Dua Badak Sumatera Bunting Bersamaan, Way Kambas Menanti Kabar Besar
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 6 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Ada kabar yang membuat perhatian kembali tertuju ke Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Bukan satu, melainkan dua induk badak sumatera betina kini sedang bunting. Ratu dan Delilah sama-sama tengah menjalani masa kebuntingan dan dipersiapkan untuk menyambut calon anak mereka masing-masing.
Kabar tersebut disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Badak Sedunia 2026 di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, dilaman resmi kehutanan, Sabtu (3/10/2026).
Ratu bahkan tercatat sedang menjalani kebuntingan untuk calon anak keempat dari pejantan Andalas. Hingga 3 Oktober 2026, usia kebuntingannya mencapai 238 hari atau sekitar 7,9 bulan.
Sementara Delilah tengah mengandung calon anak keduanya dari pejantan Harapan. Usia kebuntingannya sedikit lebih panjang, yakni 251 hari atau sekitar 8,3 bulan.
Dengan kondisi tersebut, perhatian tim SRS kini tertuju pada perkembangan dua induk tersebut. Tim medis, keeper, dan manajemen terus melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi kesehatan Ratu dan Delilah tetap terjaga hingga proses kelahiran.
Dua kelahiran yang punya arti besar
Setiap kelahiran badak Sumatera memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar bertambahnya satu individu.
Satwa dengan nama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis ini berstatus Critically Endangered dalam IUCN Red List. Populasinya di alam diperkirakan tidak lebih dari 80 ekor dan kini hanya tersisa di Indonesia.
Kehadiran dua calon anak baru karena itu menjadi kabar penting bagi upaya mempertahankan populasi badak sumatera.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menyebut kebuntingan Ratu dan Delilah sebagai perkembangan penting bagi konservasi badak sumatera, baik untuk Indonesia maupun dunia.
“Kehamilan dua bayi badak sumatera ini bukan hanya kabar baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia,” ujar Ahmad.
Menurutnya, kebuntingan tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang mempertahankan keberlangsungan populasi melalui pengembangbiakan terencana, pengelolaan kesehatan reproduksi, dan pemantauan individu secara intensif.
Dari SRS, sudah lahir lima badak
Harapan terhadap kelahiran berikutnya bukan tanpa alasan.
Program pengembangbiakan badak sumatera di SRS TNWK sebelumnya telah menghasilkan lima kelahiran, yakni Andatu pada 2012, Delilah pada 2016, Sedah Mirah pada 2022, Anggi pada 2023, dan Indra pada 2023.
SRS merupakan fasilitas pengembangbiakan semi-in-situ. Badak tetap ditempatkan di lingkungan yang mendekati habitat alaminya dengan interaksi manusia seminimal mungkin, namun mendapatkan dukungan perawatan medis dan pemantauan reproduksi secara intensif.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Way Kambas bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI).
Ketua Pengurus YABI, Jansen Manansang, mengatakan pemantauan terhadap Ratu dan Delilah akan terus dilakukan sampai keduanya melewati masa kebuntingan dan melahirkan.
“Kami dan Balai Taman Nasional Way Kambas berkomitmen untuk terus memantau kondisi kesehatan induk, perkembangan kebuntingan, serta kesiapan induk hingga proses kelahiran,” kata Jansen.
Ia juga mengapresiasi dukungan International Rhino Foundation (IRF), Taman Safari Indonesia, dan TFCA Sumatera yang membantu keberlangsungan program konservasi di SRS TNWK.
Menunggu lebih dari sekadar kelahiran
Ada alasan mengapa kelahiran badak sumatera tidak bisa disamakan dengan kelahiran satwa pada umumnya.
Masa kebuntingan badak sumatera berlangsung sekitar 15–16 bulan, sedangkan masa menyapih anaknya dapat mencapai dua tahun.
Artinya, setiap kelahiran membutuhkan proses panjang dan perawatan yang tidak sederhana.
Lebih dari itu, kelahiran individu baru dapat membantu menjaga keragaman genetik sekaligus memperbesar peluang membangun populasi badak sumatera untuk kebutuhan konservasi jangka panjang.
Saat ini badak sumatera masih bertahan di sejumlah kawasan Indonesia, di antaranya Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), serta Kalimantan Timur.
Pesan konservasi dibawa ke tengah pengunjung
Kabar kebuntingan Ratu dan Delilah menjadi salah satu bagian penting dalam World Rhino Day 2026 yang digelar TSI bersama YABI dan Kementerian Kehutanan pada 3–4 Oktober 2026.
Mengusung tema “Keep the Five Alive, Stand Together for Rhinos”, kegiatan tersebut mengingatkan bahwa dunia saat ini hanya memiliki lima spesies badak yang masih bertahan.
Indonesia menjadi rumah bagi dua di antaranya, yakni badak sumatera dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Keduanya sama-sama berstatus Critically Endangered.
Pada hari pertama, kegiatan di Plaza Gajah dan Restaurant Rain Forest TSI Bogor diisi parade maskot satwa endemik Indonesia, mulai dari harimau sumatera, badak jawa, badak sumatera hingga gajah sumatera, serta tarian selamat datang.
Founder Taman Safari Indonesia Jansen Manansang juga memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut.
Talkshow kemudian menghadirkan Ahmad Munawir, Wakil Dewan Pembina YABI Hadi S. Alikodra, serta Anggota Dewan Pembina YABI Willem Manansang.
Pembahasannya tidak hanya mengenai kondisi badak Indonesia, tetapi juga natural breeding, teknologi reproduksi berbantu atau Assisted Reproductive Technology (ART), hingga pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam konservasi.
Pengunjung juga bisa mendatangi Rhino Corner yang menyediakan kegiatan mewarnai dan permainan edukatif, booth donasi serta merchandise YABI, dan booth face painting Safari Wonders.
Ada pula kisah menarik dari Justin Matteo Manansang, siswa Jakarta Intercultural School (JIS), yang menggalang dana untuk pelestarian badak. Ia sebelumnya dinobatkan The Wildlife Guardians sebagai “Our Warrior of the Month”.
Sementara pada Minggu (4/10/2026), kegiatan dilanjutkan dengan dongeng tentang badak untuk anak-anak dan keluarga melalui sesi storytelling yang dilengkapi video serta kuis berhadiah.
Semua rangkaian kegiatan dapat diikuti pengunjung dengan menggunakan tiket masuk reguler Taman Safari Bogor.
Di tengah seluruh rangkaian itu, kabar tentang Ratu dan Delilah menjadi salah satu harapan paling besar.
Dua induk kini tengah menjalani proses yang panjang. Jika semuanya berjalan baik, Way Kambas kembali akan menyambut dua kehidupan baru dari salah satu mamalia paling langka di dunia. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
