Senin, 26 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Agribisnis » Menyongsong Kebangkitan Bambu Indonesia

Menyongsong Kebangkitan Bambu Indonesia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 22 Apr 2021
  • visibility 2.811
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BAMBU Indonesia tengah memasuki episode baru. Sebuah dokumen strategi nasional (stranas) sedang disiapkan. Dokumen ini akan menjadi acuan bersama lintas sektor dan para pemangku kepentingan, dalam pengembangan bambu terintegrasi hulu-tengah-hilir di Indonesia.

“Semoga penyusunan stranas ini menjadi momentum bagi kebangkitan bambu di Indonesia,” ujar, Dr. Agus Justianto, Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi (BLI), dalam sambutannya pada acara Focus Group Discussion (FGD) Draf Nol Stranas Bambu lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang dilaksanakan secara virtual, Jumat (15/4).

Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi KLHK memprakarsai penyusunan draf stranas tersebut. Tim studi dibentuk untuk mengkaji pengembangan bambu terintegrasi mencakup aspek ekonomi, sosial, budaya, ekologi, lingkungan, kebijakan dan regulasi. Beranggotakan para peneliti dan analis kebijakan dengan berbagai bidang kepakaran, Tim telah menghasilkan draft nol Stranas Bambu pada awal April 2021.

“Draf nol Strategi Nasional Pengembangan Bambu Indonesia berfokus pada bagaimana mengintegrasikan lintas sektor hulu, tengah dan hilir, dengan tetap berbasis pada masyarakat yang telah menjadi bagian dari pengelolaan dan pemanfaatan bambu,” jelas Agus, dalam FGD yang diselenggarakan oleh Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), BLI KLHK.

Ia menegaskan bahwa menjadi keharusan bagi KLHK yang memiliki kewenangan pada sektor hulu dan tengah, untuk bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Semua unsur sangat penting, baik kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, para penggiat dan juga pegiat, serta pelaku usaha bambu pada semua sektor, termasuk sektor hilir.

Upaya tersebut menurut Agus, dilakukan untuk bersama-sama mewujudkan bambu sebagai sumber daya alam yang dapat menggerakkan ekonomi sekaligus meningkatkan kuallitas lingkungan hidup di Indonesia.

Pada pertemuan virtual tersebut, draf Stranas Bambu mendapat masukan dari seluruh eselon 1 terkait lingkup KLHK. Masukan juga diterima dari para peneliti, analis kebijakan, dan widyaiswara yang bergabung dalam FGD yang dihadiri oleh sekitar 110 orang tersebut.

Masukan penting yang mengemuka adalah, bahwa Stranas Bambu harus mencakup seluruh aspek pengembangan. Mulai dari budidaya hingga pemasaran dan kelembagaan, yang didukung oleh pengembangan produk kreatif yang terus menerus berbasis teknologi dan inovasi, baik produk dan jasa lingkungan (tata air, serapan karbon).

Data bambu Indonesia juga menjadi sorotan dalam FGD ini. Ketersediaan data yang akurat adalah kebutuhan untuk penyusunan rencana pengembangan bambu. Untuk itu inventarisasi potensi dan sebaran bambu nasional menjadi rekomendasi penting dalam stranas ini.

Dari FGD ini juga mengemuka perlunya penguatan kelembagaan pengembangan bambu lintas sektor. Di antaranya penguatan kapasitas 4P (people, public, private, partnership), agar strategi program pengembangan bambu dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terarah.

Ketersediaan regulasi untuk mendukung pengembangan bambu lintas sektor juga sangat krusial. Selain melengkapi peraturan sektoral yang sudah tersedia saat ini, regulasi tersebut akan menjadi arahan implementasi Stranas Bambu dan juga mengatur peran para pemangku kepentingan lintas sektor. Regulasi ini merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan implementasi Stranas Bambu ke depan.

Terkait Stranas Bambu, Agus mengungkapkan bahwa sebelumnya Indonesia pernah memiliki Strategi Nasional dan Rancang Tindak Pelestarian Bambu dan Pemanfaatannya Secara Berkelanjutan, yang diterbitkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (LH) pada akhir 1997. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Sarwono Kusumaatmadja, Menteri LH periode 1993-1998. Namun dalam implementasinya terkendala karena situasi resesi negara pada 1998.

“Bapak Sarwono meminta kita mereviu kembali dokumen stranas tersebut dan menyusun Stranas Bambu Indonesia dengan menyesuaikan perkembangan yang ada saat ini, baik di tingkat nasional dan global,”jelas Agus.

