Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Anak-anak & Internet, “Jangan Dibiarkan Nyebur ke Laut Tanpa Ban Pelampung”

Anak-anak & Internet, “Jangan Dibiarkan Nyebur ke Laut Tanpa Ban Pelampung”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 14 Apr 2025
  • visibility 696
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.di, -Mari kita akui satu hal penting dulu internet itu seperti laut. Luas, dalam, penuh kejutan, kadang indah, tapi juga bisa menyeret kita ke palung Mariana kalau main nyemplung sembarangan. Coba bayangkan anak-anak kita yang baru bisa berenang gaya batu dibiarkan nyebur ke laut digital, tanpa ban pelampung, tanpa pelatih, apalagi peluit pengawas pantai.

Syukurlah, pemerintah akhirnya sadar dan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Atau yang lebih gampangnya kita sebut saja PP Tunas, karena isinya memang buat melindungi tunas-tunas bangsa dari kepanasan server jahat dan tsunami konten dewasa.

Tapi jangan salah kaprah, PP ini bukan larangan main internet. Bukan juga ajakan balik ke zaman pager dan burung merpati. Ini lebih ke ajakan buat ngajarin anak-anak naik sepeda digital dengan pakai roda bantu dulu. Jangan langsung disuruh downhill di Tanjakan Cinta, bisa-bisa malah nyasar ke jurang konten dewasa atau terseret arus judi online.

Zaman sekarang, anak umur 9 tahun lebih akrab sama TikTok daripada buku IPA. Dan kita gak bisa nyalahin mereka sepenuhnya. Dunia berubah, teknologi makin canggih, dan kalau kita gak ikut menyesuaikan, ya siap-siap aja ditikung sama anak sendiri yang lebih ngerti cara pasang VPN dibanding cara nyetrika baju.

PP Tunas ini hadir buat jadi peta jalan, bukan palang pintu. Pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) yang sekarang digawangi  Meutya Hafid lagi mencoba ngajarin kita semua bahwa membimbing anak di dunia digital bukan soal memblokir, tapi mengarahkan.

Dalam rilis komdigi.go.id, Meutya bahkan ngasih perumpamaan yang ciamik belajar naik sepeda pakai roda bantu dulu. Nah, internet juga gitu. Anak-anak butuh alat bantu, pengawasan, dan bimbingan sebelum dilepas sendirian mengarungi algoritma YouTube dan umpan TikTok yang bisa nyeret mereka dari video slime ke konspirasi bumi datar dalam 5 menit.

Menurut data dari NCMEC (National Center for Missing and Exploited Children), Indonesia masuk peringkat ke-4 dunia dalam kasus pornografi anak dengan total 5.566.015 laporan dalam 4 tahun terakhir. Itu bukan cuma angka. Itu suara jeritan dalam diam dari jutaan anak yang jadi korban digital.

Dan gak berhenti di situ. 48 persen anak-anak Indonesia mengalami perundungan online, dan 80 ribu anak di bawah umur 10 tahun pernah terpapar konten judi online. Bayangin, belum genap hafal perkalian 6×7, tapi udah tau cara deposit ke slot online.

Masih ngerasa ini lebay? Yuk kita lihat contoh nyata. Di Inggris, kasus tragis Molly Russell, remaja 14 tahun, bikin dunia terguncang. Molly meninggal karena bunuh diri setelah berbulan-bulan dijejali algoritma media sosial yang menyodorkan konten gelap, depresif, dan self-harm.

Akunnya seperti dilatih untuk tenggelam dalam keputusasaan. Setelah kematiannya, orang tuanya kampanye besar-besaran agar media sosial bertanggung jawab. Tapi ya, nasi sudah jadi bubur. Buburnya tumpah pula.

Selain itu di Korea Selatan, ada kasus keji bernama “Nth Room”, di mana ribuan anak terutama perempuan dijebak dan dieksploitasi secara digital. Video mereka dijual, disebarkan di aplikasi chat, dan para pelakunya bersembunyi di balik layar. Dunia maya berubah jadi ruang penyiksaan tak kasat mata.

Di Indonesia sendiri? Pernah ada bocah SD yang ketahuan habiskan tabungan buat top-up game dan judi online. Ibunya nangis-nangis, anaknya polos bilang, “Aku kira itu beli diamond, Bu.” Lain waktu, kita dengar berita remaja dirundung habis-habisan di media sosial hanya karena tidak mengikuti tren, sampai akhirnya menarik diri dari sekolah dan harus ditangani psikolog.

