Senin, 9 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » Perang AI Dimulai, Anak Muda RI Jangan Jadi Penonton

Perang AI Dimulai, Anak Muda RI Jangan Jadi Penonton

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 54
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DUNIA tengah memasuki era perang artificial intelligence (AI). Persaingan global kini bukan lagi hanya soal sumber daya alam, tetapi perebutan teknologi, data, chip semikonduktor, dan talenta digital. Di tengah cepatnya perkembangan AI itu, generasi muda Indonesia diingatkan agar tidak hanya menjadi pasar dan pengguna teknologi di negeri sendiri.

Apalagi perkembangan AI saat ini memang bergerak sangat cepat. Mulai dari generative AI, agentic AI, hingga robotika berbasis physical AI perlahan mulai masuk ke kehidupan sehari-hari.

Mungkin, banyak orang menganggap AI hanya fitur lucu untuk membuat gambar atau membantu tugas sekolah, padahal dibalik itu semua ada persaingan teknologi raksasa yang sedang berlangsung ditingkat dunia.

Apalagi, negara-negara besar tidak hanya berlomba menguasai sumber daya alam, tetapi juga berebut data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital. Artinya siapa yang menguasai teknologi AI, berpotensi menguasai ekonomi digital masa depan.

Sementara, masyarakat modern juga hidup dalam ruang digital yang semakin dipengaruhi algoritma media sosial. Apa yang disukai akan terus muncul di layar, sementara pandangan berbeda perlahan menghilang.

Oleh karena itu, tanpa sadar, banyak orang akhirnya hidup dalam “ruang gema” digital atau echo chamber, tempat dimana seseorang hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan dirinya sendiri.

Akibatnya, batas antara fakta, opini, hingga manipulasi informasi menjadi semakin tipis. Fenomena ini menjadi perhatian Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.

Menurutnya, generasi muda Indonesia saat ini menghadapi tantangan baru di era digital, yakni dominasi algoritma yang secara perlahan membentuk cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujar Nezar mengutip laman resmi komdigi saat acara Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-79 di Pusat Pengembangan Aparatur Komunikasi dan Digital (Puspa Komdigi), Jakarta Barat, Sabtu (24/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda yang sangat aktif di media sosial.

Nezar bahkan mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun 2026. Situasi ini dinilai semakin berbahaya ketika masyarakat lebih mudah percaya pada sentimen dibanding fakta.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Bonus demografi

Di tengah derasnya perkembangan AI, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting untuk bersaing dalam industri digital global. Apalagi Indonesia juga mempunyai kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi dunia.

Namun, peluang itu bisa hilang begitu saja kalau generasi mudanya hanya menjadi pengguna teknologi tanpa ikut menguasainya.

Ibarat menonton pertandingan sepak bola, Indonesia jangan sampai hanya sibuk membeli tiket dan bersorak di tribun, sementara negara lain menjadi pemain utama di lapangan. Sebab di era AI sekarang, negara yang hanya menjadi pasar teknologi berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Karena itu, Nezar meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics (STEM), sekaligus meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma maupun banjir informasi palsu.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak selalu bergerak netral. AI bisa membantu pendidikan, kesehatan, dan produktivitas manusia, tetapi juga bisa memperkuat manipulasi informasi kalau digunakan tanpa kontrol dan literasi yang baik.

Hari ini mungkin banyak orang merasa perang AI masih terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya sudah masuk ke genggaman tangan melalui media sosial, mesin pencari, hingga aplikasi yang digunakan setiap hari.

Apa yang ditonton, disukai, bahkan dipercaya, perlahan dibentuk oleh sistem yang bekerja diam-diam di balik layar.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang sibuk scroll layar tanpa arah. Di tengah persaingan digital global, kemampuan berpikir kritis, memahami teknologi, dan menguasai ilmu pengetahuan akan menjadi pembeda antara bangsa yang memimpin dan bangsa yang hanya mengikuti.

Sebab di era sekarang, penjajahan tidak selalu datang lewat perebutan wilayah. Kadang ia hadir melalui algoritma, data, dan ketergantungan teknologi yang perlahan membuat manusia kehilangan kendali atas cara berpikirnya sendiri.(***)

 

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pansus II DPRD Prov. Sumsel Sepakati Dua Raperda Pemprov.Sumsel

    Pansus II DPRD Prov. Sumsel Sepakati Dua Raperda Pemprov.Sumsel

    • calendar_month Rabu, 16 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.695
    • 0Komentar

