Rabu, 26 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » “Bayangkan Hidup, Cabai Lebih Mahal dari Gaji”

“Bayangkan Hidup, Cabai Lebih Mahal dari Gaji”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 3 Okt 2025
  • visibility 1.443
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MASUK ke dapur emak-emak zaman sekarang suasananya bukan lagi aroma bawang goreng atau kuah sayur asem, tapi aroma was-was. Betapa tidak, harga cabai merah sudah kayak barang koleksi langka, saking mahalnya, ada yang bercanda kalau mas kawin zaman sekarang cukup segenggam cabai, itu pun nilainya bisa sama dengan cincin emas.

Emak-emak pun berubah jadi manajer keuangan sekaligus ahli strategi, menu makan siang diubah-ubah sesuai kondisi pasar, kalau ayam naik, langsung ganti tempe. Tempe ikut naik, pindah ke tahu.

Bahkan kalau tahu pun ikutan mahal, ya… sudah, kerupuk dicocol kecap pun bisa terasa “wah”, asalkan makannya bareng keluarga, inilah yang disebut resiliensi rumah tangga kecil, bukan pilihan, tapi keterpaksaan.

Beberapa hari lalu, Pemkot Palembang sudah menggelar pasar murah di 44 titik, dan katanya akan ada 22 titik lagi sampai akhir tahun. Tujuannya jelas, meringankan beban rakyat menengah ke bawah. Tapi masalahnya, pasar murah ini sering terasa seperti hiburan musiman, ramai sebentar, rakyat tersenyum sebentar, lalu kembali menangis di pasar tradisional saat harga kembali normal.

Pasar murah itu ibarat obat warung, meredakan pusing sesaat, tapi tidak menyembuhkan penyakit, lantaran akar masalahnya jauh lebih dalam, dari gagal panen akibat musim hujan, distribusi yang mahal, hingga kebijakan Nasional yang membuat permintaan melonjak.

BPS mencatat inflasi September 2025 di Palembang sebesar 0,30 persen bulanan, angka itu terdengar kecil, seperti recehan yang jatuh ke kolong lemari, namun  dampaknya ke dapur rumah tangga jelas terasa, sebab yang naik bukan barang mewah, melainkan kebutuhan sehari-hari, cabai, beras, ayam, bawang.

Inflasi pangan selalu terasa lebih berat, karena menyangkut kebutuhan pokok, kalau harga iPhone naik, masyarakat kecil bisa pura-pura cuek, tapi kalau harga cabai melonjak sehingga dampaknya  emak-emak bisa ngamuk di dapur.

Keluarga menengah ke bawah kini hidup seperti akrobat sirkus, tiap bulan mereka harus jungkir balik mengatur strategi agar dapur tetap mengepul. Ayah jadi akrobat keuangan, ibu jadi badut yang harus menjaga senyum anak meski lauk makin sederhana.

Ada pepatah bilang “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”, tapi dalam kasus inflasi pangan, pepatah itu berubah jadi sedikit demi sedikit harga naik, lama-lama dompet jadi tipis.

Kenapa harga makin pedas?, jawabnya, cabai merah melambung karena musim hujan membuat banyak petani gagal panen. Ayam naik karena bibit terbatas, biaya produksi tinggi, dan permintaan meningkat akibat program Makanan Bergizi Gratis, malah bawang merah ikut terseret, bahkan emas perhiasan pun naik karena gejolak ekonomi global.

Artinya, inflasi ini bukan sekadar masalah “harga naik” di pasar, tapi cermin dari rantai pasok yang rapuh, kalau petani tak kuat panen, distribusi tidak efisien, dan kebijakan pusat tidak terkoordinasi, maka rakyat kecil lagi-lagi jadi korban.

Kecil dampak besar

Kalau mau serius menolong rakyat, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh sebenarnya perkuat ketahanan pangan lokal, petani cabai harus dibekali teknologi sederhana seperti rumah tanam atau bibit tahan cuaca. Jangan biarkan musim hujan selalu jadi alasan harga melambung.

Selain itu, koordinasi Program Nasional, misalnya MBG memang bagus, tapi kalau tak disertai penguatan produksi ayam, justru bisa menekan harga semakin tinggi.

Dan efisiensi distribusi, maksudnya harga BBM non-subsidi sudah turun, pemerintah seharusnya bisa memastikan ongkos transportasi pangan ikut menurun. Terakhir pasar murah plus pengawasan, bukan hanya gelaran sesaat, tapi juga menjaga stabilitas harga di pasar agar pedagang tak seenaknya bermain.

Sering kali, rakyat kecil didorong untuk “sabar” dan “resilien”, tapi sampai kapan?,  mereka bukan mesin tahan banting. Mereka manusia dengan batas kemampuan, kalau setiap kali harga pangan melonjak solusinya cuma menyuruh rakyat untuk kuat, lama-lama yang habis bukan hanya isi dompet, tapi juga kesabaran.

Resiliensi boleh, tapi jangan sampai jadi alasan bagi pemerintah untuk lepas tangan, rakyat bisa bertahan, tapi negara harus hadir.

Cabai memang kecil, tapi dampaknya besar,  dari meja makan sampai meja kebijakan, semua ikut kepanasan. Hidup ini memang pedas, tapi jangan sampai lebih pedas dari harga cabai merah.

Rakyat kecil sudah terbukti mampu bertahan dalam situasi sulit, tapi pemerintah jangan sekadar mengandalkan daya tahan itu, karena kalau rakyat hanya dipaksa resiliensi tanpa solusi nyata, yang tersisa hanyalah pasrah.

