Jangan Asal Buang Styrofoam! BRIN Ungkap Cara agar Bisa Didaur Ulang
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : brin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong daur ulang Styrofoam melalui sistem pengelolaan yang menghubungkan pengumpulan limbah, pengolahan, industri, riset, dan kebijakan pemerintah.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN Nugroho Adi Sasongko mengatakan pengelolaan Styrofoam atau Expanded Polystyrene (EPS) tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Pemerintah, pengumpul limbah, pengolah, industri, dan lembaga riset perlu membangun sistem yang saling terhubung.
“Dalam perspektif sistem industri dan manufaktur berkelanjutan, pengelolaan EPS perlu dilakukan dengan melihat keseluruhan rantai nilai, mulai dari sumber limbah hingga pemanfaatan kembali material hasil daur ulang,” kata Nugroho dalam seminar internasional di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (19/8).
Menurut Nugroho, proses daur ulang Styrofoam membutuhkan pengumpulan limbah dari sumbernya, pemadatan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali material hasil daur ulang oleh industri.
Pemadatan menjadi bagian penting karena EPS memiliki volume besar dibandingkan bobotnya. Setelah melalui pengolahan, material hasil daur ulang juga perlu memenuhi standar mutu agar dapat digunakan kembali oleh industri.
Nugroho mengatakan keterhubungan setiap tahap tersebut dapat mengubah Styrofoam dari limbah menjadi sumber daya sekunder yang memiliki nilai ekonomi.
“Kolaborasi antara penghasil limbah, pengumpul, pengolah, industri, pengguna material daur ulang, dan pemerintah menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan EPS yang berkelanjutan,” ujarnya.
BRIN juga menyoroti peran kebijakan pemerintah dalam memperkuat pengelolaan Styrofoam. Nugroho mengatakan kebijakan nasional perlu berjalan seiring dengan kemampuan pemerintah daerah dalam menerapkannya.
Seminar tersebut membahas pengalaman pengelolaan limbah Styrofoam di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu sebagai salah satu bahan untuk melihat kebutuhan dan peluang penguatan sistem pengelolaan di daerah.
Dari sisi teknologi, TM R&C Co., Ltd. dari Republik Korea memperkenalkan pendekatan sirkulasi sumber daya untuk pengelolaan Styrofoam. Pendekatan tersebut mencakup pengumpulan, pemadatan, pengolahan, daur ulang, penjaminan mutu material, dan pemanfaatannya kembali dalam kegiatan industri.
BRIN juga memaparkan riset dan inovasi daur ulang Polystyrene (PS) serta peluang pengembangan riset bersama dengan industri.
Nugroho mengatakan kolaborasi antara BRIN, TM R&C, dan industri dapat mendorong pengembangan teknologi daur ulang yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan penerapannya di Indonesia.
“Industri memberikan gambaran mengenai kebutuhan pasar, kesiapan penerapan, pemanfaatan material, serta tantangan implementasi. Sementara itu, BRIN menghadirkan inovasi riset daur ulang Polystyrene (PS) dan peluang kolaborasi R&D,” katanya.
BRIN dan TM R&C menggelar seminar internasional bertema Policy, Research and Technological Innovation for Sustainable Styrofoam Waste Management and Recycling in Indonesia di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Tangerang Selatan.
Seminar tersebut menghadirkan Agus Rusly dari Kementerian Lingkungan Hidup, Ahn Sang-ho dari TM R&C, Achmad Hariadi dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Maharani S. Anggia dari PT Maxfos Prima, dan Ernie S.A. Soekotjo dari BRIN.
Para narasumber membahas kebijakan pengelolaan Styrofoam, teknologi daur ulang, penerapan pengelolaan limbah di daerah, kebutuhan industri, serta riset BRIN dalam pengembangan daur ulang PS. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