        AKHIRNYA DPRD Prov.Sumsel dan Pemprov. Sumsel mensepakati dua Raperda yang sebelumnya pembahasannya mengalami penundaan. Kesepakatan ini tertuang dalam hasil rapat paripurna ke-XXXI DPRD Sumsel yang ditandatangani antara Ketua DPRD Sumsel, RA Hj Anita Noeringhati,SH,MH dan Gubernur Sumsel, H Herman Deru, dengan agenda Penyampaian Laporan Hasil Pembahasan dan Penelitian Pansus II terhadap dua Raperda […]

  • Ketika APBD Menyempit, Daerah Mulai Lirik “Uang Patungan” Bernama Obligasi

    Ketika APBD Menyempit, Daerah Mulai Lirik “Uang Patungan” Bernama Obligasi

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    DI HOTEL Aston Palembang, Selasa kemarin suasana bukan seperti orang lagi arisan RT yang rebutan doorprize minyak goreng. Namun kalau disederhanakan sedikit dengan gaya kampung, hal ini mirip-mirip “arisan pembangunan,” hanya saja yang dibahas bukan iuran 50 ribu per orang, melainkan skema besar bernama obligasi daerah. Dan di tengah forum Sarasehan Kebangsaan MPR RI itu, […]

  • Medmass vs Medsos: Berebut Pilar

    Medmass vs Medsos: Berebut Pilar

    • calendar_month Sabtu, 9 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.698
    • 0Komentar

    MEDIA massa adalah saluran komunikasi yang memiliki daya ubah luar biasa. Bentuknya, menurut Septiawan Sentana K (2006), di era terkini, terdiri dari media cetak, elektronik, dan online (daring/dalam jaringan). Ketiganya merupakan bentuk media jurnalistik. Jurnalistik membedakan ketiganya ke dalam banyak dimensi. Media cetak (pers), sebagai sejarah awal jurnalistik memiliki media tempat menyalurkan hasil kerja kewartawanannya. Yaitu […]

  • Lantik Pengurus KIM Banyuasin Periode 2019-2022, Ini Harapan Askolani

    Lantik Pengurus KIM Banyuasin Periode 2019-2022, Ini Harapan Askolani

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.088
    • 0Komentar

    BUPATI Banyuasin H Askolani SH, MH melantik Pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Banyuasin Masa Kerja Tahun 2019 – 2022 di Ruang Auditorium Kabupaten Banyuasin, Jum’at (13/12/2019). H Askolani menjelaskan KIM Banyuasin dibentuk Pemkab Banyuasin melalui Dinas Komunikasi dan Informatika, keberadaannya memiliki peran sangat penting dalam proses pembangunan bangsa, khususnya di Banyuasin. “Karena KIM merupakan […]

  • Penembak Putri Indonesia Gagal Melangkah ke Final  di Paralimpiade Tokyo 2020

    Penembak Putri Indonesia Gagal Melangkah ke Final  di Paralimpiade Tokyo 2020

    • calendar_month Senin, 30 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 708
    • 0Komentar

    WAKIL Indonesia di cabang menembak putri, Hanik Puji Hastuti harus mengakui keunggulan lawan-lawannya setelah ia gagal menjejakkan kakinya di babak final menembak 10 M air rifle standing R2. Pada laga penyisihan yang berlangsung di Asaka Shooting Range itu, Hanik menempati peringkat ke-13 dengan mengumpulkan total poin 614,5. Meski gagal melangkah ke babak final, namun Hanik […]

  • Masih Sering Ditemukan, Gubernur Larang  Bangun Masjid Minta Sumbangan Dijalan 

    Masih Sering Ditemukan, Gubernur Larang  Bangun Masjid Minta Sumbangan Dijalan 

    • calendar_month Rabu, 29 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 615
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan  (Sumsel) H Herman Deru mengharapkan para pengurus masjid untuk tidak mengikuti hawa nafsu dalam pembangunan masjid apalagi sampai meminta-minta sumbangan dijalan. “Dalam membangunan rumah ibadah para pengurus masjid  harus  proporsiaonal artinya menyesuaikan dengan kebutuhan, dan tidak menuruti hawa nafsu. Sebab tidak ada gunakannya masjid bagus dan megah kalau jemaahnya sepi,” ucap Gubernur […]

expand_less
WordPress Archive Kids – Baby Shop & Store WooCommerce Theme Kids Care | Children WordPress Theme Kids – Day Care & Kindergarten WordPress Theme for Children Kids – Kindergarten & Child Care Elementor Template Kit Kids Zone - Children WordPress Theme Kidscamp – Kids Bootcamp WordPress Theme KidsJoy – Kindergarten & Preschool WordPress Theme Kidso – Modern Kindergarten WordPress Theme Kidster – Preschool & Childcare Elementor Template Kit Kidsy – Kids Store and Baby Shop WooCommerce WordPress Theme