Buku Makin Banyak, Tapi Apakah Kita Makin Cerdas?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
ADA kabar baik dari Sumatera Selatan (Sumsel) dalam urusan literasi sebab daerah ini berhasil menempati peringkat ketiga Nasional dalam tingkat kegemaran membaca. Festival Literasi Sumatera Selatan 2026 yang kembali digelar juga menggambarkan upaya menumbuhkan budaya membaca masih mendapat perhatian.
Capaian itu layak mendapat acungan jempol, namun di tengah perubahan zaman saat ini sangat cepat, mungkin ada satu pertanyaan yang juga perlu menjadi renungan bersama, karena ketika buku semakin mudah ditemukan dan budaya membaca semakin tumbuh, apakah kemampuan kita dalam memahami informasi juga ikut berkembang?
Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi arti sebuah capaian, justru sebaliknya, keberhasilan membangun kegemaran membaca seharusnya menjadi awal untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Sebab, membaca dan menjadi cerdas bukanlah dua hal yang selalu berjalan otomatis. Membaca memberi kita pengetahuan. Tetapi bagaimana pengetahuan itu dipahami, diperiksa, dibandingkan dengan informasi lain, lalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan persoalan yang berbeda.
Tantangan tersebut terasa semakin nyata sekarang, apalagi informasi yang datang itu bisa dikatakan dari berbagai arah, misalnya melalui telepon genggam, seseorang bisa membaca berita, melihat video, mengikuti percakapan di media sosial, dan bahkan menerima berbagai klaim dalam waktu yang hampir bersamaan.
Belum lagi kehadiran kecerdasan buatan atau AI membuat proses mencari dan menghasilkan informasi menjadi jauh lebih cepat.
Teknologi ini tentu membawa banyak manfaat, seperti pelajar dapat menggunakannya untuk membantu memahami pelajaran. Pekerja bisa memanfaatkannya untuk mengolah data dan mencari gagasan. Masyarakat pun dapat memperoleh bantuan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Tetapi semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting pula kemampuan untuk menyaringnya. Jawaban dari AI, misalnya, bisa terlihat sangat meyakinkan. Namun tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber yang dapat dipercaya.
Begitu pula informasi yang beredar di media sosial, tidak semua yang ramai yang dibicarakan itu sudah otomatis benar alias 100 persen kebenarannya. Oleh sebab itu, literasi memiliki tantangan baru.
Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru saat membuka Festival Literasi Sumsel 2026 menyampaikan literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Pandangan itu benar, sebab ketika masyarakat menghadapi arus informasi yang semakin deras arus dapat disaring kembali kebenarannya.
Oleh karena itu, gerakan literasi tentunya tidak harus berhenti pada ajakan untuk membaca. Membaca tetap menjadi fondasi, tetapi masyarakat juga perlu dibiasakan untuk memahami isi bacaan, mengenali sumber informasi, memeriksa kebenarannya dan berpikir sebelum menyebarkannya.
Dalam masalah ini, berbagai kegiatan literasi yang selama ini dilakukan tetap memiliki arti penting. Apalagi ada kegiatan, seperti Festival, lomba, pameran hingga donasi buku merupakan cara guna memperkenalkan dan mendekatkan literasi kepada masyarakat.
Dalam Festival Literasi Sumsel 2026 bahkan disebutkan telah dilakukan donasi sebanyak 4.648 buku.
Angka itu luar biasa dan patut dihargai sebagai bentuk kepedulian, namun tentunya akan lebih baik apabila buku-buku itu tidak berhenti sebagai koleksi dan hiasan pemanis rak di ruangan saja, melainkan benar-benar menjadi bagian dari kebiasaan membaca masyarakat.
Mungkin di sinilah pekerjaan rumah berikutnya, bagaimana memastikan buku yang sudah tersedia memiliki pembaca? Bagaimana membuat kegiatan membaca berlanjut setelah festival selesai?
Dan satu lagi tidak kalah penting pertanyaan, bagaimana mengubah kebiasaan membaca menjadi kemampuan berpikir yang semakin baik?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dilihat sebagai kritik terhadap apa yang sudah dilakukan. Justru bisa menjadi bahan untuk memperkuat gerakan literasi ke depan.
Sekolah, perpustakaan, keluarga dan komunitas dapat berjalan bersama. Kegiatan membaca bisa dilanjutkan dengan diskusi sederhana.
Bahkan, anak-anak tidak hanya diajak menceritakan kembali isi buku, tetapi juga bisa menyampaikan pendapat dan alasan mereka.
Buku dan teknologi
Di ruang digital, pembelajaran tentang cara memeriksa sumber informasi juga semakin penting. Begitu pula pemahaman mengenai penggunaan AI secara bijak.
Kita tidak perlu memilih antara buku dan teknologi. Keduanya bisa berjalan berdampingan.
Buku memberi kedalaman, dan teknologi memberi kecepatan, sedangkan kemampuan berpikir kritis membantu manusia menentukan bagaimana keduanya digunakan.
Oleh sebab itu, capaian Sumsel dalam meningkatkan kegemaran membaca sebaiknya tidak menjadi garis akhir. Setidaknya justru bisa menjadi modal untuk membangun budaya literasi yang lebih luas.
Bukan hanya masyarakat yang gemar membaca, tetapi juga masyarakat yang mampu memahami apa yang dibaca itu dan terapkan.
Bukan hanya cepat memperoleh informasi, tetapi juga mampu menentukan informasi mana yang layak dipercaya.
Dan bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi tetap mampu menggunakan akal sehat ketika berhadapan dengan jawaban yang diberikan teknologi.
Mungkin ukuran keberhasilan literasi bukan semata-mata berapa banyak buku yang dibaca atau berapa banyak kegiatan yang digelar.
Ukuran lebih penting itu adalah ketika semua itu bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih ingin tahu, lebih terbuka menerima pengetahuan, lebih hati-hati mempercayai informasi, dan lebih bijak dalam menggunakannya.
Sebab, buku yang baik dapat membuka pikiran. Tetapi pikiran yang terbuka tetap membutuhkan kemampuan untuk menilai apa yang ditemukannya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
