Siapa Penemu Jam Tangan? Ternyata Bukan Cuma Satu Orang, Ini Kisah di Baliknya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ilustrasi /AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Siapa penemu jam tangan? Kalau pertanyaan ini diajukan hari ini, mungkin banyak orang akan langsung membayangkan nama pembuat jam terkenal dari Swiss. Padahal, sejarahnya jauh lebih panjang dan menarik. Jam tangan yang sekarang begitu biasa kita kenakan di pergelangan tangan ternyata melewati perjalanan ratusan tahun, dari jam yang ukurannya besar, berubah menjadi jam yang bisa dibawa, lalu akhirnya menjadi benda yang bisa dikenakan di tangan.
Menariknya, ada dua nama yang sering muncul dalam cerita ini: Peter Henlein dan Abraham-Louis Breguet. Keduanya hidup di zaman yang berbeda dan punya peran berbeda pula. Karena itu, ketika membahas siapa sebenarnya penemu jam tangan, kita tidak bisa buru-buru menunjuk satu nama lalu selesai.
Coba misalnya kehidupan manusia beberapa abad silam.
Mengetahui waktu bukan perkara semudah mengangkat pergelangan tangan. Belum ada jam digital, belum ada ponsel, bahkan jam mekanis pun masih menjadi barang yang tidak dimiliki sembarang orang. Di banyak tempat, orang mengandalkan jam yang dipasang di menara, gereja, atau bangunan penting untuk mengetahui waktu.
Jam pada masa itu lebih dekat dengan benda besar dan serius daripada aksesori pribadi.
Lalu teknologi mulai berubah.
Para pembuat jam perlahan menemukan cara untuk membuat mekanisme yang lebih kecil. Pegas, roda gigi, dan berbagai komponen mekanis yang sebelumnya membutuhkan ruang besar mulai dipadatkan. Dari sinilah muncul gagasan yang kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya sangat revolusioner, sebab bagaimana kalau sebuah jam bisa dibawa ke mana-mana? Nama Peter Henlein ternyata mulai menarik perhatian.
Dari jam besar menjadi jam yang bisa dibawa
Peter Henlein adalah pembuat jam dan pengrajin asal Nuremberg, Jerman, yang hidup pada akhir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16. Ia sering dikaitkan dengan perkembangan jam portabel awal dan dikenal karena kemampuannya membuat mekanisme jam berukuran jauh lebih kecil.
Pada awal abad ke-16, jam kecil mulai menjadi sesuatu yang mungkin dibawa oleh seseorang. Bentuknya tentu belum seperti jam tangan modern. Jangan membayangkan ada tali kulit, dial minimalis, dan jarum detik seperti yang kita kenal sekarang.
Jam portabel masa itu lebih menyerupai benda kecil yang bisa digantung atau dikenakan sebagai aksesori.
Namun, perubahan tersebut penting.
Sebab, untuk pertama kalinya, waktu mulai menjadi sesuatu yang bisa dibawa bersama pemiliknya.
Ini adalah lompatan besar. Dari sebelumnya harus mencari jam di suatu tempat, manusia mulai bisa membawa penunjuk waktu sendiri.
Tetapi ada satu masalah.
Jam portabel belum otomatis berarti jam tangan.
Perjalanan menuju jam yang benar-benar dirancang untuk dikenakan di pergelangan tangan masih membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Tiga abad kemudian, muncul nama Breguet
Sekitar tiga abad setelah era Peter Henlein, dunia pembuatan jam sudah berkembang jauh lebih maju. Salah satu nama terbesar pada masa itu adalah Abraham-Louis Breguet.
Breguet adalah pembuat jam kelahiran Neuchâtel, Swiss, yang kemudian membangun reputasinya di Paris. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sejarah horologi dan membuat berbagai inovasi dalam dunia mekanisme jam.
Namun, ada satu pesanan yang membuat namanya terus disebut ketika orang membicarakan jam tangan pertama.
Pesanan itu datang dari seorang perempuan bangsawan bernama Caroline Murat, Ratu Napoli dan saudara perempuan Napoleon Bonaparte.
Pada 8 Juni 1810, Caroline Murat memesan kepada Breguet sebuah jam yang secara khusus dirancang untuk dikenakan pada gelang atau pergelangan tangan. Dalam catatan Breguet, pesanan tersebut disebut sebagai sebuah jam pengulang untuk gelang.
Dan di sinilah ceritanya menjadi semakin menarik.
Jam tersebut bukan sekadar jam kecil yang kebetulan ditempelkan pada gelang. Breguet memang merancangnya untuk dikenakan di pergelangan tangan.
Jam itu kemudian dikenal sebagai Breguet No. 2639.
Menurut arsip Breguet, jam tersebut sangat tipis, berbentuk oval, memiliki mekanisme pengulang, dan dipasang pada gelang yang dibuat dari rambut yang dianyam dengan benang emas. Pesanan dibuat pada 1810 dan jam tersebut kemudian diselesaikan serta dikirim kepada sang ratu pada 1812.
Kalau dibayangkan dengan standar sekarang, mungkin bentuknya terasa asing.