Hari itu akan indah bila emak-emak bisa masak sambel tanpa takut dompet jebol, anak bisa makan ayam tanpa harus dianggap anak sultan, dan bapak bisa belanja ke pasar tanpa pulang dengan wajah lebih kusut dari setrikaan. Selama itu belum tercapai, judul berita ini tetap relevan, cabai lebih mahal dari gaji, hidup makin pedas.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • RCBC dan GBG Menangkan 2 Penghargaan untuk inisiatif AI & Pencegahan Penipuan di Asian Banking & Finance Retail Banking Awards 2022

    RCBC dan GBG Menangkan 2 Penghargaan untuk inisiatif AI & Pencegahan Penipuan di Asian Banking & Finance Retail Banking Awards 2022

    • calendar_month Selasa, 27 Sep 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 623
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, SINGAPURA –  Rizal Commercial Banking Corporation (RCBC) dan mitra teknologinya, GBG (AIM:GBG), pakar di lokasi digital, verifikasi identitas, dan perangkat lunak penipuan, telah dianugerahi AI & Machine Learning Initiative dari Tahun – Filipina dan Inisiatif Penipuan Tahun Ini – Filipina pada Penghargaan Perbankan Ritel Asian Banking & Finance (ABF) 2022. Penghargaan Perbankan Ritel ABF […]

  • Allianz: Pasca Covid-19, Perusahaan Konstruksi Diperkirakan Bakal Tumbuh 7 – 8% per Tahun

    Allianz: Pasca Covid-19, Perusahaan Konstruksi Diperkirakan Bakal Tumbuh 7 – 8% per Tahun

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.417
    • 0Komentar

    PASAR Infrastruktur Asia Pasifik Diperkirakan Bakal Tumbuh 7 – 8% per Tahun selama dekade berikutnya. Kekurangan bahan dan tenaga kerja terampil saat ini menambah tantangan jangka panjang seputar desain, bahan, dan metode pembangunan baru yang didorong oleh strategi keberlanjutan dan nol bersih. Analisis AGCS terhadap klaim konstruksi dan rekayasa senilai €11 miliar selama lima tahun […]

  • Jokowi Resmikan 5 Venue di JSC

    Jokowi Resmikan 5 Venue di JSC

    • calendar_month Minggu, 15 Jul 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 985
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Palembang – Hari kedua kunjungan kerjanya di Palembang Sabtu (14/7/2018), Presiden RI Joko Widodo melakukan serangkaian kegiatan. Tak hanya meninjau dan meresmikan pembangunan serta renovasi 5 venues olahraga di Jakabaring Sport City (JSC). Lima venues yang ditinjau dan diresmikan orang nomor satu di Indonesia tersebut masing-masing yakni, venue Bowling, Shooting Range, Skateboard, Volley Beach […]

  • Ini Bukan Bakso, Tapi Baksos Ceritanya..PPNI & Karang Taruna OKI Lakukan Kegiatan untuk Bantu Warga Perairan

    Ini Bukan Bakso, Tapi Baksos Ceritanya..PPNI & Karang Taruna OKI Lakukan Kegiatan untuk Bantu Warga Perairan

    • calendar_month Jumat, 26 Agt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 669
    • 0Komentar

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) bersama Karang Taruna Kabupaten Ogan Komering Ilir menggelar bakti sosial dan khitanan massal bagi anak-anak di wilayah perairan Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kamis, (25/8/2022) Ketua PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kabupaten OKI, Ahmad Fahmi mengatakan kegiatan bakti sosial dan khitanan massal ini bertujuan memberikan layanan terbaik kepada […]

  • Gaet Perguruan Tinggi, Ubah Prilaku Masyarat untuk Jadi Penghasil

    Gaet Perguruan Tinggi, Ubah Prilaku Masyarat untuk Jadi Penghasil

    • calendar_month Kamis, 3 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.734
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) Gubernur Sumsel  H Herman Deru menggandeng lembaga perguruan tinggi salah satunya Universitas Sriwijaya. Pada saat menghadiri  Dies Natalis  Unsri ke-62, di Graha Sriwijaya Unsri Palembang, Kamis (3/11), Gubernur  Herman Deru menyebut GSMP  merupakan satu cara  merubah maindset masyarakat yang tadinya membeli menjadi penghasil. Karena itu  dibutuhkan […]

  • DPO Komandan Operasi KKB Kodap XVI Wilayah Yahukimo Diringkus Polisi, Ini Kronologisnya

    DPO Komandan Operasi KKB Kodap XVI Wilayah Yahukimo Diringkus Polisi, Ini Kronologisnya

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 896
    • 0Komentar

    PADA hari Sabtu tanggal 27 November 2021 Pukul 10.40 Wit, bertempat diseputaran PT Indopapua Jalan Gunung Distrik Dekai Kabupaten Yahukimo, personil gabungan Satgas Nemangkawi dan Polres Yahukimo berhasil melakukan penangkapan terhadap DPO Komandan Operasi KKB Kodap XVI Wilayah Yahukimo an. Demius Magayang alias Temius Magayang. Kronologis penangkapan: Pada hari dan tanggal tersebut diatas pukul 10.40 […]

expand_less
WordPress Archive Evendo – Event & Conference WordPress Theme Eveng - Event Catering Services Elementor Pro Template Kit Evenio – Event Conference WordPress Theme Evenizer – Event Planner & Organizer Elementor Template Kit Event Booking for WooCommerce Event Booking Pro : byDay Calendar Add on Event Booking Pro : Event Slider Addon Event Calendar – PHP/MYSQL Plugin Event & Conference WordPress Theme Event Espresso Core Events registration and ticketing