Smart Farming Mulai Berubah, AI dan IoT Bantu Petani Baca Tanaman hingga Prediksi Hasil Panen
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 9 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : brin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Pertanian mulai memasuki fase ketika kondisi tanaman, lahan, dan lingkungan dapat dipantau dengan bantuan teknologi. Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) membuka peluang bagi penerapan smart farming yang tidak hanya mengandalkan pengamatan langsung, tetapi juga sensor, otomasi, dan analisis data.
Peluang tersebut dibahas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) dalam webinar mengenai penerapan AI dan IoT untuk smart farming yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (20/8/2026).
Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN Prof. Yanuandri Putrasari mengatakan perkembangan AI dan IoT dapat menjadi peluang penting untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian.
Pertanian saat ini tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan lahan, tetapi juga perubahan iklim, kebutuhan efisiensi penggunaan sumber daya, serta persoalan regenerasi petani.
Menurut Yanuandri, teknologi cerdas dapat membantu petani memperoleh informasi yang lebih cepat mengenai kondisi lahan dan tanaman sehingga keputusan dalam pengelolaan usaha tani dapat dilakukan dengan lebih tepat.
“Pemanfaatan AI dan IoT dalam smart farming menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem pertanian yang lebih cerdas dan adaptif. Melalui integrasi sensor, otomasi, dan analisis data, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung efisiensi serta meningkatkan kualitas pengelolaan pertanian,” ujarnya.
Dari Sensor hingga Prediksi Panen
Salah satu perubahan yang ditawarkan teknologi tersebut adalah kemampuan memantau kondisi pertanian secara real-time.
Melalui IoT, sensor yang ditempatkan di lahan dapat mengumpulkan berbagai data mengenai tanaman maupun lingkungan. Data tersebut kemudian menjadi bahan bagi sistem untuk membaca perubahan kondisi pertanian secara lebih cepat.
Di sinilah AI mengambil peran. Data yang terkumpul dapat diolah menjadi informasi dan rekomendasi untuk membantu pengambilan keputusan.
Yanuandri menjelaskan penerapan tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari prediksi hasil panen, deteksi hama dan penyakit, hingga optimasi irigasi dan pemupukan.
Dengan pola tersebut, teknologi tidak berhenti pada aktivitas mengumpulkan data. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan tindakan yang lebih sesuai dengan kondisi tanaman dan lingkungan.
Integrasi AI dan IoT kemudian menjadi salah satu fondasi dalam mendorong pertanian konvensional menuju pertanian presisi atau precision agriculture.
Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan pertanian dilakukan secara lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan sekaligus membantu penggunaan sumber daya secara lebih efisien.
Computer Vision Ikut Masuk ke Lahan Pertanian
Pembahasan mengenai smart farming dalam webinar BRIN juga tidak hanya berkutat pada sensor dan pengolahan data.
Tiga narasumber menghadirkan perspektif berbeda mengenai bagaimana teknologi cerdas dapat diterapkan dalam sistem pertanian.
Ir. Andri Prima Nugroho, STP., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dosen sekaligus peneliti Universitas Gadjah Mada, membawakan materi mengenai penerjemahan informasi fisiologi tanaman menjadi keputusan dalam smart farming melalui pendekatan AI dan IoT.
Sementara itu, Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, peneliti Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, membahas transformasi teknologi media tanam melalui nanobubbles, IoT, AI, dan data analytics.
Adapun Dr. Muhtadan, peneliti Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, membahas penerapan computer vision dan edge AI untuk kebutuhan smart farming industrial di Indonesia.
Kehadiran computer vision memperluas pemanfaatan teknologi dalam pertanian. Sistem tidak hanya mengandalkan data dari sensor, tetapi juga dapat memanfaatkan teknologi pengolahan citra untuk membantu mengenali kondisi tertentu pada tanaman.
Sementara edge AI memungkinkan pemrosesan data dilakukan lebih dekat dengan sumber data sehingga dapat mendukung kebutuhan sistem pertanian yang membutuhkan respons lebih cepat.
Teknologi Bertemu Kebutuhan Petani
Bagi BRIN, pengembangan smart farming tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi. Penerapannya perlu menjawab kebutuhan nyata di sektor pertanian.
Keterbatasan lahan, perubahan iklim, efisiensi penggunaan air dan pupuk, serta kebutuhan meningkatkan produktivitas membuat sistem pertanian membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif.
Karena itu, pemanfaatan AI dan IoT diarahkan untuk membantu menghasilkan informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar menambah perangkat teknologi di lahan.
Webinar tersebut diikuti dengan sasaran peneliti, dosen, mahasiswa, praktisi pertanian, pengembang teknologi AI dan IoT, serta masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap instrumentasi cerdas untuk smart farming.
Selain membahas inovasi teknologi, kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar pengetahuan dan memperluas jejaring antara akademisi, peneliti, serta praktisi di bidang pertanian cerdas.
BRIN juga mendorong kolaborasi lintas disiplin dan institusi untuk memperkuat pengembangan teknologi pertanian berbasis sensor, otomasi, AI, dan IoT.
Pada akhirnya, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membawa sistem pertanian menuju pola yang lebih presisi dan berkelanjutan.
Jika pengamatan kondisi tanaman sebelumnya sangat bergantung pada proses manual, perkembangan AI dan IoT membuka kemungkinan bagi petani untuk mendapatkan gambaran kondisi lahan secara lebih cepat, sekaligus memperoleh dukungan data untuk menentukan langkah berikutnya.
Itulah arah smart farming yang sedang dikembangkan, bukan menggantikan peran petani, melainkan memberi mereka lebih banyak informasi agar keputusan di lahan dapat dibuat dengan lebih tepat. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