Internet itu memang tak berwujud, tapi dampaknya bisa nyata dan membekas. Kalau tak dijinakkan, ia bisa berubah dari taman bermain menjadi taman pemakaman.

Kalau internet adalah hutan belantara, maka anak-anak itu backpacker pemula. Masa iya kita biarin mereka masuk tanpa peta, kompas, atau setidaknya botol air minum? Tugas orang tua, guru, pemerintah, dan penyelenggara platform digital adalah jadi guide tour yang bukan cuma nyeritain pohon-pohon, tapi juga ngingetin mana rawa-rawa dan jebakan harimau.

PP Tunas mewajibkan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) mulai dari media sosial, game online, sampai layanan keuangan digital untuk aktif melindungi anak. Bukan cuma dengan bikin syarat umur formalitas, tapi juga melakukan literasi digital dan menghentikan profiling anak untuk keperluan iklan. Iya, anak-anak kita bukan target iklan popok yang sekarang diganti iklan kripto dan judi berkedok game.

Dan yang lebih keren, anak-anak juga diajak ngomong dalam penyusunan PP ini. Ada 350 anak dilibatkan langsung. Ini baru keren. Karena ngomongin masa depan anak ya memang harus dengar suara mereka. Bukan sekadar debat para dewasa yang kadang terlalu sibuk mikir politik sampai lupa anaknya diam-diam follow akun misterius.

Sosialisasi PP Tunas dimulai dari Bali. Katanya karena budaya kekeluargaan di sana masih kental. Mungkin karena di Bali, anak-anak masih dianggap milik bersama. Kalau ada yang salah jalan, semua ikut menasihati. Semacam banjar digital, tempat semua orang jadi satpam moral tanpa harus jadi nyinyir.

Universitas Udayana jadi tuan rumah pertama, dan responsnya positif. Para dosen hukum, sosiologi, dan psikologi ikut nimbrung. Ada yang bilang pasalnya perlu lebih tegas, ada yang minta ada aturan soal kesiapan mental. Semua itu tanda bahwa masyarakat siap ikut urun rembuk, bukan cuma jadi penonton.

Jadi, mari kita sepakat anak-anak harus diajak bersahabat dengan teknologi, tapi dengan perlindungan. Kita gak bisa biarkan mereka main internet seperti main layangan di tengah badai. Harus ada aturan main, pengawasan, dan edukasi.

PP Tunas adalah langkah awal. Tapi tanpa peran aktif kita semua orang tua, guru, masyarakat, sampai pembuat aplikasi semuanya akan sia-sia. Jangan sampai nanti, ketika anak-anak kita sudah tumbuh dan rusak oleh digital, kita baru sadar “Lho, kok bisa begini?”

Makanya, ayo bareng-bareng kita jadi ban pelampung buat anak-anak yang lagi belajar berenang di laut internet. Jangan sampai mereka tenggelam gara-gara kita terlalu sibuk scrolling cari diskon atau asyik nonton konten prank sambil ketawa-tawa, lupa bahwa di ruangan sebelah, anak kita sedang belajar membuka pintu dunia tanpa kunci, tanpa gembok, dan tanpa pengawasan.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bangun Rumah Tahfidz  untuk Ciptakan Generasi Bertaqwa, Sekda Pemkab Muba : Niat Saya dari Dulu, Alhamdullilah Akhirnya Terwujud

    Bangun Rumah Tahfidz  untuk Ciptakan Generasi Bertaqwa, Sekda Pemkab Muba : Niat Saya dari Dulu, Alhamdullilah Akhirnya Terwujud

    • calendar_month Kamis, 24 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 816
    • 0Komentar

    SEKRETARIS Daerah Kabupaten Musi Banyuasin Drs H Apriyadi MSi yang dari dulu ingin membangun pondok pesantren akan terwujud. Pasalnya hari ini Rabu (23/6/2021) salah satu pejabat di Bumi Serasan Sekate tersebut meresmikan dan menandatangani prasasti Rumah Tahfidz Qur’an Darul Muqomah di Desa Sidorahayu (B2) Kecamatan Plakat Tinggi yang dulu rumah itu adalah tempat usaha kecil-kecil […]

