Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Uncategorized » Berdayakan Penggiat Sektor Informal dengan Budaya ‘Merangkul’  

Berdayakan Penggiat Sektor Informal dengan Budaya ‘Merangkul’  

  • account_circle Nasir Nasir
  • calendar_month Senin, 1 Mar 2021
  • visibility 1.560
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIDAK  semua penggiat sektor informal memiliki sumber daya terbatas dan subsistem. Pola saat ini menunjukkan kecenderungan sektor informal diminati oleh tenaga kerja terdidik. Oleh karena itu, pemberdayaan ‘sektor informal potensial’ merupakan hal yang perlu dilakukan.

Menurut ILO (2015) salah satu upaya meningkatkan usaha informal adalah dengan cara formalisasi. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pekerjaan layak dan kesetaraan bagi setiap lapisan masyarakat seperti yang tertuang pada tujuan SDGs 2030.

Formalisasi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, sebab memerlukan pendekatan yang persuasif dan humanis. Apalagi jika formalisasi yang dimaksud lebih berorientasi pada aspek hukum. Tentu saja banyak pertimbangan rasionalitas pada pengiat sektor informal untuk melakukannya, seperti beban pajak/retribusi, standar kerja dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, paradigma “Merangkul’ bukan ‘Memukul’, saya coba tawarkan untuk memandang keberadaan penggiat sektor informal. Sebuah paradigma yang bersifat ‘menghargai’ keberadaan penggiat sektor informal sebagai sebuah usaha manusia untuk bertahan hidup, mandiri, tanpa berpangku tangan.

Sampai saat ini lebih dari setengah pekerja Indonesia adalah penggiat sektor informal. Jenis pekerjaan ini meskipun termarginalkan namun selalu eksis di tengah kondisi apapun. Terlebih lagi di era krisis dan pandemi seperti sekarang ini. Ia menjadi penyangga bagi perekonomian masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah.

Oteng-Ababio, dkk  dalam artikelnya berjudul “‘Informal Exceptionalism?’ Labour Migrants’ Creative Entrepreneurship for Sustainable Livelihoods in Acrra, Ghana” yang dipublish pada Journal of Asian and African Studies, Vol. 54, No. 1, Tahun 2019, menyatakan bahwa sektor informal merupakan salah satu cara masyarakat menengah ke bawah untuk bertahan dan keluar dari kemiskinan.

Ya, saat ini malah sektor informal bukan lagi hanya sekedar pekerjaan sampingan atau ‘batu loncatan’ bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah dengan sumber daya terbatas. Sejak diagendakanya pendidikan entrepreneurship pada skala pendidikan tinggi pasca krisis ekonomi berkepanjangan, jumlah pekerja terdidik yang masuk ke sektor informal pun mulai cenderung mengalami peningkatan.

Apalagi saat ini, bonus demografi tengah menjadi tantangan bagi para pencari kerja untuk bersaing mendapatkan pekerjaan layak. Tingginya angka pencari kerja yang tidak sebanding dengan lapangan kerja layak, merupakan salah satu alasan rasional bagi pencari kerja untuk beralih ke sektor informal.

Pada periode 2010-2020, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia meningkat sebesar 4,63 persen. Dari  yang sebelumnya 66,09 persen pada 2010 menjadi 70,72 persen pada 2020 (BPS, 2021). Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia tengah berada pada puncak bonus demografi, di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari pada penduduk usia non produktif (< 15 tahun dan 64+).

Kondisi ini membuat tantangan pemerintah untuk menyediakan pekerjaan layak untuk semua lapisan masyarakat menjadi semakin besar. Bonus demografi harus disikapi dengan tepat supaya benar-benar menjadi sebuah bonus bagi pembangunan ekonomi, baik skala mikro ataupun makro.

Berdasarkan paradigma positif, meningkatnya minat pekerja terdidik masuk di sektor informal dapat menjadi angin segar di tengah bonus demografi. Harapannya, dengan banyak pekerja terdidik di sektor informal akan membuat percepatan transformasi ekonomi digital bagi pelaku UMKM, khususnya yang masih bergerak secara informal.

Perubahan ini menyebabkan sektor informal yang selama ini bersifat tradisional menjadi lebih modern dan berpotensi untuk mejadi usaha skala menengah atau pun besar. Selain itu, dampak kemajuan teknologi di era disrupsi membuat perkembangan usaha informal menjamur pada segala bidang. Seorang ibu rumah tangga di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga dapat memperoleh penghasilan yang lumayan besar dengan memanfaatkan teknologi untuk berjualan atau menawarkan jasa.

Prosesnya berlangsung begitu cepat dan tak terlihat, sehingga tak ada yang menyadari potensi ekonomi yang dihasilkan oleh para ibu rumah tangga.

 

Komunitas

Melihat perkembangan sektor informal yang sedemikian masif, maka sudah sepatutnya pemerintah dan segenap pihak yang berkepentingan untuk mengubah pola pikir, yakni ‘merangkul’ bukan ‘memukul’. Ya, selama ini penggiat sektor informal seringkali mengalami tindakan yang tidak menyenangkan, mulai dari pengusiran, penggusuran, kekerasan, atapun pelecehan.

Oleh karena itu, sebagai alat menampung aspirasi dan potensi pengiat sektor informal, perlu dibentuk sebuah komunitas pengiat informal yang bertujuan sebagai wadah berbagi pengalaman, belajar dan pendataan.

Pemberdayaan

Masing-masing penggiat sektor informal memiliki tingkat atau level usaha yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat berdasarkan karakteristik yang dimilikinya. Oleh sebab itu, diperlukan pemberdayaan sektor informal sebagai alat untuk meningkatkan karakteristik-karakteristik yang dinilai potensial, sehingga pengiat sektor informal dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih baik.

