Minggu, 20 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » Uuh, Sebuah Lagu Pesan untuk Mereka yang Tidak Terpapar

Uuh, Sebuah Lagu Pesan untuk Mereka yang Tidak Terpapar

  • account_circle Nasir Nasir
  • calendar_month Kamis, 29 Okt 2020
  • visibility 3.155
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sebuah pesan bagi mereka yang tak terpapar pandemi Covid 19 mengalir lewat sebuah lagu. Seorang penyanyi dari Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Palembang, M Hatta Imron alias Atta KPJ meramu syair dan irama dalam sebiah lagu yang diberinya titel, Uuh.
Lagu Uuh ini bisa didapati di Youtube MN Puadi DWP. Linknya: https://youtu.be/TQYgVvdQ-Og
“Lagu ini, menceritakan dari pengamatan saya selama pandemi ini. Sering banyaknya perlakuan terhadap mereka yang terpapar. Yang justru membuat mereka sampai ingin mengakhiri hidupnya,” ujar Atta.
Penderira Covid memang harus diisolasi. Tetapi mereka bukan diasingkan atau dikucilkan. “Mereka tetap butuh perhatian dan kepedulian kita. Kita pun harusnya tak melupakan mereka. Sehingga membuat mereka bisa patah arang. Meskipun, memang tetap harus patuh pada protokol kesehatan. Selalu cuci tangan, kenakan masker, dan menjaga jarar,” ujar mantan pemenang bintang radio remaja lagu daerah, di RRI Palembang tahun 1992 ini.
Menurut Atta, “Kita yang tidak kena korona harus mmberi perhatian terhadap mereka yang terpapar. Jangan diasingkan. Tetap dibantu. Dengan memperhatikan protokol kesehatan. Apa yang bisa dibantu, kita bantu. Supaya melalui lagu ini bisa memberi inspirasi bagi kita semua,” ujarnya.
Bisa dibayangkan bagaian seorang penderita covid
Diisolasi.
Diantar keluarga
Keluarga yang tidak mau menerima
Dengan putus asa, yang ter papar pun geslisah, sampai diantar ke rumah sakit. Lalu mobil yang membawanya bahkan dilempari orang-orang
Sampai-sampai dia meminta kepada yang Kuasa
Agar menyuruh malaikat segera mencabut saja nyawanya.
Melalui lagu Uuh, Atta menyampaikana pesannya. Semoga kita semua bisa memahami pesannya.

Berikut, syair lagu Uuh:
Saat sunyi jelang tiba
Ketika matahari
meredup kelam cahaya
Apakah bisa
menolak luka
Reff:
Bila wajah-wajah cinta
Menjauh
Jika rindu makin buram
Saatnya pergi
dan terasing

Lalu tak mungkin
kan kembali lagi
Semua hilang
hingga waktu
mengantar pergi
Tiada yang memanggil namaku
Tiada yang menyentuh oo tubuhku
Bahkan, angin pun menjauh
Wahai para malaikat bawa aku

Atta sendiri, menjadi penyanyi, sebenarnya berawal dari sesuatu yang tak terduga. Tetangganya, ketika itu menyarankan ikut Bintang Radio Remaja yang digelar RRI Palembang.

Saat itu, rumahnya memang di belakang RRI yang berada di jalan Radio Palembang, berhadapan dengan Mapolda Sumsel. Atas saran itu, Atta, panggilannya yang ketika itu masih bersekolah di SMP Karya Sejati di Jalan Demang Lebar Daun, pun ikut lomba menyanyi.
“Saya waktu itu ikut kategori lagu daerah. Ternyata, juri meloloskan saya hingga ke final. Dan di final, saya membawakan lagu Dirut yang kalau tidak salah karya Karel Simon, legenda musik Palembang,” cerita putra pasangan Imron Roni dan Zaleha yang kini pun telah bercucu.
Hasil penilalain juri, ternyata penyanyi kelahiran Palembang, 3 Juli 1972 ini menjadi pemenang pertama.
Even Bintang Radio di Palembang itu, diikutinya kembali di tahun berikutnya. Kali ini, suami dari Zaleha ini ikut di kategori seriosa. Banyak orang yang under estimate dan mempertanyakan. Kok bisa-bisanya ikut di seriosa.
“Saya pede-pede saja. Dan Alhamdulillah, menang dan jadi juara kedua. Waktu itu, pemenang pertama dan kedua, dikirim ke tingkat nasional. Dan, alhamdulillah ternyata saya jadi pemenang pertama,” tutur alumni SMA Karya Sejati ini.
Aktivitasnya berkesenian menjadi lebih berkembang kembali diasah di tahun 1993 dengan kembali ikut Bintang Radio Remaja kategori hiburan.
“Alhamdulillah, kembali juara pertama. Ini yang terakhir saya ikut ajang di radio milik pemerintah itu. Karena usia saya kemudian tidak masuk lagi remaja, dan ada syarat bagi yang sudah pernah memang tidak diperkenankan ikut lagi,” tambah ayah dari Rizal, Angriyani, Raka, dan Abi ini.

