Nelayan Puger Baca Arah dari Tiga Bintang, Pengetahuan Talu-talu Kini Masuk Kelas Fisika
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 53 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : dikti.kemdiktisaintek.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID -Tiga bintang yang tampak tersusun lurus dari Timur ke Barat ternyata memiliki arti tersendiri bagi nelayan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Bintang dikenal masyarakat setempat sebagai talu-talu itu menjadi salah satu penanda arah dan waktu ketika nelayan beraktivitas di laut.
Uniknya, pengetahuan itu tidak lahir dari ruang kelas, malah tumbuh dari pengalaman masyarakat pesisir dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Selain bintang, nelayan juga terbiasa memperhatikan arah angin, gelombang, posisi Bulan hingga kondisi pasang-surut sebelum menentukan aktivitas melaut.
Sehingga, pengetahuan yang selama ini hidup di tengah masyarakat nelayan itu justru dibawa ke lingkungan sekolah oleh mahasiswa Universitas Jember (UNEJ).
Lima mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) mencoba mempertemukan pengalaman nelayan Puger dengan konsep astronomi, oseanografi dan fisika.
Pendekatan tersebut diarahkan guna membuat siswa pesisir lebih memahami lingkungan tempat mereka tinggal dan mengenali potensi bencana tsunami.
Ketua tim, Shofiyatul Lailiyah, mengatakan pembelajaran fisika tidak seharusnya berhenti pada teori yang diterima siswa di dalam kelas.
Menurutnya, pengetahuan masyarakat nelayan bisa menjadi pintu masuk agar siswa melihat hubungan antara konsep sains dengan kehidupan sehari-hari.
Dari sana, kesadaran mengenai kondisi lingkungan dan risiko bencana di wilayah pesisir juga dapat dibangun.
Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan yang berkembang di masyarakat, tim terlebih dahulu menggali informasi melalui wawancara dengan sejumlah nelayan Puger.
Sugiyono, salah seorang nelayan, mengatakan membaca bintang, Bulan, angin dan gelombang merupakan bagian dari pengalaman yang digunakan nelayan untuk menentukan waktu maupun arah ketika berada di laut.
Pengetahuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk pembelajaran yang lebih dekat dengan siswa.
Tim mengembangkan tiga produk, yakni media reel berupa simulasi tsunami, media digital interaktif menggunakan Articulate Storyline, serta buku panduan untuk siswa. Materi yang diberikan tidak hanya membahas konsep fisika, tetapi juga menghubungkannya dengan kondisi laut yang selama ini dikenal masyarakat pesisir.
Salah satu kegiatan pembelajaran, bahkan mengajak siswa mengamati Bulan untuk memahami hubungan antara fase Bulan, pasang-surut air laut dan aktivitas nelayan.
Program itu diterapkan di SMKS Puger pada Agustus 2026 dengan melibatkan 54 siswa dari kelas X Akuntansi dan X Usaha Layanan Wisata. Mereka mengikuti simulasi tsunami, menggunakan media pembelajaran digital dan melakukan pengamatan yang berkaitan dengan fenomena laut.
Astro-oceanografi
Pemahaman siswa kemudian dievaluasi melalui pretest dan posttest untuk melihat perkembangan literasi sains serta kesiapsiagaan mereka terhadap bencana.
Dosen pembimbing Lailatul Nuraini menjelaskan, nilai penting program tersebut berada pada pertemuan antara pengetahuan masyarakat dengan sains yang dipelajari di sekolah.
Kearifan lokal, menurut dia, tidak perlu ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari pembelajaran sains. Justru pengalaman yang sudah dikenal siswa dari lingkungan sekitar dapat digunakan untuk membantu mereka memahami konsep dan berpikir lebih kritis.
Selain pengetahuan nelayan, kehidupan budaya masyarakat Puger juga ikut menjadi bagian dari konteks pembelajaran. Tim mengamati langsung tradisi Petik Laut Puger pada 30 Juni 2026.
Tradisi tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat nelayan atas rezeki dari laut. Rangkaian kegiatannya antara lain khataman Al-Qur’an, tahlil, kirab budaya, pergelaran wayang kulit hingga prosesi pelarungan sesaji.
Program PKM-RSH yang berlangsung Juni hingga September 2026 itu pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana siswa memahami rumus dan konsep fisika.
Ada pengetahuan nelayan, tanda-tanda alam, budaya pesisir dan kesadaran menghadapi ancaman tsunami yang dipertemukan dalam satu ruang pembelajaran.
Melalui pendekatan tersebut, tim berharap model pembelajaran berbasis astro-oceanografi dan kearifan lokal dapat dikembangkan lebih luas di sekolah-sekolah pesisir Indonesia. Harapannya, siswa tidak hanya mampu memahami sains, tetapi juga semakin mengenali lingkungan dan lebih siap menghadapi potensi bencana di sekitarnya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
