ADA sebuah pepatah lama di kalangan petani “Kalau biji kopi bisa bicara, mungkin ia sudah protes, kok nasibku pahit terus, padahal aku diciptakan untuk jadi manis di cangkir orang kota”.
Nah, pepatah itu tampaknya cocok sekali untuk kopi asal Sumatera Selatan. Wangi, berbakat, tapi kok kalah pamor dengan saudara-saudaranya dari Aceh, Toraja, ataupun Lampung?.
Padahal Sumsel ini bukan kaleng-kaleng dalam urusan kopi, lihat saja peta persebarannya dari Lahat yang sejuk, Muara Enim yang tangguh, hingga ke Empat Lawang dan OKU Selatan yang penuh semangat bertani.
Kopinya ada, bijinya bagus, petaninya ulet, tapi, kenapa ya, pamornya seperti menumpang tidur di beranda rumah orang?.
Coba kita tengok si kopi Gayo dari Aceh, ia bukan cuma jadi primadona di Jakarta Selatan, tapi juga dielu-elukan di Berlin, Dubai, Melbourne, sampai Kyoto.
Di sana, kopi lokal dipoles seperti permaisuri, dipanen dengan senyum, diproses dengan cinta, dikemas dengan bangga, dan dijual dengan strategi. Hasilnya? Wow… melejit!. Sementara kopi kita, jangankan dikemas cantik, yang jual di pasar saja sering bingung mau sebut varietas apa.
Bukan salah kopinya, sama sekali bukan, salah satu penyebab utamanya, seperti dikatakan Sekda Sumsel H. Edward Candra saat menghadiri FGD di OJK, adalah akses pembiayaan yang terbatas. Petani kita ini ibarat punya mobil Ferrari tapi hanya dikasih bensin satu liter. Mau ngebut gimana, Pak?.
Produktivitas kopi kita hanya 892 kg/Ha, padahal bisa jauh lebih tinggi kalau ada dana untuk modernisasi. Bayangkan kalau petani kita bisa punya alat sortasi digital, mesin roasting portable, atau bahkan koperasi digital. Wah…., Sumsel bisa jadi Coffee Capital of Southern Hemisphere!.
Jangan salah, strategi juga berperan penting, di luar negeri, kopi dijual bukan cuma pakai rasa, tapi juga cerita. Cerita tentang petani bernama Pak Ujang yang memetik kopi jam lima pagi sambil ngaji, atau tentang kebun di lereng Bukit Barisan yang berkabut dan penuh doa.
Konsumen luar negeri doyan cerita, bukan cuma cita rasa, oleh karena itu, FGD dan simbolisasi akses keuangan yang dihadiri para tokoh penting, seperti Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala OJK Sumsel, Kepala BI, BPS, dan para dinas terkait, jangan hanya jadi seremoni sambil makan risoles. Ini momentum, ini tonggak, jangan sampai kita rajin FGD tapi lupa bergerak cepat.
Solusinya setidaknya, bangun branding kopi Sumsel secara serius, karena kopi Sumsel butuh brand story, butuh duta kopi, dan festival yang tidak hanya isinya lomba tarik tambang pakai karung goni, tapi juga lelang kopi internasional.
Selain itu, kembangkan sistem closed loop yang benar-benar jalan, bukan hanya jargon manis, tapi skema konkret, dari akses pembiayaan, pendampingan teknis, hingga jaminan pasar.
Kalau bisa juga, buat petani jadi bintang, bukan penonton, dan satu lagi dukung koperasi petani untuk jadi produsen langsung, bukan cuma penyetor biji ke tengkulak.
Terakhir, kata orang bijak itu, “Kalau tak bisa jadi kopi terenak, jadilah kopi yang paling dicari karena ceritanya”. Kita sudah punya bahan cerita, tinggal bagaimana kita menuliskannya dengan manis.
Kopi Sumsel tak perlu iri dengan kopi lain, Kita punya keunggulan, tinggal diseduh dengan strategi dan diseruput dengan kebanggaan, karena kopi yang harum, tak boleh selamanya hanya menguap di dapur sendiri.
Semoga setelah ini, kita tak cuma jadi tempat FGD dan simbolisasi, jadikan Sumsel sebagai rumah kopi yang wangi hingga ke langit Eropa, harum di meja Arab, dan menggoda lidah Asia. Jangan biarkan kopi kita hanya jadi legenda lokal yang tak sempat go international.