Semangat berkesenian Atta kemudian ditotalkannya di beberapa hotel, seperti Lembang dan Sanjaya sebagai penyanyi. Sampai kemudian dia bergabung dengan Teater Harmoni.
Saat itu, dia diajak oleh Jaid Saidi alias Mang jai. Jadilah, dia kemudian terlibat di teater. Biasanya di bagian yang berurusan dengan musik. Bersama Jaid Saidi, satu lagu ditorehkan yang syairnya ditulis sang deklamator nasional itu, berjudul Legendaris.
Setelah itu, beberapa tahun kemudian, tepatnya sejak 1998 beberapa kali ikut Festival Musik Jalanan di Padang Sumatera Barat, secara tiga tahun berturut-turut dan menang. Tahun pertama membawakan lagu Kesaksian Anak Jalanan yang syairnya ditulis oleh Jaid Saidi. Tahun kedua, membawakan lagu Jalanku, karya ciptanya sendiri. Dan tahun ketiga, membawakan lagu Aku karyanya sendiri.
Sempat melanglang buana ke ibukota, di Palembang pun Atta kemudian tetap eksis. Hingga tahun 2002 diajak oleh Erwin Basoka, Teater Kemuning tampil di Festival Teater Sumsel di Lahat. Ceritanya tentang anak jalanan, bersama Eka Saputra dan Douglas, kemudian lahirlah lagu Mimpi Anak Negeri.
Di festival ini, mereka meraih lima the best, yakni ilustrasi musik, lighting, aktor, aktris, dan penampilan.
Lalu di Sepekan Sinetron Daerah dan Nasional TVRI Sumsel, bersama Teater Lexi pimpinan Yan Romain alias Kak Oto, diajak menggarap ilustrasi musik dan menjadi pemain.
“Saya jadi penjahat dan perampok dalam Film Bujang Jelihim. Di film ini, saya pun menulis lagu Bujang Jelihim sebagai ilustrasi filmnya,” tambah penyanyi yang sampai saat ini belum punya album.
Meskipun, sudah mencipta puluhan lagu. Ketika ditanya apa yag didapatnya dari menggeluti seni, ia menjawab, eksistensi dan percaya diri.
“Di luar itu tak ada, kecuali banyak piagam dan piala. Namun, piagam dan piala itu yang sempat membuat ayahnya berseloroh, cuma itu yang dapat ya. Dan ketika piala-piala itu dianggap memenuhi ruangan, kemudian dijual ke pedagang rongsokan, nilainya sangat menyedihkan. Dihargai seperti barang bekas per Kg. Beli rokok pun tak cukup. Secara materi, itulah ukurannya. Tapi, kepuasan bathinnya, bagi saya tak terukur,” ungkapnya.
Kini, Atta yang juga tergabung dalam Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) ini masih sering turun ke jalan.
“Namun, selama pandemi, semua terhenti. Kami benar-benar terimbas dengan pandemi yang dengan protokol kesehatannya membuat saya menjadi seperti terpasung,” ujarnya.
Namun, dalam beberapa kesempatan masih sering tampil di kegiatan berkesenian di Palembang. Seperti di Sepekan Seni, Pentas Taman Ampera, Webinar Plus: silatruhami dan gelar karya yang digagas oleh Dewan Kesenian Palembang (DKP).
Kedepan, Atta berharap karirnya bisa disempurnakan dengan lahirnya album.
“Cita-cita saya, punya album. Siapa tahu ada pihak-pihak yang berkenan menggandeng dan mendukung,” harap Atta yang pada tahun 2013 lalu sempat manggung di HUT KPJ Indonesia di Jakarta bersama penyanyi-penyanyi papan atas.
Kini, senandung balada dan countrinya selalu menyemangatinya langkahnya yang terkadang terseok menata iklim kesenian yang tak menentu. Semoga, nasibnya bisa mendapatkan bias harapan di masa mendatang. Bersamaan dengan upayanya mengalirka karyanya di dunia maya.
Kini, dimasa pandemi yang membatasi seninam berkreatifitas, Atta masih terus bermimpi. Mimpu bisa punya album. Srhingga lagu-lagu yang telah diciptanya bisa terdokumentasi dalam sebuah album dan memantapkan eksistensinya sebagai penggiat seni. Tak sekedar bisa membawakan lagu, tetapi juga mencipta lagu. Sekaligus menitip pesan kepada kita semua agar memperhatikan suara hati mereka yang terpapar Covid 19.
(muhamad nasir)

