Minggu, 18 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Musik & Film » “Cangkang Kecil, Gaung Global, The Atlantis Mussels Bikin Dunia Melirik Kampung Kita”

“Cangkang Kecil, Gaung Global, The Atlantis Mussels Bikin Dunia Melirik Kampung Kita”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
  • visibility 604
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI negeri tempat angin laut lebih setia daripada janji-janji kampanye, muncul sebuah film dokumenter berjudul The Atlantis Mussels, sebuah karya yang sukses membuat Wakil Menteri Ekraf Irene Umar berkaca-kaca, bukan karena efek AC Museum Bahari, tapi karena terharu melihat kerang bisa bicara tentang perubahan iklim lebih lantang daripada rapat kabinet.

Bayangkan, di saat sebagian dari kita masih sibuk meributkan siapa yang lebih cepat viral antara TikTok dan toples lebaran, film ini malah sukses melenggang ke Cannes Film Festival 2024. Ya, Cannes, saudara-saudara! Tempat di mana sutradara kelas dunia berdesakan dengan jurnalis, dan satu langkah keliru bisa membuat sepatu hak tinggi tersandung karpet merah sejarah.

Senada Films, rumah produksi yang dikelola oleh alumni UMN, seakan-akan berkata “Jika Jakarta perlahan tenggelam, maka biarlah karya kami yang mengapung dan membuka mata dunia”. Dan benar saja, dengan layar tancap ala kampung, mereka mengajak penonton menyelam bukan sekadar ke dasar laut, tapi ke dalam hati nurani.

Film ini tidak sekadar bicara soal kerang. Ia bicara soal kehidupan. Tentang nelayan Kampung Kerang Hijau yang tak lagi tahu apakah air pasang datang karena bulan atau karena perubahan iklim yang makin tak tahu diri.

Dalam film itu, kerang mungkin diam. Tapi diam-diam, ia menyuarakan jeritan para pesisir. Semacam bentuk “pasif-agresif” ekologis, kalau kata anak indie. Kita tahu, ketika laut mulai naik pitam, itu bukan hanya urusan pinggir pantai. Itu urusan seluruh peradaban.

Ada pepatah lama, “Air tenang menghanyutkan”. Tapi di Jakarta, air tenang bisa jadi sinyal tsunami kebijakan yang telat dibuat.

Film ini menampar kita dengan lemah lembut, seperti emak-emak di warung suara pelan, tapi sarat makna, dan lucunya, tamparan itu membuat kita mikir, kok bisa ya, isu lingkungan jadi lebih seksi setelah diangkat lewat dokumenter?. Mungkin karena beda dengan berita di TV, film dokumenter bisa bikin kita nonton sambil nyengir, bukan nyindir.

Wamen Ekraf Irene Umar bahkan mengatakan, “Let’s continue to make good movies…” Sebuah ajakan yang terdengar seperti puisi, tapi sesungguhnya adalah ajakan perang -perang melawan kebijakan yang lambat tanggap terhadap perubahan iklim.

Kalau biasanya film pendek hanya jadi pelengkap daftar pemutaran, The Atlantis Mussels justru tampil sebagai pembuka pikiran.

Dengan durasi pendek, ia melompati batas-batas geografis dan mentalitas. Diperkuat dukungan dari Indonesia Heritage Agency (IHA), serta program Bahari On Screen dari Museum Bahari, film ini mematahkan anggapan bahwa anak muda hanya bisa buat konten dance di Instagram. Ternyata, mereka bisa bikin Cannes terdiam.

Sebagaimana kata Azyd Aqsha Madani, produser film ini “Saya ingin film ini menjadi awareness dan memengaruhi para pemimpin sebagai policy makers”

Sebuah keinginan yang mungkin terdengar utopis, tapi hei bukankah utopia itu tempat tujuan setiap film dokumenter yang baik?

Kalau kerang bisa membentuk mutiara dari luka, maka manusia juga bisa membentuk perubahan dari kesadaran. Dari layar tancap ke layar Cannes, dari kampung ke konferensi iklim, film ini menyampaikan satu pesan penting “Perubahan iklim bukan isu lingkungan, ini isu peradaban”

Dan seperti kata kakek saya yang dulu suka mancing di rawa-rawa yang kini sudah jadi perumahan elit “Kalau laut sudah tak bisa dipercaya, jangan-jangan kita yang terlalu lama mempermainkannya”

The Atlantis Mussels bukan hanya sebuah film pendek. Ia adalah kartu undangan bagi kita semua untuk berpikir panjang.

Ia adalah kentongan digital yang membangunkan kita dari tidur panjang kesadaran ekologis. Jika selama ini kita mengira perubahan iklim hanya terjadi di kutub utara dan film Hollywood, maka film ini memberi tahu kita perubahan itu sudah tiba di dapur, di tambak, di kampung kita sendiri.

