“Sakit Hati”: Kisah Ungkapan yang Sering Dipakai Manusia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 26 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kalau ada satu ungkapan yang hampir semua orang pernah mengucapkannya, mungkin saya salah satunya.
Nama saya “sakit hati”.
Saya sering muncul dalam obrolan sehari-hari. Ketika seseorang kecewa karena perkataan orang lain, ketika harapan tidak berjalan sesuai kenyataan, atau ketika perlakuan seseorang membuat perasaan terasa tidak nyaman, biasanya nama saya ikut disebut.
“Saya sakit hati dengan ucapan dia.”
“Jujur, kejadian itu masih membuat saya sakit hati.”
Kalimat seperti itu mungkin sudah tidak asing lagi. Tapi pernahkah kalian berpikir, sebenarnya apa arti “sakit hati”?
Apakah benar hati manusia sedang terluka seperti tangan yang terkena goresan?
Tentu saja bukan.
Saya bukan luka yang bisa dilihat dengan mata. Saya adalah sebuah ungkapan yang digunakan manusia untuk menggambarkan perasaan yang terluka.
Bukan Hati yang Sakit, Tetapi Perasaan yang Terluka
Dalam bahasa Indonesia, manusia sering menggunakan kata tertentu untuk menggambarkan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Begitu juga dengan saya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sakit hati berarti merasa tidak senang karena dihina, dilukai hatinya, atau merasa kecewa karena suatu perlakuan.
Jadi, ketika seseorang berkata “saya sakit hati”, maksudnya bukan organ hati yang mengalami gangguan.
Yang terluka adalah perasaan.
Perasaan kecewa, sedih, tersinggung, atau rasa tidak dihargai.
Mengapa Disebut “Sakit Hati”?
Menariknya, dalam budaya bahasa Indonesia, kata hati sering digunakan untuk menggambarkan dunia perasaan manusia.
Kita sering mengatakan:
- hati senang,
- hati tenang,
- hati gelisah,
- dan tentu saja, sakit hati.
Bukan berarti hati benar-benar mengalami keadaan tersebut secara fisik. Kata “hati” menjadi simbol tempat manusia menyimpan rasa dan emosi.
Karena itulah “sakit hati” menjadi ungkapan yang mudah dipahami banyak orang.
Saya Sering Datang dari Hal-Hal Sederhana
Saya tidak selalu muncul karena masalah besar.
Kadang saya datang dari hal kecil.
Sebuah perkataan yang dianggap bercanda oleh seseorang, bisa saja terasa menyakitkan bagi orang lain.
Sebuah janji yang tidak ditepati bisa membuat kepercayaan hilang.
Sebuah sikap yang terlihat biasa, bisa meninggalkan kesan mendalam.
Karena setiap manusia memiliki hati dan pengalaman yang berbeda.
Saya Seperti Bekas Retakan pada Kaca
Banyak orang menggambarkan saya seperti kaca yang retak.
Kaca yang pecah mungkin bisa diperbaiki, tetapi bekasnya tetap ada.
Begitu pula dengan perasaan manusia.
Seseorang mungkin bisa memaafkan, tetapi pengalaman yang pernah menyakitkan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Itulah mengapa ungkapan seperti saya hadir. Saya membantu manusia menjelaskan sesuatu yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan.
Contoh Penggunaan “Sakit Hati”
Berikut beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari “Dia sakit hati setelah mengetahui sahabatnya berbohong.”
Artinya, dia merasa kecewa karena kepercayaan yang diberikan tidak dijaga.
“Jangan berkata sembarangan, karena ucapan bisa membuat orang lain sakit hati.”
Artinya, perkataan dapat memengaruhi perasaan seseorang.
“Dia pernah sakit hati, tetapi memilih untuk memaafkan.”
Artinya, dia pernah terluka secara batin, tetapi berusaha menerima dan melanjutkan hidup.
Sebuah Ungkapan, Sebuah Cerita
Saya hanyalah dua kata sederhana.
Namun di balik kata “sakit hati”, ada banyak cerita manusia.
Ada harapan yang tidak sesuai kenyataan. Ada kepercayaan yang pernah kecewa. Ada perasaan yang belajar menjadi lebih kuat.
Mungkin itulah menariknya bahasa.
Sebuah ungkapan sederhana bisa membawa makna yang begitu dalam.
Dan melalui saya, manusia diingatkan menjaga ucapan dan sikap bukan hanya tentang sopan santun, tetapi juga tentang menghargai perasaan orang lain. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