Untuk finalisasi draf Strategi Nasional Pengembangan Bambu Terintegrasi Hulu-Tengah-Hilir ini, Kementerian LHK tengah menjaring masukan dari berbagai pihak. FGD lingkup Kementerian LHK ini adalah langkah awal. Hasilnya akan dibawa ke dalam FGD mitra lingkup KLHK, FGD lintas Kementerian/Lembaga, serta finalnya dalam konsultasi publik yang lebih luas. Penyusunan Stranas Bambu ini juga mendapat dukungan dari ICRAF, ACIAR dan Yayasan Bambu Lestari (YBL).

 

Pengembangan Bambu 

Optimisme tentang pengembangan bambu berangkat dari menguatnya perspektif banyak pihak tentang bambu. Jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) ini, kini tidak lagi sebatas bernilai sejarah perjuangan di masa lampau serta nilai budaya dan religi, melainkan juga terbukti memiliki nilai ekologi, lingkungan dan ekonomi yang menjanjikan.

Dalam COP 21 UNFCCC, di Paris, Perancis, sebuah gerakan membangun desa bambu disosialisasikan dalam sesi berjudul “A Bamboo Climate Change Resilience Strategy for Indonesia: Through Supporting 1000 Bamboo Villages”, di Paviliun Indonesia, 10 December 2015. Sejak itu, Gerakan 1.000 Desa Bambu berjalan dengan target jangka panjang 25-30 tahun mencakup seluruh wilayah Indonesia.

Daerah yang menjadi percontohan di mana industri bambu rakyat yang sudah berjalan dengan dukungan para pihak terdapat di Kabupaten Ngada, Provinsi NTT. Kementerian LHK bersama-sama dengan Yayasan Bambu Lestari serta didukung Pemerintah Daerah dan parapihak menjadikan Kabupaten Ngada sebagai “Pusat Unggulan Industri Bambu Rakyat”.

Indonesia diperkirakan memiliki 1 juta hektar lebih tanaman bambu, namun, hanya 25.000 hektar yang telah dikelola dalam bentuk hutan/kebun bambu, sementara sisanya tumbuh secara sporadis. Bekerja sama dengan Yayasan Bambu Lestari, The International Tropical Timber Organization (ITTO) dan BLI KLHK menginisiasi suatu model pengelolaan dan pemanfaatan bambu berbasis industri rakyat  melalui Gerakan 1.000 Desa Bambu.

Kemudian, BLI KLHK melanjutkan upaya pencapaian 1000 Desa Bambu melalui kerja sama Kanoppi fase 2 (Kanoppi-2). Kerjasama Kanoppi merupakan singkatan dari kayu-non kayu produksi dan pemasarannya didukung oleh The World Agroforestry Center (ICRAF) dan Australian Center for International  Agroforestry Research (ACIAR), sejak Agustus 2018 dan akan berakhir pada Desember 2021.

Kanoppi-2 dilakukan bertujuan untuk memperkuat Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, dengan menjadikannya sebagai Pusat Unggulan Industri Bambu Rakyat di Indonesia. Dalam upaya itu, bersama-sama dengan Yayasan Bambu Lestari, BLI mengembangkan dan mempromosikan wanatani bambu berbasis pasar untuk usah kecil menengah di Indonesia, termasuk mengawal dan mendampingi Kabupaten Ngada dan kelompok-kelompok masyarakatnya.

BLI Kementerian LHK telah melakukan penelitian dan pengembangan bambu yang akan menjadi dasar pengembangan bambu Indonesia pada masa yang akan datang. Dengan teknologi dan inovasi, produk rekayasa bambu dapat menjadi pengganti kayu yang kekuatannya dapat setara dengan kayu jati. Pemanfaatan bambu juga berkembang untuk arang aktif dan cuka kayu. Bahkan diketahui bahwa arang bambu yang diolah menjadi karbon porous ternyata bermanfaat untuk pengobatan kanker.

Bambu juga memiliki nilai jasa lingkungan yang beragam. Dengan kemampuan serapan karbonnya, bambu mampu berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim, termasuk berpeluang meraih insentif dari pengurangan emisi karbon dunia.

Penggunaan bambu untuk merestorasi lahan marginal dan kritis serta konservasi tanah dan air juga sangat menjanjikan. Apalagi jika payment for ecosystem services dapat diimplementasikan dengan mekanisme yang sederhana. Hal ini akan memberikan manfaat yang berlipat baik dari aspek keuntungan langsung berupa produk bambu, serta nilai jasa lingkungan tata air dan serapan karbon termasuk wisata alam bambu.

Dengan keberagaman manfaat bambu tersebut serta dukungan teknologi dan inovasi, jenis HHBK ini diyakini dapat menjadi komoditas penggerak ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan hidup di Indonesia ke depan.