Maka, seperti kata bijak para editor film dokumenter “Potonglah yang tak penting, perjelas yang bermakna”. Begitulah seharusnya kita menyusun kebijakan bukan penuh adegan drama, tapi sarat dengan pesan nyata.

Salam dari kampung kerang yang sedang berjuang, semoga bukan kita yang nanti tenggelam, tapi kesombongan kita terhadap alam.[***]

Catatan Kaki:
Kalau Anda tak sempat nonton The Atlantis Mussels, minimal sempatlah untuk berpikir—berapa lama lagi kita bisa bertahan sebelum laut menyapu seluruh pepatah?

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rapat Asian Games, Jokowi Minta Sisa Waktu Dipersiapkan 100%

    Rapat Asian Games, Jokowi Minta Sisa Waktu Dipersiapkan 100%

    • calendar_month Rabu, 7 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.018
    • 0Komentar

    “Kita harus segera siap seratus persen, ada beberapa hal yang saya tekankan disini,”

  • Porsadin Sumsel 2024 :Palembang berhasil menjadi Juara Umum 1 dan peraih medali emas terbanyak

    Porsadin Sumsel 2024 :Palembang berhasil menjadi Juara Umum 1 dan peraih medali emas terbanyak

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.582
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Kontingen Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang berhasil menjadi Juara Umum 1 dan peraih medali emas terbanyak dalam Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) Sumatera Selatan 2024. Kontingen Palembang memperoleh total 23 medali dari sebanyak 30 tangkai lomba putra dan putri. Medali emas sebanyak 16 medali yang terdiri dari tunggal putra tenis meja, tenis […]

  • Sabotase Pipa Pertamina EP, Negara di Rugikan dan Warga Kena Imbasnya

    Sabotase Pipa Pertamina EP, Negara di Rugikan dan Warga Kena Imbasnya

    • calendar_month Selasa, 22 Mei 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.500
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Palembang – Public Relation PT Pertamina EP Roberth Marchelino Verieza menilai negara kerap dirugikan, bahkan akibat   illegal drilling terhadap sumur-sumur minyak tua milik Pertamina EP itu warga yang tak bersalah menanggung imbasnya. Menurutnya seperti kebocoran pipa yang kerap berulang kali di wilayah kerja Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field di Kabupaten Pali (Penukal Abab Lematang Ilir) […]

  • “Wisuda Poltekpar Medan, Toga Siap Ngacak Dunia Pariwisata”

    “Wisuda Poltekpar Medan, Toga Siap Ngacak Dunia Pariwisata”

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.288
    • 0Komentar

    SABTU akhir pekan ini, Gedung Dome Serbaguna Poltekpar Medan kayak pasar kaget versi akademik, ratusan wisudawan berbaris rapi, wajah sumringah tapi mata merah, mungkin karena skripsi atau kebiasaan begadang. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa hadir langsung, tatapannya serius tapi ramah, seolah bilang, “Anak-anak, perjuangan kalian nggak sia-sia, tapi dunia nyata lebih kejam daripada dosen […]

  • Istri Bupati Banyuasin Ajak Emak-emak Manfaatkan Sampah Untuk Pupuk Kompos

    Istri Bupati Banyuasin Ajak Emak-emak Manfaatkan Sampah Untuk Pupuk Kompos

    • calendar_month Kamis, 10 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.034
    • 0Komentar

    KETUA TP PKK Banyuasin Dr Fitriani Askolani mengajak emak-emak dapat memanfaatkan sampah menjadi bahan yang bermanfaat, seperti pembuatan pupuk kompos. Hal itu dilontarkannya saat menghadiri acara Pertemuan rutin Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Banyuasin, Kamis [10/10/2019]. Dia berharap dengan pemanfaatan sampah rumah tangga ini dapat mengurangi sampah rumah tangga. “Ide ini sangat tepat dan saya pribadi maupun […]

  • Kain Batik Durian Lubuk Linggau Ikut Pameran Kriyanusa 2019

    Kain Batik Durian Lubuk Linggau Ikut Pameran Kriyanusa 2019

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.568
    • 0Komentar

    “Sekarang batik durian ini semakin berkembang di daerah. Bahkan diminati masyarakat. Semoga ini menjadi permulaan kami untuk terus mempopulerkan kain ini dan mengembangkannya menjadi kain kebanggaan Lubuk Linggau,”

expand_less
WordPress Archive Cityvile – City Government & Municipal Elementor Template Kit Civi - Job Board WordPress Theme Civlo – Lawyer & Law Office Elementor Template Kit CiyaShop - Responsive Multi-Purpose WooCommerce WordPress Theme Ciz News – Magazine & Blog Theme Cizarua – Responsive One Page Portfolio Theme CK – Lawyer Template Kit CL Team – Team Showcase WordPress Plugin Claire – Personal Portfolio Elementor Template Kit Clamby – Fashion Ecommerce Elementor Template Kit