Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Features » Bikin Anak Ketawa Lagi, Psikolog Punya Cara Tak Biasa

Bikin Anak Ketawa Lagi, Psikolog Punya Cara Tak Biasa

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
  • visibility 853
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI lokasi pengungsian, ada satu suara yang paling dirindukan setelah bencana,yaitu suara anak tertawa. Bukan suara genset, bukan pengumuman bantuan logistik, apalagi suara sirene. Ya.. tawa anak adalah tanda hidup, meski sempat jungkir balik, belum sepenuhnya menyerah.

Masalahnya, setelah bencana, apakah tawa itu sering ikut hanyut. Jawabnya yang tersisa cuma mata kosong, anak-anak yang tiba-tiba lebih pendiam dari biasanya, dan orang dewasa yang masih sibuk bertanya, “Yang penting kan selamat?” Ya, selamat, tapi kata selamat itu, ternyata belum tentu selesai.

Dari kisah itu, psikolog memiliki peran utama yang bisa bikin anak-anak tertawa lagi, psikolog  hadir ke pengungsian bukan dengan jas putih, dan bukan juga dengan daftar pertanyaan rumit, apalagi dengan wajah serius ala ujian skripsi. Mereka datang dengan cara yang tak biasa, untuk mengajak anak-anak bercerita, bermain, menggambar, dan ikut tertawa.

Kalau ada yang mengira psikolog ke pengungsian itu kerjanya duduk berhadap-hadapan sambil bertanya, “Kamu sedih ya?,” besar kemungkinan ia belum pernah melihat langsung praktiknya. Di lapangan, psikolog lebih sering jongkok di lantai, ikut main, bahkan kalah di permainan anak-anak. Kadang mereka bukan terlihat seperti tenaga kesehatan, tapi kayak kakak sepupu yang datang bawa cerita.

Anak-anak korban bencana sering kali tidak tahu bagaimana cara menjelaskan rasa takutnya. Mereka tidak punya kosakata untuk berkata, “Saya trauma kehilangan rumah” yang mereka punya hanyalah perilaku  mendadak takut suara keras, susah tidur, gampang menangis, atau justru tertawa berlebihan tapi kosong. Trauma, pada anak-anak, tidaklah selalu datang sambil menangis, kadang justru datang sambil diam.

Kementerian Kesehatan menyadari satu hal penting dalam bencana tidak cuma melukai badan, tapi juga mengacak-acak batin. Oleh karena  itu, setiap pengiriman relawan kesehatan disertai puluhan psikolog klinis. Mereka bertugas melakukan pendampingan psikososial, terutama bagi anak-anak, agar luka yang tidak kelihatan ini tidak tumbuh menjadi masalah panjang.

Logikanya begini luka fisik bisa dijahit, tulang yang patah bisa digips, namun luka di kepala dan hati, kalau dibiarkan, bisa jadi bekas seumur hidup. Trauma yang tidak ditangani itu seperti luka kecil yang kelihatan sepele, tapi dibiarkan kotor, dan  pelan-pelan infeksi, itu ibaratnya.

Pendekatan psikolog di pengungsian ini juga mematahkan mitos lama, kesehatan jiwa itu urusan belakangan. Selama ini, kita sering berpikir, “Nanti saja urusan mental, yang penting perut kenyang dulu.” itu salah besar padahal, anak yang perutnya kenyang tapi kepalanya penuh ketakutan, tetap tidak bisa tumbuh dengan utuh.

Indikator pemulihan

Yang menarik, cara para psikolog ini sering kali sederhana, bahkan kelihatan sepele. Main tebak gambar, mendongeng dan  bernyanyi. Tapi dari situ, anak-anak mulai merasa aman lagi. Mulai percaya dunia tidak sepenuhnya runtuh bahkan  mereka percaya masih ada orang dewasa yang mau duduk sejajar dengan mereka, bukan cuma memberi perintah dari atas.

Di pengungsian, tawa anak bukan sekadar hiburan. Ia adalah indikator pemulihan, sebab ketika anak mulai berani tertawa, artinya ia mulai merasa aman. Ketika ia berani bermain, artinya ia mulai percaya. Dan ketika ia percaya, pemulihan bisa dimulai.

Upaya ini tentu tidak berdiri sendiri. Pemulihan kesehatan jiwa dilakukan beriringan dengan layanan kesehatan fisik dan dukungan lintas sektor. Bahkan tokoh publik dilibatkan, bukan sekadar untuk foto, tapi untuk menciptakan suasana positif. Karena suasana pengungsian yang muram berkepanjangan itu seperti hujan tanpa jeda melelahkan dan menggerogoti.

Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI dalam keterangan rilis dilaman resmi kemkes menjelaskan yang dibereskan bukan hanya fisik, tapi juga jiwa. Pernyataan ini penting, bukan karena terdengar indah, tapi karena menggeser cara pandang kita soal pemulihan bencana. Bahwa bangkit itu bukan cuma soal rumah berdiri lagi, tapi juga soal pikiran yang tidak terus-menerus dihantui rasa takut.

Kita sering lupa, anak-anak hari ini adalah orang dewasa di masa depan. Trauma yang mereka simpan sekarang bisa muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk kecemasan, kemarahan, atau rasa tidak aman yang sulit dijelaskan. Maka ketika psikolog datang ke pengungsian dan hanya mengajak anak tertawa, sesungguhnya mereka sedang menyelamatkan masa depan.

Bencana memang merusak banyak hal, seperti rumah, jalan, dan rutinitas hidup, namun yang paling berbahaya adalah jika bencana juga merusak rasa aman di kepala anak-anak, oleh sebab itu  langkah Kemenkes menghadirkan psikolog ke pengungsian bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan.

