Apa Itu Kambing Hitam? Mengapa Nama Ini Selalu Muncul Saat Ada Kesalahan?
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 34 menit yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Apa itu kambing hitam? dalam bahasa Indonesia, kambing hitam merupakan salah satu ungkapan berarti seseorang dijadikan sasaran kesalahan atau dipersalahkan atas suatu masalah, padahal belum tentu ia menjadi penyebabnya. Ungkapan ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, tempat kerja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Meski demikian, masih banyak orang yang mengira makna kambing hitam berkaitan dengan seekor kambing berwarna hitam. Padahal, makna ungkapan ini sama sekali tidak berhubungan dengan hewan maupun warna bulunya.
Nah, setelah perkenalan yang cukup serius, izinkan saya bicara, perkenalkan, saya Kambing Hitam.
Namun, tenang, saya bukan kambing sungguhan, karena saya tidak tinggal di kandang, tidak hobi memakan daun singkong, dan tidak pernah ikut lomba kambing hias. Lebih lucunya lagi, ya…saya juga tidak selalu berwarna hitam.
Yang membuat saya heran, nama saya hampir selalu muncul setiap kali manusia sedang mencari siapa yang harus disalahkan, misalnya ada laporan hilang. “Kambing hitamnya siapa?”
Nilai ulangan jeblok. “Pasti ada kambing hitamnya.” Proyek gagal. “Cari dulu kambing hitamnya.”
Saya sampai ingin bertanya, memang saya pernah mendaftar menjadi tersangka nasional? Untung saja bahasa Indonesia tidak bekerja secara harfiah. Kalau iya, kasihan kambing-kambing yang sedang santai makan rumput. Belum selesai mengunyah, tahu-tahu sudah dituduh menjadi penyebab rapat kantor berantakan.
Saya Bukan Kambing yang Gemar Disalahkan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kambing hitam berarti orang yang dipersalahkan atau dijadikan sasaran kesalahan atas suatu peristiwa, meskipun belum tentu ia menjadi penyebab sebenarnya.
Jadi, ketika seseorang berkata, “Jangan jadikan dia kambing hitam,” yang dimaksud tentu bukan mengubah seseorang menjadi kambing lengkap dengan tanduk dan suara “mbek…”. Maksudnya adalah jangan melempar kesalahan kepada orang yang sebenarnya tidak bertanggung jawab.
Mengapa Harus Kambing Hitam?
Ini pertanyaan yang sering muncul, mengapa juga harus kambing?, dan mengapa pula bukan ayam kampung, sapi, atau bebek?
Dalam berbagai budaya, istilah “kambing hitam” telah lama digunakan sebagai lambang seseorang yang memikul kesalahan, agar orang lain terbebas dari tanggung jawab, seiring waktu, ungkapan tersebut juga dikenal dalam bahasa Indonesia dan digunakan untuk menggambarkan orang yang dijadikan sasaran kesalahan, baik secara adil maupun tidak.
Kalau dipikir-pikir, kambing termasuk hewan yang sabar, tidak pernah membuat konferensi pers, tidak pernah mengunggah klarifikasi.
Tidak pernah berkata, “Saya keberatan nama baik keluarga kambing terus-menerus dibawa-bawa.”
Kalau bisa bicara, mungkin mereka sudah membentuk Komunitas Perlindungan Nama Baik Kambing Indonesia.
Saya Baru Dicari Saat Ada Masalah
Lucunya, saya hampir tidak pernah dicari ketika semuanya berjalan baik.
Saat tim menang, tidak ada yang berkata, “Terima kasih, kambing hitam.”
Saat nilai seratus, tidak ada yang mengucapkan, “Keberhasilan ini berkat kambing hitam.”
Saat perusahaan untung besar, tidak ada penghargaan untuk saya.
Tetapi begitu muncul masalah, nama saya langsung dipanggil seperti artis yang sedang naik daun. Printer macet, internet lambat. Presentasi gagal. Lampu proyektor mati. Entah bagaimana, saya selalu menjadi tokoh pendukung dalam setiap kesalahan. Padahal, kadang penyebabnya sederhana. File belum disimpan. Lupa mengisi baterai. Terlambat bangun. Atau… memang lupa mengerjakan tugas.
Menyalahkan Orang Lain Memang Mudah
Dalam kehidupan sehari-hari, mencari siapa yang salah sering terasa lebih mudah daripada mengakui kesalahan sendiri, padahal, orang yang berani berkata, “Maaf, ini memang kesalahan saya.” justru menunjukkan kedewasaan, misalnya, seorang siswa lupa mengerjakan pekerjaan rumah. Daripada berkata, “Buku saya disembunyikan adik” akan jauh lebih baik jika ia mengakui kelalaiannya dan berjanji memperbaikinya.
Begitu pula di tempat kerja. Ketika terjadi kekeliruan, mencari solusi akan jauh lebih bermanfaat daripada sibuk mencari kambing hitam, kesalahan memang tidak menyenangkan, tetapi mengakuinya adalah langkah pertama menuju perbaikan.
Saya Berharap Suatu Hari Nanti Pensiun
Terus terang, saya ingin suatu hari nanti menjadi ungkapan yang jarang dipakai, bukan karena saya tidak suka bahasa Indonesia. Justru saya berharap semakin banyak orang berani bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan, seandainya betapa indahnya kalau setiap orang berkata, “Ya, saya salah. Saya akan memperbaikinya.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa, namun nilainya jauh lebih besar daripada seribu alasan dan sejuta kambing hitam.
Kambing Hitam dalam Bahasa Indonesia
Saya hanyalah dua kata sederhana, namun, saya termasuk ungkapan, yaitu gabungan kata yang maknanya tidak dapat dipahami dari arti masing-masing katanya. Sama seperti lapang dada, besar kepala, buah hati, ringan tangan, atau cuci tangan, makna kambing hitam tidak berkaitan dengan kambing maupun warna hitam.
Inilah yang membuat bahasa Indonesia kaya dan menarik, dua kata sederhana dapat menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada arti harfiahnya.
Belajar Bertanggung Jawab
Pada akhirnya, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Itu adalah bagian dari proses belajar, yang membedakan seseorang bukanlah seberapa sedikit ia berbuat salah, melainkan seberapa berani ia mengakuinya dan memperbaikinya.
Oleh sebab itu, lain kali ketika mendengar ungkapan “kambing hitam”, ingatlah saya bukan hewan yang sedang sibuk mencari rumput, saya hanyalah sebuah ungkapan yang mengingatkan menyalahkan orang lain memang mudah, tetapi bertanggung jawab adalah salah satu tanda kedewasaan. (***)
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan tulisan edukatif mengenai makna ungkapan dalam bahasa Indonesia. Penjelasan disusun berdasarkan penggunaan umum dalam bahasa Indonesia dan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dengan penyajian bergaya naratif agar mudah dipahami pembaca.
- Penulis: Irwan Wahyudi
