Penipuan AI, Suara Keluarga Bisa Dipalsukan, Waspada!
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 19 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Penipuan AI saat ini menjadi perhatian serius dalam keamanan digital menyusul teknologi kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan untuk meniru suara, memalsukan identitas, hingga membuat instruksi palsu yang tampak meyakinkan.
Oleh sebab itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan, ancaman siber tidak lagi hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga kepercayaan manusia.
Perubahan ini membuat masyarakat menghadapi risiko baru dalam aktivitas digital sehari-hari. Panggilan telepon yang terdengar seperti suara anggota keluarga atau pesan yang seolah-olah berasal dari pimpinan dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi korban.
Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Komdigi, Raden Wijaya Kusumawardhana, mengatakan perkembangan AI telah mengubah karakter ancaman digital. Menurut dia, pelaku tidak selalu harus membobol sistem untuk melancarkan serangan.
“Ancaman digital pun tidak lagi selalu dimulai dari upaya membobol sistem. Terkadang ancaman justru dimulai dari upaya memanipulasi manusia yang menggunakan sistem tersebut,” ujar Wijaya saat mewakili Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
AI dapat membantu mendeteksi anomali, menganalisis ancaman, dan mempercepat respons terhadap insiden keamanan siber. Namun, teknologi yang sama juga bisa disalahgunakan untuk menghasilkan konten deepfake, menyamarkan identitas, serta menyusun penipuan yang lebih meyakinkan.
Menurut Wijaya, dengan masalah itu dapat memperluas sasaran serangan hingga mencakup identitas, informasi, dan kepercayaan masyarakat.
Oleh karena itu, perlindungan keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan perangkat dan sistem teknologi.
Komdigi menilai penguatan literasi digital perlu berjalan seiring dengan kesiapan kelembagaan dan tata kelola yang memadai. Masyarakat perlu mampu memverifikasi identitas, mengenali informasi mencurigakan, menjaga data pribadi, serta memahami risiko penggunaan AI.
“Kami memandang kemampuan masyarakat untuk mengenali penipuan, melindungi identitas, memahami risiko AI, dan menjaga keamanan informasi perlu terus menjadi bagian dari penguatan kapasitas digital nasional,” kata Wijaya.
Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, pemerintah menekankan pentingnya tata kelola AI berbasis risiko.
Langkah ini mencakup pengujian keamanan, akuntabilitas sistem, serta pengembangan kemampuan nasional untuk mengantisipasi pola serangan baru.
Penggunaan AI dalam pertahanan siber juga perlu disertai pengawasan manusia agar manfaat teknologi tetap berjalan seiring dengan pengendalian risiko penyalahgunaan.
“Keamanan siber pada era AI membutuhkan pendekatan yang lebih luas yang menggabungkan kemampuan teknologi, tata kelola, kesiapan kelembagaan serta kesadaran masyarakat,” ujarnya. (***) diolah dari sumber resmi komdigi
- Penulis: Irwan Wahyudi