  • Pusri Pangkas Sampah 3 Ilir hingga 2 Ton/Bulan Melalui Bank Sampah
    CSR

    Pusri Pangkas Sampah 3 Ilir hingga 2 Ton/Bulan Melalui Bank Sampah

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 66
    • 0Komentar

    PERSOALAN keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mulai terasa di sejumlah wilayah Palembang. Di Kelurahan 3 Ilir, tekanan itu dijawab dengan pendekatan berbeda mengurangi sampah dari sumbernya. PT Pusri Palembang mencatat, melalui Program Bank Sampah Sehati, volume sampah yang dikirim ke TPA dari kawasan tersebut berhasil ditekan hingga 1–2 ton per bulan. Program ini […]

  • Terkait Kudeta, Jika Kader Membelot, Demokrat Sumsel Siap Beri Sanksi Tegas

    Terkait Kudeta, Jika Kader Membelot, Demokrat Sumsel Siap Beri Sanksi Tegas

    • calendar_month Rabu, 3 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.454
    • 0Komentar

    PARTAI Demokrat Sumsel menegaskan siap memberikan sanksi tegas jika ada kadernya terbukti membelot kepihak- pihak yang ingin melakukan kudeta tersebut. “Saya selaku Sekretaris DPD Partai Demokrat Sumsel baru hari ini mendengar, ada kader yang ternyata sinyalir ikut dalam pertemuan tersebut (upaya kudeta). Tentunya ini akan menjadi agenda partai, untuk dapat memberikan sanksi, kalau yang bersangkutan […]

  • Realisasi Bantuan Subsidi Upah (BSU) Untuk Pekerja Capai Rp. 27,96 T

    Realisasi Bantuan Subsidi Upah (BSU) Untuk Pekerja Capai Rp. 27,96 T

    • calendar_month Sabtu, 19 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.279
    • 0Komentar

    SALAH satu upaya yang ditempuh untuk pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi COVID-19 adalah dengan pemberian Bantuan Subsidi Gaji/Upah (BSU) kepada pekerja atau buruh. Program ini diharapkan mampu menyokong perekonomian pekerja sehingga meningkatkan daya beli dan konsumsi rumah tangga sekaligus menggerakkan roda perekonomian nasional. Per 14 Desember 2020, realisasi BSU telah menyentuh angka Rp 27,96 […]

  • KPLS Gelar Aksi Mimbar Bebas di Kantor Bupati Lahat

    KPLS Gelar Aksi Mimbar Bebas di Kantor Bupati Lahat

    • calendar_month Senin, 1 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 804
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Lahat –Kelompok Aksi Masa tergabung dalam Kelompok Peduli Lembah Serelo (KPLS), mengelar aksi  mimbar bebas di depan gedung Bupati Lahat untuk menyampaikan aspirasi mereka dengan damai, senin (1/4/2019). Salah satu Peserta aksi sempat bersitegang dengan pihak keamanan saat mereka hendak maju ke teras kantor Bupati Lahat. Ketegangan ini berawal saat peserta aksi hendak maju […]

  • Meski Belum Masuk Musim Kemarau, Pemprov Mulai Siaga Karhutla

    Meski Belum Masuk Musim Kemarau, Pemprov Mulai Siaga Karhutla

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 845
    • 0Komentar

     MESKI belum memasuki musim kemarau, namun upaya antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan akan digalakkan. Diketahui biasanya musim kemarau masuk pada bulan Maret, sehingga untuk pencanangan antisipasi karhutla dilakukan sejak dini. Di Kebun Raya Sriwijaya, Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir, Selasa (11/2), Gubernur Sumsel Herman Deru sudah memerintahkan OPD (organisasi perangkat […]

expand_less
WordPress Archive PJ | Life & Business Coaching WordPress Theme Plamen – Tobacco Store WordPress Theme Plan My Day | Wedding / Event Planning Agency Planet Shakers | Church & Religion WordPress Theme Plank – Carpenter & Landscaping WordPress Theme Planteo – Gardening and Landscaping WordPress Theme Plantish – Gardening & Houseplants Responsive WooCommerce Theme Plantmore – Responsive Theme for WooCommerce WordPress Theme Planto – Green Elementor Template Kit Planty – Cafe & Restaurant Template Kit