Ketika anak-anak bisa tertawa lagi, itu bukan tanda mereka lupa bencana. Itu tanda mereka mulai berdamai dengannya, kita patut mengapresiasi mereka yang diam-diam sibuk membangun ulang hati, sebab, bangsa yang sehat bukan hanya yang warganya selamat, tapi yang jiwanya juga pulih. Terkadang juga, pemulihan itu dimulai dari hal paling sederhana yaitu keceriahan seorang anak yang kembali bisa tertawa. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mau Uji Andrenalin, Coba  Lewati Jembatan Kaca Seruni Point Bromo Jatim

    Mau Uji Andrenalin, Coba Lewati Jembatan Kaca Seruni Point Bromo Jatim

    • calendar_month Senin, 27 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.141
    • 0Komentar

    SEKTOR pariwisata dipercaya menjadi salah satu lokomotif penggerak perekonomian nasional sehingga pemerintah terus mengembangkan sektor tersebut. Hal itu, terbukti berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021 terjadi peningkatan devisa pariwisata sebesar 4 persen dibandingkan 2020. Mendukung hal tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus melakukan pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung pariwisata khususnya di […]

  • Komit Indonesia Bersih, 1.000 Mahasiswa Baru UIN Raden Fatah Palembang Tanam Pohon di Kampus B

    Komit Indonesia Bersih, 1.000 Mahasiswa Baru UIN Raden Fatah Palembang Tanam Pohon di Kampus B

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.149
    • 0Komentar

    Sebanyak 1.000 mahasiswa baru UIN Raden Fatah Palembang Angkatan 2022 melaksanakan giat Indonesia Bersih melalui aksi nyata menanam pohon di halaman kampus B UIN Raden Fatah Palembang.Kegiatan ini bertajuk Ecogreen Campus Day Bersama Mahasiswa Baru Angkatan 2022. Giat menanam pohon ini merupakan bagian dari komitmen penghijauan bangunan Kampus B UIN Raden Fatah Palembang yang tergolong […]

  • Hadiri Paripurna HUT Kab. Lahat Ke 152, Gubernur Serahkan Bangub Rp94, 3 Miliar

    Hadiri Paripurna HUT Kab. Lahat Ke 152, Gubernur Serahkan Bangub Rp94, 3 Miliar

    • calendar_month Kamis, 20 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.057
    • 0Komentar

    DI Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Lahat yang ke 152 tanggal 20 Mei 2021, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel)  H Herman Deru memberikan  kado istimewa untuk percepatan pembangunan di kabupaten  tersebut. Adapun kado yang diberikan tidak tanggung-tangung yakni berupa Bantuan Gubernur Khusus (Bangubsus) dengan besaran  mencapai  Rp. 94,3 Miliar. Dengan telah digelontorkannya Bangubsus Gubernur di Tahun […]

  • Kajari OKI, Berikan Penyuluhan Hukum di Desa Sedya Mulya

    Kajari OKI, Berikan Penyuluhan Hukum di Desa Sedya Mulya

    • calendar_month Kamis, 12 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 889
    • 0Komentar

    KEJAKSAAN Negeri Ogan Komering Ilir (OKI), melaksanakan penyuluhan dan penerangan hukum di Kecamatan Mesuji Raya yang dipusatkan Di Desa Sedyo Mulyo Kecamatan Mesuji Raya Kabupaten OKI, rabu (11/5/2022). Kegiatan ini merupakan upaya untuk menciptakan harmonisasi, menekan potensi konflik dan angka kriminalitas di desa serta meningkatkan kesadaran hukum sebagaimana tujuan dari program jaksa sahabat desa. Kepala […]

  • Anak ‘Bumi Serasan Sekate’ Berprestasi di O2SN Yogyakarta

    Anak ‘Bumi Serasan Sekate’ Berprestasi di O2SN Yogyakarta

    • calendar_month Rabu, 19 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.260
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, Yogyakarta – Alhamdulillah,  Yeni Anggraini, Siswi asal SD Negeri 8 Sekayu yang  mewakili Sumsel akhirnya mendapatkan juara 3 cabor senam dengan kategori Ritmik Putri Free Hand pada ajang O2SN Tingkat Nasional di Yogyakarta. Prestasi itu setidaknya  membanggakan untuk ‘Bumi Serasan Sekate’ karena  Yeni meraih hasil positif dan membanggakan daerah Kabupaten Musi Banyuasin. Perjuangan Yeni […]

  • 2023, 500 Ribu Warga Palembang Terpasang Jargas, Ingat ! Janjinya Sekda Palembang

    2023, 500 Ribu Warga Palembang Terpasang Jargas, Ingat ! Janjinya Sekda Palembang

    • calendar_month Sabtu, 29 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 842
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota (Pemkot) Palembang disuport Satuan Kerja Khusus (SKK) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Sumbagsel dalam pemerataan jaringan gas (Jargas) tahun 2023 untuk 18 kecamatan di Kota Palembang. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, ada 500 ribu sambungan baru   terpasang kerumah warga yang belum terpasangkan jargas. “Akan ada 500 ribu pasangan baru jargas […]

expand_less
WordPress Archive Mindity – Psychologist Teraphist Elementor Template Kit Mindly – Psychology, Therapy & Counseling Elementor Template Kit Mindtech – IT Solutions & Services Company Elementor Template Kit Mindwellness – Psychology and Counseling WordPress Theme Mine Flipbook WordPress Plugin Minera - Minimalist WooCommerce WordPress Theme Minera Skincare & Dermatology Elementor Template Kit Minerale – Bottled Drinking Water Elementor Template Kit MinervaKB Knowledge Base for WordPress with Analytics Minet – Minimalist eCommerce WordPress Theme