Insentif

Klasifikasi penggiat sektor informal yang disertai perlakuan khusus pada masing-masing tingkatan akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil (formalisasi). Penggiat sektor informal hendaknya didampingi secara optimal sehingga pada waktunya nanti dapat diusahakan menjadi sektor formal.

Sebagai upaya untuk memotivasi penggiat sektor informal, maka perlu diberikan insentif kepada pengiat sektor informal yang dinilai potensial untuk berkembang. Tentunya, proses pendampingan tidak terhenti, namun harus secara berkelanjutan.

Orientasi pembangunan saat ini harus mulai memprioritaskan aspek kependudukan, khususnya ketenagakerjaan dan sektor informal. Sebab, sampai sejauh ini sektor informal tetap menjadi strategi bertahan hidup populer di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di tengah bonus demografi dan pandemi Covid-19.[***]

 

Penulis,

Dr. Armansyah, S.Pd., M.Si

Dosen dan Peneliti Bidang Geografi Kependudukan pada Program Studi Pendidikan Geografi Universitas PGRI Palembang

 

  • Penulis: Nasir Nasir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penguatan Desa Wisata untuk Kuatkan Pariwisata Nasional

    Penguatan Desa Wisata untuk Kuatkan Pariwisata Nasional

    • calendar_month Minggu, 14 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.860
    • 0Komentar

    MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, terus mendorong penguatan desa-desa wisata sebagai salah satu kekuatan pariwisata nasional sehingga dapat membuka lapangan kerja dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Salah satunya melalui penguatan atraksi berbasis narasi (storynomic tourism) sehingga dapat menimbulkan daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Menparekraf Sandiaga dalam kunjungan […]

  • Sssttt, jangan berisik ada paripurna, ini yang dilaporkan Bupati OKI dihadapan wakil rakyat  

    Sssttt, jangan berisik ada paripurna, ini yang dilaporkan Bupati OKI dihadapan wakil rakyat  

    • calendar_month Jumat, 11 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.227
    • 0Komentar

    DEWAN Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan menggelar rapat paripurna nota penjelasan mengenai Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020 di Ruang Rapat Paripurna DPRD OKI, Kamis (10/6/2021). Rapat paripurna tersebut dipimpin langsung oleh ketua DPRD OKI, Abdiyanti Fikri, S.H.,M.H dan dihadiri Wakil-wakil Ketua serta […]

  • Budaya Sehat Jamu Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO

    Budaya Sehat Jamu Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO

    • calendar_month Kamis, 7 Des 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.240
    • 0Komentar

    ​ Sumselterkini.co.id, – Kasane, Botswana –  Komite Konvensi Warisan Budaya Takbenda/WBTB (Intangible Cultural Heritage/ICH) UNESCO telah menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada (6/12). Budaya Sehat Jamu menjadi WBTB Indonesia ke tiga belas yang berhasil diinskripsi ke dalam daftar WBTB UNESCO. Sebelumnya, Indonesia telah menginskripsi dua belas elemen budaya lainnya sebagai WBTB UNESCO, yaitu […]

  • OKI Optimistis Raih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2021

    OKI Optimistis Raih Anugerah Parahita Ekapraya (APE) 2021

    • calendar_month Kamis, 25 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 869
    • 0Komentar

    KABUPATEN Ogan Komering Ilir (OKI) terpilih menjadi nominasi penerima penghargaan  Anugerah Parahita Ekapraya (APE) tahun 2021 yang digelar oleh Kementerian Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen PPPA RI). Anungrah Parahita Ekapraya (APE) merupakan penghargaan yang diberikan kepada kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang dinilai telah berkomitmen mengimplementasikan strategi pengarusutamaan gender sesuai dengan Inpres […]

  • Palembang Kota Tua, Kenapa Senimannya Tak Bertuan?

    Palembang Kota Tua, Kenapa Senimannya Tak Bertuan?

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 523
    • 0Komentar

    PALEMBANG ini kotanya tua, bukan tua renta, tapi tua berpengalaman, jadi se -usia udzur ini Palembang sudah kenyang makan sejarah, dari Sriwijaya yang harum sampai Kesultanan Palembang Darussalam yang masyhur. Tapi anehnya, di usia setua ini, Palembang masih sering lupa satu hal penting mengurus orang-orang yang menjaga jiwanya. Ya, siapa lagi kalau bukan seniman. Kota […]

  • Buka Jalur Istanbul, Bandara Ngurah Rai Bali Tambah Rute Internasional

    Buka Jalur Istanbul, Bandara Ngurah Rai Bali Tambah Rute Internasional

    • calendar_month Kamis, 31 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.435
    • 0Komentar

    BANDARA I Gusti Ngurah Rai-Bali kembali menambah rute penerbangan internasional reguler dengan beroperasinya penerbangan rute Istanbul-Bali pp melalui maskapai Turkish Airlines dengan jadwa tiga kali dalam seminggu. Penerbangan TK66 yang berangkat dari Bandara Istanbul tersebut mendarat di runway Bandara I Gusti Ngurah Rai pada Selasa (29/32022) malam pukul 19.41 WITA setelah menempuh perjalanan selama hampir […]

expand_less
WordPress Archive Harvest WP – Multipurpose Elementor WooCommerce Theme HashBar Pro | WordPress Notification Bar HashMag – Magazine Hashtag – Social Media Agency Elementor Template Kit Hasseland – Real Estate Listing Elementor Template Kit Hasto – Cyber Tech Security Service Elementor Template Kit Hats Virtual Try-on Popup | WooCommerce WordPress Haud – A Creative Portfolio Theme HaveHeart – Fundraising and Charity WordPress Theme Hayden – Kids Store & Baby Shop