  • Penulis: Nasir Nasir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Makna HUT RI di OKI, Bupati : Bukan Berjuang Melawan Penjajah, Bersatu Melawan Pandemi

    Makna HUT RI di OKI, Bupati : Bukan Berjuang Melawan Penjajah, Bersatu Melawan Pandemi

    • calendar_month Selasa, 17 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 830
    • 0Komentar

          PERINGATAN HUT ke-76 Republik Indonesia digelar di tengah pandemi covid-19. Bupati Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE memaknai perjuangan rakyat Indonesia saat ini bukan lagi melawan penjajah melainkan melawan pandemi Covid-19. Iskandar mengajak seluruh masyarakat Ogan Komering Ilir bersatu dan bersinergi untuk melawan pandemi yang dampaknya terasa luas ke setiap lapisan masyarakat. […]

  • ka'bah-mekkah-masjidil-haram

    Hati-hati, Calon Haji Kloter II Berisiko Tinggi

    • calendar_month Sabtu, 5 Agt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.759
    • 0Komentar

    Petugas kesehatan dan Ketua Kloter II embarkasi Palembang harus bekerja esktra. Pasalnya

  • Menabur Semangat di Tengah Puing Kebakaran

    Menabur Semangat di Tengah Puing Kebakaran

    • calendar_month Kamis, 17 Apr 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 770
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,  -Kebakaran yang terjadi di Jalan M. Isa Lorong Sikam pada Sabtu, 12 April 2025, mengingatkan kita bahwa hidup ini kadang bagaikan permainan catur kita nggak tahu langkah selanjutnya bakal apa, tapi tiba-tiba aja ada api yang muncul tanpa permisi, langsung bakar-bakar!. Nah, rumah milik Rayhana, si ibu yang tinggal di RT 25 RW 07 […]

  • Berikan Efek Jera, Mensos Minta Aparat Menghukum Maksimal Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan

    Berikan Efek Jera, Mensos Minta Aparat Menghukum Maksimal Pelaku Kekerasan Terhadap Perempuan

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 733
    • 0Komentar

    MENSOS Tri Rismaharini mengimbau aparat penegak hukum untuk memberikan hukuman maksimal kepada pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak, di Indonesia termasuk kejadian di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Hal itu disampaikan Mensos Risma melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (5/1/2022). “Kasus ini sangat berat. Di dalamnya ada pencabulan, ada penganiayaan, dan ada penyiksaan terhadap anak. Saya berharap […]

  • Wawako Instruksikan PD Pasar Awasi Praktek Jual Beli Kios di Pasar Tradisonal

    Wawako Instruksikan PD Pasar Awasi Praktek Jual Beli Kios di Pasar Tradisonal

    • calendar_month Rabu, 30 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.304
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda menegaskan agar PD Pasar dapat mengawasi Pasar Tradisional sehingga tidak ada lagi praktek jual beli kios dan penarikan retribusi yang melebihi ketentuan. Menurutnya pasar yang dikelola oleh PD Pasar merupakan aset negara, dan fasilitasnya pun yang dibangun tersebut milik negara. “Jadi tidak boleh lagi ada pungutan, melebihi […]

  • Libur Nataru, Mendagri Terbitkan Intruksi Dalam Pencegahan Pandemi Covid

    Libur Nataru, Mendagri Terbitkan Intruksi Dalam Pencegahan Pandemi Covid

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 896
    • 0Komentar

    MENTERI Dalam Negeri (Mendagri), M.Tito Karnavian, menerbitkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 62 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Corona Virus Disease 2019 pada Saat Natal Tahun 2021 dan Tahun Baru 2022. “Instruksi Menteri Dalam Negeri ini mulai berlaku pada 24 Desember 2021 sampai dengan 2 Januari 2022,” ditegaskan dalam aturan yang ditandatangani Mendagri […]

expand_less
WordPress Archive Micro Office | Extranet & Intranet WordPress Theme Microtech – Tech Business Elementor Template Kit Midare – Senior Care & Medical WordPress Theme Midone – Tailwind CSS Vuejs 3 Admin Dashboard Template + HTML Version Miex – Creative Agency WordPress Mighty Tables | Add sorting, search, filters, and highlighting to your tables Mighty URL Shortener | Short URL Script MIH – Personal Portfolio & Resume Template Kit Miju – Conscious Product Elementor Template Kit Mikado One – Multipurpose Business WordPress Theme