Oleh karenanya, Kementerian LHK terus mendorong pengembangan potensi HHBK Indonesia.  Seiring perkembangan revolusi industri 4.0, HHBK diarahkan masuk dalam industri multibisnis kehutanan yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.  Harapannya, HHBK baik dari aspek produk maupun jasa lingkungan, akan menjadi salah satu tulang punggung baru perekonomian Indonesia dengan tetap melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.[***]

 

Sumber  : www.menlhk.go.id

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alex Ngaku Terharu  Terima  Penghargaan dari REI

    Alex Ngaku Terharu  Terima  Penghargaan dari REI

    • calendar_month Rabu, 22 Nov 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 913
    • 0Komentar

    “Kami menyadari tidak bisa membangun daerah hanya dengan APBD sendiri, harus ada investasi dari luar,”

  • Dunia Lagi Ribut Soal Tarif Trump,Indonesia Pilih Pariwisata!

    Dunia Lagi Ribut Soal Tarif Trump,Indonesia Pilih Pariwisata!

    • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 975
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Lagi-lagi dunia dagang dibuat gempar sama drama tarif tinggi ala Presiden Donald Trump. Barang-barang dari Indonesia, yang dulu bisa ngacir ke pasar luar negeri, sekarang malah kayak ditarik rem tangan. Tarif tinggi bikin ekspor megap-megap. Tapi tenang, kita nggak kehabisan akal. Menpar Widiyanti Putri Wardhana punya solusi yang bisa dibilang cukup mind-blowing fokus ke […]

  • Polsek Pagaralam Selatan Berhasil Meringkus Dua Kakak Beradik Pelaku Jambret 

    Polsek Pagaralam Selatan Berhasil Meringkus Dua Kakak Beradik Pelaku Jambret 

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.327
    • 0Komentar

    KAKAK peradik pelaku jambret berhasil diringkus anggota [Tim “Timpas”] Reskrim Polsek Pagaralam Selatan. Dua pelaku, yaitu Heldi Aditya Ronaldao (21) dan saudara kandungnya Heldi  M Fadila (16) warga Nusa Indah RT 002 RW 004, Kelurahan Tebat Giri Indah, Kecamatan Pagaralam Selatan. Informasi yang berhasil dihimpun, penangkapan kedua pelaku yang merupakan adik kakak ini berawal dari adanya […]

  • Horee, Sebentar Lagi Keinginan Pemilik Toko di Kawasan Sudirman Bakal Terwujud, Mau Tahu ?

    Horee, Sebentar Lagi Keinginan Pemilik Toko di Kawasan Sudirman Bakal Terwujud, Mau Tahu ?

    • calendar_month Kamis, 13 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.277
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Keinginan pemilik toko di Kawasan Jalan Jenderal Sudirman yang ingin dibebaskan dari biaya parkir, sepertinya bakal terwujud, pasalnya Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang akan mengabulkan permohonan mereka menyusul akan ditertibkannya parkir di kawasan tersebut. Asisten I Setda kota Palembang, Sulaiman Amin mengatakan ada dua solusi menganai itu setelah setelah meninjau dari segala aspek. […]

  • Utusan Khusus PBB Apresiasi Fasilitas Peringatan Dini Tsunami untuk Kesiapsiagaan Bali

    Utusan Khusus PBB Apresiasi Fasilitas Peringatan Dini Tsunami untuk Kesiapsiagaan Bali

    • calendar_month Minggu, 24 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 5.295
    • 0Komentar

    FASILITAS sirine menjadi bagian dari sistem peringatan dini tsunami yang ditempatkan di kawasan Serangan, Denpasar, Provinsi Bali. Sistem tersebut diharapkan dapat mendorong aksi dini untuk keselamatan warga. Hal ini disampaikan oleh Utusan Khusus PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana Mami Mizutori pada Sabtu (23/4). Fasilitas lain yang ada di kawasan itu yaitu tempat evakuasi sementara (TES) […]

  • 4 Desa Jadi Pelopor Desa Cantik di OKI

    4 Desa Jadi Pelopor Desa Cantik di OKI

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 681
    • 0Komentar

    BUPATI Ogan Komering Ilir (OKI), H. Iskandar, SE mencanangkan program desa cantik atau desa cinta statistik. Desa cantik merupakan program Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rangka peningkatan kompetensi aparatur desa dalam pengelolaan dan pemanfaatan data sehingga perencanaan pembangunan desa lebih tepat sasaran. “Kalau pemahaman statistiknya semakin baik, aparat desa bisa gunakan data-data itu untuk membangun […]

expand_less
WordPress Archive Hillary – Creative Portfolio Elementor Template Kit Himalaya – Construction Elementor Template Kit Himara – Hotel Template Kit Hipsound – Music Streaming & Podcast Elementor Template Kit Hirelab – Human Resource & Recruitment Agency Elementor Template Kit Hireo – Job Board & Freelance Services Marketplace HTML Template HistoryPress – WordPress Theme for History Sites & Enthusiasts Hitboox – Games Studio WordPress Theme Hnice – Modern Funiture WooCommerce Theme Hoax – Creative Agency Elementor Template Kit