujuk di Pulau Jawa, pembangunan jalan tol bisa melaju cepat meski berhadapan dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Sementara di Sumatera, dengan jarak antardesa yang lebih longgar, justru kerap tersendat.
“Ironis,” kata sebagian orang.
Cik Ujang pun tidak menutup-nutupi masalah yang ada.
Ia mengakui, hingga kini ruas Betung–Tempino belum sepenuhnya rampung. Kendala utamanya masih itu-itu juga, masih seputar pembebasan lahan yang berlarut-larut.
Padahal, harapan masyarakat sudah lama menggantung di proyek ini.
Padahal jalan tol bukan hanya soal kendaraan melaju kencang. Di baliknya ada ongkos logistik yang bisa ditekan, distribusi barang yang lebih cepat, hingga peluang usaha baru yang terbuka.
Misalnya saja, perjalanan yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam bisa dipangkas signifikan. Sopir angkutan tak perlu lagi berjibaku dengan jalan sempit dan macet. Pedagang bisa lebih cepat mengirim barang. Harga di pasar pun, dalam teori sederhana, bisa lebih stabil.
Tapi semua itu masih menunggu satu yaitu proyek ini benar-benar tuntas.
Cik Ujang menargetkan dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan, ruas tol ini sudah bisa difungsikan secara maksimal. Bahkan, ia berharap pada November nanti, persoalan yang ada sudah bisa diselesaikan.
Target itu terdengar optimistis. Tapi masyarakat tentu punya pertanyaan, realistis atau sekadar harapan?
Masalah pembebasan lahan memang bukan cerita baru. Dalam banyak proyek infrastruktur, persoalan ini kerap menjadi “episode panjang” yang sulit diakhiri.
Mulai dari sengketa kepemilikan, harga yang tidak menemui titik temu, hingga adanya pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi.
Harus tepat
Cik Ujang mengingatkan agar proses ini tidak jatuh ke tangan yang salah. Artinya, pembebasan lahan harus dilakukan secara tepat, transparan, dan tidak dimanfaatkan oleh spekulan.
Kalau tidak, proyek strategis nasional ini bisa kembali tersendat dan masyarakat lagi-lagi yang harus menunggu lebih lama.
Tak hanya Betung–Tempino, perhatian juga diarahkan ke rencana ruas tol lain, yakni Prabumulih–Muara Enim–Lahat–Lubuklinggau hingga Bengkulu. Meski pembangunan fisiknya belum dimulai, Cik Ujang mendorong agar pembebasan lahan bisa dipersiapkan dari sekarang.
Langkah ini bisa dibilang sebagai belajar dari pengalaman. Jangan sampai proyek sudah siap dibangun, tapi lahan masih jadi persoalan di belakang.
Selain lahan, ada juga isu Hak Guna Usaha (HGU) dan sertifikat hak milik yang perlu segera dibereskan. Hal-hal administratif seperti ini sering kali terdengar sepele, tapi dampaknya bisa besar jika tidak ditangani sejak awal.
Di tengah semua itu, satu hal yang pasti, masyarakat menunggu.
Mereka tidak terlalu peduli dengan istilah teknis atau proses birokrasi yang rumit. Yang mereka ingin tahu sederhana saja kapan jalan tol ini benar-benar bisa digunakan dengan nyaman dan aman?
Karena bagi warga, tol bukan sekadar proyek pemerintah., lantaran soal waktu tempuh yang lebih singkat, biaya perjalanan yang lebih ringan, dan harapan hidup yang sedikit lebih mudah.
Tol Betung–Tempino mungkin sudah mulai terlihat wujudnya. Tapi untuk benar-benar hidup dan memberi manfaat, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Dan seperti banyak proyek lainnya, kuncinya tetap satu: jangan biarkan cerita lama terus terulang. (***)

