Karhutla Kalsel Capai 595 Hektare, Pemadaman Diperkuat dari Darat dan Udara
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Karhutla Kalsel masih ditangani secara intensif hingga Jumat (21/8). BNPB mencatat 53 titik api dengan estimasi luasan lahan terbakar mencapai sekitar 595 hektare di sembilan wilayah.
Data tersebut masuk dalam laporan perkembangan situasi dan penanganan bencana BNPB periode Kamis hingga Jumat, 20–21 Agustus 2026. Selain kebakaran hutan dan lahan, BNPB juga mencatat kejadian cuaca ekstrem serta kekeringan di sejumlah daerah.
Di Kalsel, karhutla terdeteksi di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Balangan.
Kabupaten Banjar mencatat luasan lahan terbakar terbesar, yakni sekitar 174 hektare dari 13 titik api. Berikutnya Kabupaten Tanah Laut dengan sekitar 107 hektare, Barito Kuala 96 hektare, dan Tapin 85 hektare.
Untuk mempercepat penanganan, sekitar 387 personel gabungan dikerahkan. Mereka terdiri dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.
Operasi darat dilakukan di sejumlah lokasi menggunakan mobil tangki, pompa, suplai air, tangki fleksibel hingga peralatan pemadaman manual.
Di Kabupaten Banjar, misalnya, area terbakar mencapai sekitar 31,5 hektare dan 7,5 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan. Di Tanah Laut, dari sekitar 67 hektare lahan terbakar, sekitar 11 hektare telah ditangani.
Sementara di Banjarbaru, area terbakar sekitar 7 hektare dengan 3,5 hektare berhasil dipadamkan. Penanganan juga berlangsung di Tapin, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Barito Kuala.
Ratusan Kali Water Bombing
Penanganan karhutla Kalsel tidak hanya dilakukan dari darat. BNPB juga mengerahkan operasi udara untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Dua armada patroli udara yang terdiri dari helikopter Bell 206 dan pesawat Cessna Caravan terbang selama 4 jam 35 menit. Dari pemantauan tersebut ditemukan 29 titik api dengan estimasi luasan terbakar sekitar 536 hektare.
Tiga helikopter water bombing kemudian melakukan ratusan kali penjatuhan air. Helikopter Super Puma melakukan 245 kali penjatuhan dengan total sekitar 980 ribu liter air.
Helikopter MI8-AMT melakukan 57 kali penjatuhan dengan sekitar 228 ribu liter air, sedangkan Sikorsky Black Hawk melakukan 82 kali penjatuhan dengan sekitar 328 ribu liter air.
Operasi udara diprioritaskan untuk wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat, terutama lokasi yang mendekati permukiman dan kawasan Ring 1 Bandara Sjamsudin Noor Banjarbaru.
Di luar Kalsel, karhutla juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah. Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu lokasi dengan luasan cukup besar. Kebakaran sejak Selasa (18/8) tercatat mencapai sekitar 54 hektare di tiga wilayah.
Hingga Jumat (21/8), titik api di Desa Tampanombo masih dalam pemantauan karena belum sepenuhnya padam.
Karhutla juga terjadi di Kota Sorong, Papua Barat Daya, dengan total sekitar 11 hektare lahan terbakar di tiga wilayah. Api telah berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa.
Kebakaran lahan lainnya dilaporkan di Enrekang dan Pinrang, Sulawesi Selatan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Natuna, Kepulauan Riau, serta Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar kejadian telah berhasil ditangani.
Selain karhutla, BNPB mencatat hujan disertai angin kencang di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa tersebut berdampak pada 24 jiwa dari sembilan kepala keluarga dan menyebabkan sembilan rumah mengalami kerusakan ringan.
Kekeringan masih berlangsung di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kondisi itu berdampak terhadap sekitar 1.400 hektare lahan sawah yang tersebar di sembilan desa.
Debit sumber air utama di Desa Kayu Agung bahkan dilaporkan hanya sekitar 25 persen dari kondisi normal.
BNPB menyebut penanganan karhutla masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari angin kencang yang mempercepat penyebaran api, akses menuju lokasi yang sulit, hingga keterbatasan sumber air.
Sejumlah titik api yang berada di kawasan pertambangan dan perkebunan juga tidak dapat dijangkau secara optimal melalui operasi water bombing.
BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus mengoptimalkan pemadaman darat maupun udara. Pemerintah daerah diminta memperkuat pemantauan dan deteksi dini, sementara masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran di wilayah rawan kebakaran.
Jika menemukan titik api, masyarakat diminta segera melapor kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