Tetapi pada zamannya, gagasan tersebut luar biasa.
Seseorang tidak lagi harus memasukkan jam ke saku atau menggantungnya sebagai aksesori. Jam bisa berada tepat di pergelangan tangan.
Dan ternyata, ide itu datang dari kebutuhan yang sangat praktis.
Ketika jam mulai mengikuti gaya hidup
Ada satu hal menarik dalam sejarah jam tangan, perkembangan benda ini tidak hanya didorong oleh teknologi.
Mode juga punya peran.
Pada masa ketika pakaian perempuan tidak selalu menyediakan saku yang praktis, membawa benda seperti jam menjadi persoalan tersendiri. Jam kemudian berkembang menjadi bagian dari perhiasan dan aksesori. Jam bisa hadir dalam bentuk liontin, bros, gelang, dan berbagai ornamen lainnya.
Jadi, kelahiran jam tangan bukan semata-mata cerita tentang para insinyur dan roda gigi.
Ada kebutuhan manusia di dalamnya.
Orang ingin tahu waktu tanpa harus repot. Orang ingin membawa jam tanpa harus memasukkannya ke saku. Dan pada saat yang sama, benda tersebut juga bisa dibuat indah.
Breguet kemudian menjawab kebutuhan itu dengan sebuah karya yang pada zamannya jauh dari kata sederhana.
Menariknya lagi, jam tersebut ternyata tidak langsung menjadi tren besar.
Breguet sendiri mencatat inovasi tersebut nyaris tidak mendapatkan perhatian dari orang-orang pada masanya. Namun, arsip pemesanan dan pembuatan jam No. 2639 memberikan bukti sejarah yang sangat kuat mengenai keberadaannya.
Jadi, siapa sebenarnya penemu jam tangan?
Nah, sampai di sini jawabannya mulai terlihat.
Kalau yang dimaksud adalah orang yang berperan dalam perkembangan jam portabel awal, nama Peter Henlein sangat layak disebut.
Tetapi kalau pertanyaannya lebih spesifik, siapa yang membuat jam yang secara khusus dirancang untuk dikenakan di pergelangan tangan? nama Abraham-Louis Breguet menjadi jauh lebih kuat, terutama karena adanya dokumentasi arsip mengenai pesanan Caroline Murat pada 1810.
Karena itu, menyebut satu orang sebagai “penemu jam tangan” sebenarnya sedikit menyesatkan.
Lebih tepat kalau kita melihatnya sebagai sebuah perjalanan.
Peter Henlein membantu membawa jam keluar dari ukuran besarnya. Breguet kemudian membawa gagasan itu lebih dekat ke pergelangan tangan.
Setelah itu, perjalanan jam tangan masih berlanjut.
Pada abad ke-19, jam tangan mulai semakin dikenal sebagai aksesori, terutama di kalangan perempuan. Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, penggunaannya di kalangan laki-laki juga semakin berkembang, termasuk karena kebutuhan praktis di dunia militer. Jam saku yang harus dikeluarkan dari saku terasa tidak praktis ketika seseorang sedang bergerak cepat atau berada dalam situasi perang.
Dari situlah jam tangan perlahan berubah status.
Awalnya benda mewah.
Kemudian aksesori.
Lalu alat yang praktis.
Dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari kebutuhan sederhana menjadi benda yang punya cerita
Hari ini, kita bisa membeli jam dengan harga yang sangat beragam. Ada jam sederhana yang hanya bertugas menunjukkan waktu. Ada pula jam mekanis yang dibuat dengan ratusan komponen kecil dan membutuhkan keahlian tinggi untuk merakitnya.
Bahkan sekarang, banyak orang membeli jam bukan lagi karena tidak punya cara lain untuk mengetahui waktu.
Kita sudah punya ponsel.
Kita punya komputer.
Kita punya layar di mana-mana.
Tetapi jam tangan tetap bertahan.
Alasannya mungkin justru karena jam tangan sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar alat penunjuk waktu.
Ia bisa menjadi hadiah ulang tahun, kenang-kenangan dari orang tua, benda warisan keluarga, simbol pencapaian, sampai aksesori yang menggambarkan selera pemiliknya.
Dan semua itu berawal dari perjalanan panjang manusia dalam mencari cara paling praktis untuk membawa waktu.
Jadi, kalau suatu hari ada yang bertanya, “Siapa penemu jam tangan?”, jangan buru-buru menjawab dengan satu nama.
Ceritanya jauh lebih menarik dari itu.
Ada Peter Henlein dengan perkembangan jam portabelnya. Ada Abraham-Louis Breguet dengan jam yang dirancang khusus untuk pergelangan tangan. Ada Caroline Murat yang memesan benda tersebut. Dan ada ratusan tahun inovasi setelahnya yang akhirnya membawa jam tangan sampai ke bentuk yang kita kenal sekarang.
Mungkin jam tangan tidak benar-benar ditemukan oleh satu orang. Ia ditemukan sedikit demi sedikit, setiap kali manusia menemukan cara baru untuk membuat waktu lebih dekat dengan dirinya. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
